Gambar produk usaha. Foto: Dok. Istimewa.
Perjalanan Strawberry Patch dalam Bisnis Kerajinan Tangan
Strawberry Patch, sebuah label produk kerajinan tangan yang berfokus pada dekorasi rumah dan apparel anak-anak, telah menjadi salah satu contoh sukses dalam dunia usaha kecil. Didirikan oleh Ayu Husodo pada tahun 2007, perusahaan ini bermula dari pengalaman panjangnya di bisnis berbasis kain. Awalnya, fokus utama Strawberry Patch adalah produk untuk anak-anak dan keluarga, sehingga distribusi dilakukan melalui gerai ritel dan stockist.
Pengembangan bisnis berjalan secara bertahap. Produk Strawberry Patch yang dipasarkan baik secara online maupun offline mulai menarik perhatian pasar global. Pada tahun 2024, perusahaan ini memutuskan untuk membuka jalur ekspor. “Sejak 2024, saya masuk ke pasar ekspor Jepang dan Australia dengan langsung bekerja sama dengan stockist di negara tujuan tanpa melalui perantara,” ujar Ayu.
Meskipun sudah merambah pasar ekspor, Strawberry Patch saat ini masih berada di kategori usaha mikro. Seluruh produk mereka dibuat secara handmade, dengan desain, motif, dan kombinasi kain menjadi nilai jual utama. Namun, hal ini juga membatasi kapasitas produksi. Dalam kondisi normal, Strawberry Patch mampu memproduksi hingga sekitar 500 unit produk handmade per bulan, tergantung jenis dan tingkat kerumitannya. Proses produksi didukung oleh lima karyawan tetap di bagian produksi.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Ayu berencana menjalin kerjasama dengan Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Selatan. Rencananya adalah merekrut lulusan pelatihan kerja agar kapasitas produksi bisa bertambah.
Harga produk Strawberry Patch berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 500.000 per unit. Produk yang ditawarkan meliputi kids batik apparel, aksesori handmade, dekorasi rumah, kitchen linen, dan berbagai tas lipat.
Ayu pernah memiliki flagship store di Kemang Village, Jakarta, pada periode 2012–2019, serta menjalin kerjasama dengan sejumlah ritel seperti Toys City Pondok Indah Mall dan Alun-Alun Indonesia. Namun, seluruh toko fisik tersebut harus tutup pada masa pandemi Covid-19.
Saat ini, produk Strawberry Patch kembali dipasarkan melalui berbagai stockist, antara lain di Alun-Alun Indonesia, Pendopo Alam Sutera, dan Titan Baking Fatmawati. Ayu juga menargetkan masuk ke Sarinah pada tahun ini.
Sejauh ini, Strawberry Patch mencatat penjualan sekitar 200–300 item per bulan, dengan omzet tahunan di kisaran Rp 300 juta hingga Rp 400 juta. Kinerja tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil dari tahun ke tahun.
Dengan hasil itu, Strawberry Patch menargetkan pertumbuhan bisnis secara bertahap. Langkah-langkah yang akan diambil meliputi optimalisasi produksi, penguatan pasar ekspor Jepang dan Australia, serta perluasan pasar lokal. Dengan strategi ini, Strawberry Patch berharap dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi industri kerajinan tangan di Indonesia.
Bagikan ke:
