Jika kamu lahir sekitar tahun 1980 hingga 1999, pasti ingat masa-masa ini. Kita semua pasti ingat banget dulu waktu kecil, sepulang sekolah langsung main kerumah teman. Tidak perlu membuat janji dulu, tidak perlu chat, tidak perlu koordinasi. Ya sudah langsung aja ketok pintu, “Woi, main yuk!” Terus main sampai maghrib. Pulang kalau sudah lapar atau langit sudah gelap. Rasanya, semuanya hanya bermodal insting saja. Tiba-tiba di jam tertentu dengan feeling yang entah datang dari mana, kita semua sudah berkumpl di tempat yang sama dengan niat yang sama.
Semua gratis. Tidak ada yang perlu dibayar.
Sekarang? Bahkan untuk main sama teman saja harus mengeluarkan uang. Tidak mungkin cuma duduk-duduk di rumah doang. Harus ke kafe. Minimal pesan kopi kekinian dengan judul yang bervariasi. Paling murah 25 ribu. Kalau ramai-ramai? Ya udah, siap-siap 100 ribu melayang.
Dan situasi itu hanya salah satu dari banyak hal yang dulu gratis, sekarang harus bayar.
Main Bareng Teman
Dulu: Kumpul di teras rumah, main petak umpet, main kelereng, atau cuma ngobrol sambil makan es mambo 500 perak.
Sekarang: “Yuk nongkrong!” artinya ke kafe minimal 50 ribu per orang. Kalau tidak gitu, “ih, lo pelit banget sih.” Atau bisa lebih parah, dianggap tidak punya uang = malu-maluin. Benar, kan?
Nonton Bareng
Dulu: Kumpul di rumah teman yang punya TV, nonton bareng film kartun yang seru. Gratis. Paling bawa cemilan dari rumah. Atau pinjam laser disk, VCD, DVD punya teman, nobar deh kita.
Sekarang: Netflix 54-186 ribu sebulan (tergantung paket), Disney+ 65-119 ribu, HBO Max 49-119 ribu, YouTube Premium 69 ribu. Kalau mau lengkap? Ya udah, siap-siap 300-400 ribu sebulan cuma buat nonton doang.
Ironisnya adalah: semakin banyak pilihan, semakin bingung mau nonton apa. Scroll-scroll aja sudah habis 30 menit, ujung-ujungnya tidak jadi nonton. Kocak!!
Dengar Musik
Dulu: Nyalain radio. Gratis. Atau pinjem kaset/CD punya teman, dengar lagunya juga bareng-bareng. Karena kita mau tampil di sekolah. Atau kalau Masih ingat, ada yang free tanpa bayar dengan 4share, atau platform dengar musik gratis lainnya.
Sekarang: Spotify Premium 80 ribu sebulan. YouTube Music bundling sama YouTube Premium 69 ribu. Maugratis? Ada… Tapi, ya, siap-siap iklan tiap 2 lagu. Gangguin banget, kan?
Baca Berita
Dulu: Beli koran 3 ribu, baca sampai tuntas. Atau kalau mau yang gratis benar-benar, baca koran bekas di warung.
Sekarang: Buka website berita, langsung “Daftar Premium untuk lanjut baca.” Atau di-paywall setelah 3 artikel gratis per bulan. Mau baca berita aja sekarang harus langganan. Jadinya tidak up-to-date, malah mengeluarkan uang berlebih untuk langganan baca berita.
Simpan Foto
Dulu: Foto dicetak, masuk album. Sekali bayar, permanen. Kadang malah kita diberi foto hasil cetak itu sama teman. Gratis.
Sekarang: Google Photos 100 GB: 27 ribu/bulan. iCloud 50 GB: 15 ribu/bulan. Foto kamu disandera sama cloud storage. Berhenti bayar? Foto kamu hilang akses. Coba aja!!
Minum Air
Dulu: Haus? Minum air keran atau air sumur. (Baca: ini bokek banget). Atau minta air putih di warung, dikasih gratis.
Sekarang: Air galon 20 ribu. Air mineral kemasan kecil 3.000-5.000. Mau minum di kafe atau restoran? “Air mineral atau air putih biasa?” Air mineral 10.000, air putih kadang juga dibanderol 5.000.
Bahkan yang paling absurd: sekarang ada “premium water” yang dijual 25.000-50.000 per botol. Air doang. Dikemas dengan tampilan yang fancy, jadi mahal banget.
Olahraga
Dulu: Main bola di lapangan kampung. Jogging di komplek. Push-up di rumah. Semuanya gratis tuh.
Sekarang: Gym membership 300-500 ribu/bulan. Yoga class 150 ribu sekali datang. Kelas Zumba 100 ribu. Bahkan sekarang ada yang jual “work out plan” online 200 ribu/bulan.
Padahal gerakannya ya gitu-gitu aja. Karena dikemas jadi program kurus, terpaksa harus bayar. Padahal kalau mau bikin perutnya kotak-kotak jadi kuli bangunan aja… Coba aja cek, mana ada kuli bangunan yang one pack perutnya?
Parkir di Mana-Mana
Dulu: Parkir di pusat perbelanjaan, di rumah sakit, di kantor pemerintah… ada yang gratis. Kalau pun harus bayar tidak mahal.
Sekarang: Parkir motor 5.000. Mobil 10.000. Bahkan parkir di rumah sakit pun bayar. Mau jenguk orang sakit aja kena biaya parkir 15.000 per jam.
Kantong Plastik
Dulu: Belanja di mana aja, dapat kantong plastik gratis. Bahkan suka diberi dobel biar tidak jebol.
Sekarang: Kantongnya bukan plastik sih, model kanvas gitu harganya 200-500 per lembar. Mau bawa tas sendiri tapi lupa? Ya udah, bayar lah.
Isu ini sebenarnya bagus buat lingkungan. Cuma… ya… tetap aja kan, yang dulu gratis sekarang harus bayar.
Main Game
Dulu: Main Nintendo di rumah teman, pinjem kaset game, tukar-tukar sama teman yang lain. Atau kalau punya PC, bisa beli kaset bajakan 5.000-10.000 di ITC, instal gamenya terus main selamanya, sepuasnya.
Sekarang: Game free-to-play tapi penuh app purchase. Skin 50 ribu, battle pass 100 ribu per season, gacha system yang bikin kamu harus merogoh ratusan ribu buat dapet character yang kamu mau. Bahkan bisa jutaan, lho!
Atau game AAA full price 800 ribu, tapi masih ada DLC 200-300 ribu lagi. Game subscription kayak Xbox Game Pass 50 ribu sebulan, PlayStation Plus 70 ribu sebulan.
Yang dulu beli sekali main selamanya, sekarang harus bayar terus-terusan.
Kenapa Semua Jadi Bayar, Sih?
Karena sekarang semuanya jadi “service.”
Dulu kamu beli barang, kamu punya barangnya. Sekarang kamu bayar akses. Kamu tidak punya apa-apa, kamu cuma “sewa.”
Yang paling licik sistem ini: semua dikemas jadi “subscription.” 50 ribu sebulan kedengarannya murah. Sebenarnya kalau kamu hitung setahun? 600 ribu. Lima tahun? 3 juta. Cuma buat satu layanan doang.
Sekarang coba hitung berapa banyak subscription yang kamu bayar:
* Netflix
* Spotify
* Cloud storage
* Aplikasi produktivitas
* Gym membership
* Streaming lain
* Game pass
* Delivery apps
Totalnya? Mungkin 500 ribu-1 juta per bulan. Setahun 12 juta. Lantas kamu tidak punya apa-apa. Berhenti bayar, semuanya hilang guys.
Nostalgia yang Harganya Cukup Mahal
Kadang saya kangen masa-masa dulu. Bukan karena zamannya lebih baik… bukan, bukan, tapi karena masa itu hidup terasa lebih… sederhana.
Kita bisa senang tanpa harus bayar. Kita bisa ngumpul sama teman-teman tanpa mikirin “budget nongkrong.” Kita bisa nonton, dengar musik, olahraga semuanya tanpa subscription.
Sekarang? Bahkan untuk bahagia aja rasanya harus keluar uang.
Sebenarnya ada hal yang paling menyedihkan sih, generasi setelah kita tidak akan pernah merasakan gimana rasanya hal-hal di atas tadi itu secara gratis. Buat mereka, semua emang dari awal harus bayar.
Kita, yang lahir sebelum tahun 2000, adalah generasi terakhir yang tahu bedanya.
Kita masih ingat rasanya hidup tanpa subscription. Kita masih ingat rasanya bahagia itu sederhana.
Apa perlu kita jelaskan ke anak-anak kita nanti: “Dulu tuh, main bareng teman itu tidak perlu ke Mall atau ke Cafe.”
Mereka mungkin tidak akan percaya. Namun mereka yang hidup di era sekarang rasanya perlu sekali merogoh kocek lebih untuk ‘bermain’. Istilah FOMO (fear of missing out) juga menjadikan aktivitas ‘main’ itu terasa memerlukan modal. Tidak jarang, dengan teman yang memiliiki gadget lebih bagus, kita cenderung ingin sekali menyamai atau mengungguli bahan agar tidak terkesan ketinggalan zaman.
Esensi bermain itu apa sih? Kebahagiaan.
Lantas, kebahagiaan bukankah seharusnya sederhana tanpa memerlukan keterpaksaan bahkan modal berlebih untuk mencapainya?
Bagikan ke:
