Sanksi bagi 12 Siswa SMK yang Mengeroyok Guru Bahasa Inggris
Sebanyak 12 siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, kini telah diberikan sanksi terkait insiden pengeroyokan terhadap guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra. Insiden ini terjadi di SMKN 3 Berbak dan menarik perhatian publik setelah video kejadian viral di media sosial.
Setelah kejadian tersebut, guru Agus melaporkan insiden ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dan Polda Jambi. Setelah proses mediasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, kejaksaan, kepolisian, TNI, pihak sekolah, komite, serta para orangtua siswa, akhirnya diambil keputusan bahwa 12 siswa tersebut harus membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa.
Surat pernyataan ini menjadi bentuk sanksi yang diberikan sebagai upaya edukasi agar tindakan kekerasan tidak terulang di masa depan. Selain itu, belasan siswa juga diminta untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada guru korban.
Kepala Sekolah SMKN 3 Berbak, Ranto M, menjelaskan bahwa aksi pengeroyokan dipicu oleh emosi yang tidak terkendali saat kejadian. Meskipun demikian, pihak sekolah tetap memberikan sanksi sebagai bentuk pembelajaran bagi siswa-siswa tersebut.
Nasib Guru yang Menjadi Korban
Meski sanksi bagi siswa telah ditetapkan, status guru Agus Saputra masih menunggu keputusan lebih lanjut dari otoritas yang lebih tinggi. Terdapat wacana mengenai pemindahan tugas sang guru demi alasan keamanan dan keselamatan setelah insiden tersebut.
Kepala Bidang Sekolah Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Jambi, Harmonis, menyatakan bahwa tim investigasi telah selesai mengambil keterangan dari semua pihak. Namun, keputusan final mengenai penempatan guru tersebut sepenuhnya berada di tangan pimpinan Dinas Pendidikan.
Peristiwa Awal yang Mengakibatkan Kekerasan
Insiden guru dikeroyok siswa SMKN 3 Berbak terjadi pada hari Selasa (13/1/2026) di lingkungan sekolah. Peristiwa berawal dari teriakan “woi” dari dalam kelas oleh siswa bernama Muhammad Luthfi Fadillah saat guru Agus Saputra sedang berjalan di luar kelas.
Versi Siswa: Berawal dari Tamparan di Kelas
Menurut Luthfi, kejadian bermula saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai. Suasana kelas yang sempat ribut membuatnya menegur teman-temannya agar diam dengan berkata “woi, diam”. Teguran tersebut terdengar oleh guru Agus Saputra yang melintas di depan kelas.
Luthfi mengaku menegur guru tersebut dan kemudian ditampar oleh Agus. Ia menjawab dengan sebutan “Prince” karena guru tersebut tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak”.
Ketegangan berlanjut saat para siswa meminta guru Agus Saputra menyampaikan permintaan maaf karena dinilai telah menghina orang tua salah satu siswa. Permintaan tersebut tidak tercapai, hingga mereka dibawa ke kantor sekolah.
Di lokasi tersebut, Luthfi mengaku kembali mendapat ejekan dan kemudian dipukul di bagian hidung. Menurutnya, pukulan itu memicu reaksi spontan siswa lain hingga berujung pada pengeroyokan terhadap guru Agus Saputra.
Versi Guru: Cekcok dan Tantangan Siswa
Saat itu, guru Agus Saputra ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas. Ia masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggilnya seperti itu. Siswa tersebut mengaku dan bahkan menantangnya.
Agus mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. Ketegangan pun berlanjut hingga jam istirahat. Situasi memanas ketika sejumlah siswa mengejar Agus hingga ke halaman sekolah dan melakukan kekerasan fisik.
Guru-guru lain kemudian melerai dan membawa Agus ke ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.
Mediasi Gagal, Berujung Pengeroyokan
Setelah kejadian, dilakukan mediasi di sekolah. Dalam pertemuan itu, siswa meminta Agus menyampaikan permintaan maaf. Di sisi lain, Agus menawarkan solusi berupa petisi untuk mengetahui apakah siswa masih menginginkannya mengajar atau berkomitmen memperbaiki perilaku.
Namun, seusai mediasi, Agus mengaku kembali didatangi siswa lintas kelas saat berada di kantor sekolah. “Di situlah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, 2, dan 3,” katanya.
Ia juga menuturkan ada siswa yang membawa senjata tajam. Beredar juga potongan video Agus Suparta terlihat memegang sabit. Menurutnya, sabit tersebut merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah karena SMKN 3 Berbak merupakan SMK Pertanian.
“Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti,” tegasnya.
Terkait peristiwa itu, Agus mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras. Ia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung. Agus menegaskan tidak melawan, hanya membela diri.
Bagikan ke:
