Pertumbuhan sektor industri baja nasional pada tahun 2025 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Namun, di balik pencapaian tersebut masih terdapat tantangan struktural yang perlu diperhatikan. Dengan tingkat utilisasi kapasitas produksi yang belum optimal, sektor ini harus terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Pertumbuhan Industri Baja Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa sektor industri logam mencatat pertumbuhan sebesar 15,71% pada tahun 2025. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan manufaktur dan PDB nasional. Pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa sektor industri logam mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
“Kita patut bangga, di tahun 2025 sektor industri logam kita mencatatkan prestasi yang impresif. Pertumbuhan PDB sektor ini menembus angka 15,71 persen di atas rata-rata manufaktur dan PDB nasional,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan konsumsi baja domestik dari 18,6 juta ton pada 2024 menjadi 19,3 juta ton pada 2025. Permintaan berasal dari sektor konstruksi yang berkembang, termasuk Program Pembangunan 3 Juta Rumah, serta sektor manufaktur dan otomotif.
Tingkat Utilisasi Kapasitas Produksi
Meski telah mencatat pertumbuhan positif, tingkat utilisasi kapasitas produksi industri baja masih berada di bawah 60%-70%. Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 16–17 juta ton per tahun, kondisi ini menunjukkan masih adanya ruang produksi yang belum terserap optimal di dalam negeri.
Peran Hilirisasi dalam Ekspor
Hilirisasi disebut turut mendorong kinerja ekspor sektor baja. Komoditas fero-nikel tercatat mencapai nilai ekspor US$14,94 miliar pada Januari–November 2025. Pasar ekspor juga semakin terdiversifikasi, dengan Australia menjadi tujuan utama produk barang dari besi dan baja senilai US$1,6 miliar, disusul Singapura dan Inggris. Sementara itu, RRT tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor lebih dari US$16 miliar.
“Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar, dan baja Indonesia telah memiliki kualitas dengan standar global,” terangnya.
Investasi di Sektor Baja
Dari sisi investasi, nilai penanaman modal asing di sektor ini meningkat dari US$8,05 miliar pada 2021 menjadi US$16,37 miliar pada 2025. Kontribusi terbesar datang dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok.
Tantangan Global dan Langkah Pemerintah
Pemerintah juga menyoroti tantangan global berupa potensi kelebihan pasokan baja dunia yang diperkirakan mencapai 2,5 miliar metrik ton pada 2025 serta meningkatnya tren proteksionisme. Memasuki 2026, isu dekarbonisasi dan penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi perhatian.
Pemerintah mendorong transformasi menuju green steel melalui adopsi teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF) yang diklaim mampu mereduksi emisi hingga 85%.
Untuk menjaga pasar domestik, pemerintah memperkuat perlindungan melalui Bea Masuk Anti-Dumping pada sejumlah produk baja, pengetatan larangan dan pembatasan impor melalui kewajiban Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor untuk 440 pos tarif, serta pemberlakuan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Pertumbuhan dua digit memang menjadi catatan positif bagi industri baja nasional. Namun, dengan tingkat utilisasi yang belum maksimal dan tekanan pasar global yang masih kuat, efektivitas berbagai kebijakan penguatan industri akan menjadi faktor penentu keberlanjutan kinerja sektor ini ke depan.
Bagikan ke:
