30 Desa di Lima Kecamatan Masih Terisolasi Pasca-Bencana
Lebih dari sebulan setelah banjir bandang melanda Kabupaten Aceh Tengah, masih ada 30 desa yang terisolasi. Wilayah-wilayah tersebut tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Linge, Ketol, Silih Nara, Bintang, dan Rusip Antara. Awalnya, jumlah desa yang terisolasi mencapai 105 desa, tetapi kini berkurang menjadi 30 desa.
Kondisi ini memengaruhi sekitar 14.899 warga yang hingga kini belum sepenuhnya terhubung dengan jalur transportasi darat. Pemulihan akses darat menjadi fokus utama pemerintah daerah untuk memperlancar logistik, layanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi masyarakat terdampak.
Penyaluran Bantuan Melalui Jalur Udara dan Tali Sling
Untuk menjangkau wilayah yang belum dapat dilalui kendaraan, penyaluran bantuan masih dilakukan melalui jalur udara serta dengan tali sling pada sejumlah titik yang akses daratnya belum memungkinkan. Proses distribusi bantuan ini dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kondisi medan dan cuaca.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menjelaskan bahwa desa-desa yang masih terisolasi tersebar di lima kecamatan. Ia juga menyampaikan bahwa awalnya terdapat 105 desa yang terisolasi pascabencana, namun saat ini jumlahnya berkurang menjadi 30 desa.
Warga Membangun Jembatan Darurat Secara Swadaya
Di beberapa desa, warga secara swadaya membangun jembatan darurat, sehingga kendaraan roda dua mulai dapat melintas. Namun, kendaraan roda empat masih belum dapat menjangkau sebagian besar desa tersebut.
Hambatan utama berasal dari jembatan yang putus. Di Kecamatan Bintang, akses jalan terputus akibat tanah longsor yang menutupi jalan. Saat ini, proses pemulihan infrastruktur masih mengandalkan alat berat milik pemerintah daerah, yang dibantu peralatan milik masyarakat dan pengusaha setempat.
Prioritas Pemulihan Akses Darat
Pemerintah Daerah (Pemda) menargetkan pemulihan akses darat menjadi prioritas utama guna memperlancar distribusi logistik, layanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi warga di wilayah terdampak. Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kondisi medan dan cuaca.
Upaya Bersama dalam Pemulihan Infrastruktur
Selain alat berat pemerintah, masyarakat dan pengusaha setempat turut berkontribusi dalam pemulihan infrastruktur. Keterlibatan mereka sangat penting dalam mempercepat proses pemulihan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.
Tantangan dalam Pemulihan
Meski ada kemajuan dalam pemulihan akses jalan, tantangan tetap ada. Salah satu tantangan utama adalah kondisi cuaca yang tidak menentu dan medan yang berat. Selain itu, kerusakan infrastruktur yang parah juga membuat proses pemulihan menjadi lebih rumit.
Peran Masyarakat dalam Pemulihan
Warga setempat terbukti sangat proaktif dalam membantu pemulihan. Mereka tidak hanya membangun jembatan darurat, tetapi juga memberikan dukungan moril dan fisik dalam upaya memperbaiki akses jalan.
Keberlanjutan Pemulihan
Pemda berkomitmen untuk terus mempercepat pemulihan akses darat. Hal ini diperlukan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lancar, termasuk mengakses layanan kesehatan dan pasar.
Bagikan ke:
