Kadin Indonesia Mewanti-wanti Pelemahan Permintaan Global
Industri berorientasi ekspor di Indonesia mulai mengalihkan penjualan ke pasar domestik akibat pelemahan permintaan global. Hal ini disampaikan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, yang menilai bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi pelaku industri.
Laporan terbaru dari S&P Global menunjukkan bahwa ekspansi Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur pada awal tahun ini didorong oleh perekonomian domestik, sementara permintaan ekspor baru mengalami kontraksi. Dalam hal ini, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menjelaskan bahwa pelaku industri cenderung mengalihkan penjualan ke pasar domestik yang masih kuat.
“Artinya, ekspansi PMI saat ini bersifat inward-looking, lebih ditopang pasar domestik daripada ekspor,” kata Saleh kepada Bisnis, Senin (2/2/2026). Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 70% output nasional diserap oleh pasar dalam negeri dan sisanya untuk ekspor.
Penurunan Ekspor ke Pasar Tradisional
Pelemahan ekspor terjadi di beberapa pasar tradisional utama. Merujuk data ekspor nonmigas kumulatif Januari–Desember 2025, ekspor ke Jepang (-16,59%) senilai US$15 miliar, India (-10,07%) senilai US$18,3 miliar, dan Australia (-24,20%) senilai US$3,89 miliar. Ketiga negara ini selama ini penting bagi produk manufaktur dan berbasis komoditas antara.
Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan China masih tumbuh secara kumulatif, tetapi momentum bulanannya melemah (kontraksi year-on-year pada November 2025) sehingga tidak cukup kuat untuk mengimbangi pelemahan pasar lain.
Pertumbuhan Ekspor Industri Pengolahan
Sepanjang 2025, nilai ekspor industri pengolahan pada Januari-Desember 2025 mencapai US$227,10 miliar atau naik 14,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$198,40 miliar. Adapun, ekspor di industri pengolahan yang naik cukup besar pada komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber dari pertanian, logam dasar bukan besi, serta dari semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.
Secara bulanan, ekspor industri pengolahan juga meningkat 19,25% menjadi US$21,17 miliar pada Desember 2025, dibandingkan Desember 2024 yang hanya mencapai US$17,75 miliar. Kontraksi ekspor ke Jepang, India, Australia juga masih terjadi sepanjang 2025. Kendati demikian, total ekspor nonmigas masih tumbuh 7,66% menjadi US$269,84 miliar pada Januari-Desember 2025.
Tantangan dan Prospek Industri Berorientasi Ekspor
Meski mengalami pertumbuhan positif, prospek pasar global masih dinilai tak pasti untuk industri berorientasi ekspor seperti otomotif tertentu, alas kaki, elektronik ekspor, berbasis komoditas tambang yang masih menghadapi idle capacity akibat kontraksi permintaan luar negeri.
“Secara umum rata-rata utilisasi nasional naik terbatas, tidak cukup kuat untuk memicu ekspansi investasi besar atau perekrutan tenaga kerja secara lebih luas,” jelasnya.
Namun, sejumlah industri masih menunjukkan ekspansi sehingga memacu PMI manufaktur ke level 52,6 pada Januari 2026 atau naik dari bulan sebelumnya 51,2. “Kenaikan PMI dan pesanan domestik mendorong utilisasi kapasitas naik secara selektif, tetapi belum merata. Industri yang market-oriented domestik, makanan-minuman, farmasi, barang konsumsi, sebagian logam dasar, cenderung meningkat utilisasinya,” pungkasnya.
Bagikan ke:
