Pemikiran dan Pandangan Gus Salam Mengenai Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP)
Adikarto.com
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, yaitu Abdussalam Shohib atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Salam, mengajukan pertanyaan penting terkait keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP). Ia menilai bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan ulang posisi negara ini dalam lembaga tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil harus benar-benar berkontribusi positif bagi rakyat Palestina.
Gus Salam menyatakan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BoP sebenarnya berkaitan langsung dengan kemerdekaan Palestina. Namun, ia menyoroti bahwa BoP tidak memiliki status resmi sebagai lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga ini justru didirikan dan dipimpin oleh Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, setelah wilayah Gaza mengalami kerusakan parah akibat konflik. Dalam peristiwa itu, sekitar 71.000 warga Palestina tewas.
Kepemimpinan Donald Trump dalam BoP
Menurut Gus Salam, Donald Trump menjadi ketua sekaligus mewakili Presiden Amerika Serikat sebagai anggota BoP. Dalam hal ini, ia memiliki dua peran sekaligus. Bahkan, jika tidak menjadi presiden Amerika, Trump tetap akan menjadi ketua BoP. Hal ini memberikan kekuasaan veto yang sangat besar kepada dirinya.
Dengan demikian, kedaulatan sebuah negara sebagai anggota BoP akan tunduk pada keputusan ketua. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Gus Salam merasa perlu untuk mengevaluasi kembali keterlibatan Indonesia dalam lembaga tersebut.
Pandangan Kiai Tradisional terhadap Palestina
Gus Salam juga menyampaikan bahwa para kiai tradisional memiliki pandangan geopolitik yang cukup baik. Oleh karena itu, mereka selalu menjunjung tinggi kedaulatan bangsa Palestina. Hal ini tercermin dari sikap yang diambil oleh para kiai pesantren.
Salah satu contohnya adalah pernyataan Ketua Umum PBNU, KH Mahfudz Siddiq, yang pada tanggal 19 Ramadlan bertepatan dengan 12 November 1938, sebelum Indonesia merdeka, menyerukan organisasi Islam agar bersikap tegas dan bahu membahu dengan rakyat Palestina. Mereka berjuang demi agama dan memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka dari kolonial dan komplotan zionisme.
Solidaritas dan Dukungan untuk Palestina
Seruan tersebut menjadi dasar dari sikap tegas ulama dan jam’iyyah NU. Oleh karena itu, berbagai bentuk dukungan terus mengalir kepada Palestina. Meskipun ada larangan dari penguasa Hindia Belanda saat itu, kiai NU tidak pernah berhenti menggalang solidaritas dan bantuan.
Bahkan hingga saat ini, rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Palestina dalam berbagai bentuk. Contohnya adalah bantuan berupa Rumah Sakit, Masjid, serta bantuan kemanusian lainnya. Solidaritas ini terjadi secara timbal balik antara Indonesia dan Palestina.
Kesimpulan
Gus Salam menegaskan bahwa pentingnya evaluasi kembali posisi Indonesia dalam BoP. Ia menilai bahwa keanggotaan negara ini harus benar-benar berdampak positif bagi Palestina. Selain itu, ia juga menekankan bahwa sikap kiai dan ulama pesantren terhadap Palestina telah lama ada dan tetap konsisten, meskipun situasi politik internasional sering kali kompleks.
Bagikan ke:
