Tantangan dan Peluang di Sektor Perbankan Indonesia
Sektor perbankan di Indonesia menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2025. Berbagai faktor seperti likuiditas, pertumbuhan kredit, serta kebijakan makroekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi sektor ini. Meskipun begitu, ada harapan untuk pemulihan dalam beberapa bulan mendatang.
James Stanley Widjadja, Analis Henan Putihrai Sekuritas, menyatakan bahwa 2025 merupakan tahun sulit bagi sektor perbankan. Hingga November 2025, sektor ini tertinggal dibandingkan indeks imbal hasil yang mencapai 20,2%. Kondisi ini dipengaruhi oleh likuiditas yang ketat di awal tahun, yang memaksa bank untuk menawarkan suku bunga deposito lebih tinggi agar tetap menjaga cadangan likuiditas dan menahan pertumbuhan pinjaman.
Selain itu, daya beli masyarakat yang lemah berdampak pada penurunan kualitas aset, terutama di segmen usaha kecil dan menengah (UKM) serta konsumen. Hal ini menyebabkan pertumbuhan kredit yang lemah, kompresi Net Interest Margin (NIM), dan biaya penyisihan yang meningkat, sehingga memengaruhi laba per saham atau EPS sektor perbankan.
Menurut James, kinerja buruk harga saham sektor perbankan tidak bisa dilepaskan dari arus keluar dana asing akibat kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi domestik dan ketidakpastian kebijakan setelah transisi pemerintahan Prabowo. Namun, ia optimis bahwa kuartal III 2025 akan menjadi titik balik bagi sektor perbankan.
Pemulihan Kondisi Likuiditas
Data Oktober dan November 2025 menunjukkan adanya perbaikan kondisi likuiditas untuk bank-bank besar. James yakin bahwa hal ini akan memicu pemulihan EPS dalam beberapa kuartal mendatang, meskipun masih ada tantangan terkait imbal hasil aset dan kualitas aset.
Budi Rustanto, Head of Research OCBC Sekuritas, mencatat bahwa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan terbesar selama sepuluh bulan tahun 2025 sebesar 4,4%. Sementara bank-bank besar lainnya mengalami kontraksi. Contohnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkontraksi 10,2%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkontraksi 9,7%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkontraksi 6,3%.
Dari sisi pertumbuhan kredit, BMRI memimpin dengan 11,1%, diikuti BBNI (9,6%), BBCA (7,6%), dan BBRI (5,1%). Budi memperkirakan pertumbuhan kredit akan mencapai sekitar 8% pada akhir tahun 2025 dan 8%-12% pada tahun depan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang membaik.
Prediksi Pertumbuhan Kredit dan Kebijakan Makroekonomi
Budi mengatakan bahwa Bank Indonesia, bekerja sama dengan pemerintah, akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan kredit dan mendukung ekspansi ekonomi yang berkelanjutan. Ia memprediksi bahwa segmen korporasi dan konsumen akan tetap solid, sementara segmen mikro kemungkinan akan pulih pada tahun 2027.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), memproyeksikan kinerja perbankan di awal tahun 2026 relatif stabil dengan kecenderungan membaik. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit positif, likuiditas yang terjaga, serta potensi penurunan suku bunga lanjutan yang mendukung permintaan kredit.
Namun, David melihat tantangan utama datang dari tekanan margin (NIM) akibat penyesuaian suku bunga, potensi kenaikan biaya dana, serta kualitas aset yang perlu dijaga di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya merata.
Proyeksi Laba Bersih dan Rekomendasi Saham
Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan laba bersih sektor perbankan sebesar Rp 205,5 triliun, naik 5,1% year-on-year (yoy) pada tahun 2026. Asumsi ini berbeda dengan konsensus sebesar Rp 215,9 triliun, naik 9,2% yoy.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa konsensus memperhitungkan pemulihan yang lebih cepat dengan ekspansi margin yang lebih besar daripada perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Hal ini menyiratkan risiko pendapatan yang lebih tinggi jika biaya pendanaan menurun lebih cepat, tetapi juga menggarisbawahi risiko penurunan jika pemotongan suku bunga atau normalisasi kredit tidak sesuai harapan.
James memberi peringkat netral untuk sektor perbankan. Meski valuasi saat ini murah, ia menilai pentingnya untuk selektif dalam memilih bank dengan karakteristik berkualitas. James merekomendasikan Buy saham BBCA, BBNI, dan ARTO dengan target harga masing-masing Rp 10.000, Rp 5.000, dan Rp 2.500 per saham.
Budi merekomendasikan Buy saham BBCA, BBRI, dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 11.000, Rp 5.000, dan Rp 5.500 per saham. David merekomendasikan Buy saham BBCA dengan target harga kisaran Rp 10.000 per saham dan Buy saham BMRI dengan target harga kisaran Rp 5.600 per saham. Victor merekomendasikan Buy saham BBCA dan BTPS dengan target harga masing-masing Rp 10.800 dan Rp 1.600 per saham.
Bagikan ke:
