TEHERAN,
Iran merespons peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa pihaknya menganggap setiap serangan sebagai perang yang bisa berujung pada konflik besar.
“Kami berharap tindakan militer ini tidak dimaksudkan untuk memicu konfrontasi nyata, tetapi pasukan kami siap menghadapi skenario terburuk. Itulah sebabnya semua pihak di Iran berada dalam kondisi siaga tinggi,” ujar pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim.
Ia menambahkan, “Setiap serangan, baik itu terbatas atau tidak terbatas, terarah atau kinetik, akan dianggap sebagai perang habis-habisan melawan Iran. Kami akan merespons dengan cara terkuat yang mungkin untuk menyelesaikan situasi ini.”
Rombongan armada militer AS diperkirakan tiba dalam beberapa hari mendatang. Diketahui, kapal induk AS dan aset militer lainnya akan tiba di kawasan tersebut dalam waktu dekat.
“Jika AS melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Iran, kami akan merespons,” kata pejabat tersebut. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bagaimana respons Iran akan dilakukan.
“Sebuah negara yang terus-menerus menghadapi ancaman militer dari AS tidak punya pilihan selain memastikan semua sumber dayanya digunakan untuk melawan. Jika memungkinkan, memulihkan keseimbangan terhadap siapa pun yang berani menyerang Iran,” jelas dia.
Presiden Donald Trump pada Kamis (22/1/2026) menyatakan bahwa AS memiliki “armada” yang sedang menuju ke Iran, tetapi berharap tidak perlu menggunakan kekuatan militer. Ia juga memperingatkan Teheran agar tidak membunuh para demonstran atau memulai kembali program nuklirnya.
Beberapa hari terakhir, Pentagon telah memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak pendamping ke kawasan tersebut. Kapal-kapal ini meninggalkan Laut China Selatan dan mulai bergerak ke arah Timur Tengah awal pekan ini, menurut seorang pejabat angkatan laut.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa armada tersebut sudah berada di Samudra Hindia.
Bawa 5.700 anggota militer tambahan
Kapal-kapal perang tersebut akan bergabung dengan tiga kapal tempur yang berada di pelabuhan Bahrain pada Jumat (23/1/2026), serta dua kapal perusak AS lainnya yang berada di laut di Teluk Persia.
Kedatangan gugus tempur kapal induk akan membawa sekitar 5.700 anggota militer tambahan.
AS memiliki beberapa pangkalan di Timur Tengah, termasuk Al Udeid di Qatar, yang menampung ribuan pasukan dan merupakan markas besar terdepan untuk Komando Pusat AS.
Diketahui, AS melakukan pengerahan militer besar-besaran di Timur Tengah tahun lalu sebelum bergabung dengan perang Israel melawan Iran. Militer AS juga sempat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2026.
Bagikan ke:
