Konflik di Keraton Solo: Kunci yang Terkunci, Budaya yang Terancam
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, menyampaikan kekecewaannya terhadap tindakan pihak Sinuhun Purbaya yang menguasai pintu-pintu strategis di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Menurutnya, tindakan tersebut bukan hanya masalah internal keluarga keraton, tetapi juga berdampak signifikan pada masyarakat dan kelestarian warisan budaya.
Penggantian gembok secara sepihak oleh pihak Purbaya telah menyebabkan penutupan akses bagi wisatawan, termasuk Museum Keraton yang sempat lumpuh sementara waktu. Akibatnya, publik kehilangan hak untuk menikmati warisan budaya yang menjadi bagian dari sejarah Kota Solo. Agenda konservasi bangunan cagar budaya juga terganggu karena akses yang tertutup.
“Digembok-gembok paksa merugikan masyarakat juga mengganggu program konservasi,” tegas KPH Eddy. Ia menekankan bahwa tindakan ini tidak hanya melanggar prosedur, tetapi juga merusak semangat kebersamaan dalam menjaga nilai-nilai budaya.
Balas-Membalas di Gerbang Keraton
Situasi memanas pada Jumat sore (16/1/2026). LDA bersama Maha Menteri KG Panembahan Agung Tedjowulan mengambil langkah tegas dengan mengganti kembali kunci-kunci di sejumlah titik yang sebelumnya dikuasai kubu Purbaya. Aksi ini merupakan respons setelah utusan Pakubuwono XIV Purbaya dikabarkan membongkar gembok lama menggunakan gerinda untuk mendapatkan akses masuk.
Kini, LDA yang berdiri di belakang Pakubuwono XIV Hangabehi melakukan manuver serupa untuk merebut kembali kendali wilayah tersebut. Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik antara dua kubu masih berlangsung tanpa adanya solusi jangka panjang.
Di Balik Pesan Sejuk Wapres Gibran
Ironisnya, drama gembok ini pecah hanya beberapa jam setelah pertemuan kedua kubu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Usai salat Jumat di Masjid Agung, Gibran sempat menyampaikan pesan mendalam agar kondusivitas Kota Solo tetap terjaga.
“Kami titip ke Pak Wali mohon selalu dijaga kondusifitasnya. Aset-aset yang sudah terbangun mohon bisa ter-maintain dengan baik. Kota Solo yang penuh kebudayaan dijaga semua. Itu aja,” ungkap Gibran saat itu. Meski demikian, pesan tersebut tampaknya belum berhasil mencegah eskalasi konflik.
Akar Konflik: Dua Matahari di Satu Langit
Perselisihan ini bermula dari dualitas kepemimpinan pasca-wafatnya Sinuhun Pakubuwono XIII pada November 2025 lalu. Saat ini, Keraton Solo seolah memiliki “dua raja”:
- PB XIV Purbaya: Mendeklarasikan diri saat prosesi pemakaman sang ayah.
- PB XIV Hangabehi: Dinobatkan oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) di Sasana Handrawina.
Hingga saat ini, pintu-pintu kayu jati keraton yang bersejarah itu masih menjadi saksi bisu perebutan legitimasi. Selama kunci dan gembok masih menjadi alat sengketa, masa depan pemugaran dan kenyamanan wisatawan di pusat kebudayaan Jawa ini tetap berada dalam ketidakpastian.
Bagikan ke:
