Harapan dan Doa Jadi Kekuatan Keluarga Ferry Irawan
Di tengah cuaca mendung yang menyelimuti kawasan Pondok Melati, Bekasi, keluarga besar Ferry Irawan terus memantau layar ponsel mereka, menanti kabar baik yang belum juga tiba. Sejak pagi hari, kediaman orang tua Ferry telah dipadati oleh kerabat dan tamu-tamu yang datang untuk memberikan dukungan dan doa.
Meski sebuah tenda sudah berdiri tegak di depan rumah, suasana di sana bukan tentang kepasrahan, melainkan tentang ketabahan menanti kepastian. Keluarga Ferry Irawan, salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Maros, Sulawesi Selatan, tetap berharap bahwa keajaiban masih mungkin terjadi.
Tugas Negara yang Berujung Misteri
Ferry Irawan bukan sekadar penumpang biasa. Sebagai Analis Kapal Pengawas di Ditjen PSDKP, ia sedang mengemban misi mulia: melakukan pengawasan udara untuk menjaga kekayaan laut Indonesia. Bersama Deden Mulyana dan Yoga Noval, Ferry terbang melintasi langit Sulawesi sebelum radar kehilangan jejak pesawat mereka.
“Beliau sedang tugas negara, pengawasan udara. Kami tahu risikonya, tapi kami tetap berharap yang terbaik,” ungkap Tohorin, kerabat korban, di Bekasi, (18/1/2026).
Simpati dari Pimpinan Kementerian
Keseriusan pencarian ini terlihat dari hadirnya jajaran petinggi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Bahkan, Wakil Menteri KKP dilaporkan telah datang langsung ke rumah orang tua Ferry di Bekasi untuk memberikan dukungan moril dan memastikan bahwa kementerian akan terus mendampingi keluarga hingga titik terang ditemukan.
Terkait tenda yang dipasang, pihak keluarga memberikan penjelasan yang menyentuh hati. Tenda tersebut disiapkan bukan sebagai tanda duka, melainkan bentuk penghormatan bagi para tamu dan pejabat yang terus berdatangan untuk memberikan doa di tengah kondisi cuaca yang sering hujan.
Pencarian Masih Berlangsung
Pesawat ATR 42-500 yang dipiloti Capt Andy Dahananto tersebut membawa 10 jiwa saat dinyatakan hilang dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar pada Sabtu (17/1/2026). Hingga detik ini, tim SAR gabungan masih berpacu dengan waktu di medan berat Kabupaten Maros untuk menemukan titik koordinat jatuhnya pesawat atau tanda-tanda keberadaan korban.
Bagi keluarga di Bekasi, waktu seolah berhenti berputar. Bendera kuning belum berkibar, karena bagi mereka, selama belum ada bukti nyata, keajaiban masih sangat mungkin terjadi.
Upaya Pencarian yang Terus Dilakukan
Tim SAR gabungan terus melakukan upaya pencarian dengan berbagai metode, termasuk penggunaan peralatan canggih dan bantuan dari berbagai pihak. Mereka bekerja tanpa henti, meskipun situasi medan dan cuaca tidak mengizinkan.
Keluarga Ferry Irawan tetap berdoa agar semua orang yang hilang dapat ditemukan dengan selamat. Mereka percaya bahwa setiap langkah yang dilakukan oleh tim pencari adalah bagian dari usaha untuk membawa kebahagiaan kembali ke rumah mereka.
Dukungan dari Masyarakat
Selain dari pihak kementerian, masyarakat juga turut memberikan dukungan kepada keluarga Ferry Irawan. Banyak warga yang datang ke rumah orang tua Ferry untuk memberikan doa dan dukungan moral. Mereka percaya bahwa kekuatan bersama dapat membantu proses pencarian dan memberikan kekuatan bagi keluarga.
Dengan harapan dan doa yang tak pernah padam, keluarga Ferry Irawan terus menunggu kabar baik yang mungkin saja datang kapan saja. Mereka tetap percaya bahwa keajaiban masih mungkin terjadi, dan kebenaran akan segera terungkap.
Bagikan ke:
