Indonesia memasuki tahun 2026 dengan kinerja ekonomi yang menunjukkan tanda-tanda positif. Beberapa indikator utama seperti sektor manufaktur, neraca perdagangan, dan tingkat inflasi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Indikator-indikator ini menjadi bukti bahwa perekonomian nasional semakin stabil dan siap menghadapi berbagai tantangan baik di dalam maupun luar negeri.
Penguatan Sektor Manufaktur
Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 52,6 pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan aktivitas produksi yang meningkat, meskipun masih ada tekanan dari gangguan rantai pasok global dan pesanan ekspor yang belum sepenuhnya pulih. Namun, optimisme pelaku usaha mencapai titik tertinggi dalam 10 bulan terakhir, yang menandakan harapan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di tingkat regional, PMI ASEAN agregat berada di level 52,8, dengan Filipina mencatat 52,9 dan Vietnam 52,5. Sementara itu, PMI India mencapai 56,8, sedangkan AS berada di level 51,9. Kedua negara tersebut juga berada di zona ekspansif, yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat.
Pertumbuhan Indikator Domestik
Penguatan sektor manufaktur selaras dengan peningkatan indikator domestik pada akhir 2025. Indeks Penjualan Riil tumbuh sebesar 4,4 persen, sementara penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen dan mobil naik 17,9 persen. Selain itu, penjualan listrik bertambah 4,8 persen. Indeks Keyakinan Konsumen Desember 2025 tercatat 123,5, yang menunjukkan suasana hati konsumen yang optimis terhadap kondisi ekonomi.
Neraca Perdagangan yang Menunjukkan Surplus
Neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS, meningkat dari 0,42 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor mencapai 26,34 miliar dolar AS atau tumbuh 11,64 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas naik 13,72 persen, terutama dari industri pengolahan yang meningkat 19,26 persen.
Secara kumulatif sepanjang 2025, ekspor mencapai 282,91 miliar dolar AS atau tumbuh 6,15 persen. Impor tercatat 23,83 miliar dolar AS dengan kenaikan 10,81 persen, didorong lonjakan impor barang modal sebesar 34,66 persen. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan tahunan mencapai 41,05 miliar dolar AS, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020.
Tingkat Inflasi yang Masih Terkendali
Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen secara tahunan, meningkat dari 2,92 persen pada Desember 2025. Peningkatan ini disebabkan oleh basis rendah tahun sebelumnya seiring kebijakan diskon listrik. Inflasi administered price naik ke 9,71 persen. Secara bulanan, terjadi deflasi sebesar 0,15 persen, dengan inflasi volatile food turun menjadi 1,14 persen seiring penurunan harga cabai, bawang, daging ayam, telur, dan sayuran. Inflasi inti berada di level 2,45 persen, didorong kenaikan harga emas yang mencapai 76,5 persen.
Komitmen Pemerintah dalam Mengendalikan Inflasi
Febrio Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat hilirisasi, daya saing ekspor, serta diversifikasi mitra dagang. Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3-5 persen di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi.

Pengamat dinamika ekonomi politik atas fenomena dan realitas sosial. Menekuni ruang bedah regulasi untuk melihat bagaimana kebijakan politik membentuk wajah ekonomi kerakyatan, menaruh atensi pada penerjemahan kompleksitas dunia finansial global-domestik, dan arah kebijakan serta dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat.







