Pertemuan BEI dan OJK dengan MSCI untuk Perkembangan Pasar Modal Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengadakan pertemuan dengan penyedia indeks global MSCI pada sore hari ini, Senin (2/2). Pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan berbagai perkembangan dan langkah strategis pasar modal Indonesia, khususnya terkait reformasi dan pendalaman pasar. Pertemuan tersebut akan dilakukan secara online, mengingat perbedaan waktu antara Indonesia dan Eropa.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa pertemuan ini akan dihadiri langsung oleh jajaran BEI bersama tim, serta perwakilan dari OJK. Jeffrey menegaskan bahwa isu-isu yang akan disampaikan merupakan hal-hal yang secara khusus diminta oleh MSCI.
“Sore. Besok (hari ini) Eropa pagi, kita kan sore,” kata Jeffrey saat ditemui usai Dialog bersama Para Pelaku Pasar di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (1/2).
“Kami dengan tim. Dari OJK juga akan hadir. Apa yang tadi saya sampaikan adalah apa yang akan kita sampaikan ke MSCI, karena itulah yang diminta oleh mereka,” tambahnya.
Poin-Poin yang Akan Disampaikan kepada MSCI
Dalam acara dialog tersebut, Jeffrey memaparkan beberapa poin utama yang akan disampaikan kepada MSCI. Poin pertama berkaitan dengan kondisi operasional pasar. BEI menegaskan bahwa seluruh aktivitas bursa berjalan normal tanpa gangguan.
Poin kedua yang akan dibahas adalah percepatan pendalaman pasar, terutama dari sisi permintaan atau demand. Hal ini diarahkan untuk menarik lebih banyak investor global agar berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Jeffrey menjelaskan bahwa BEI telah menampung berbagai masukan dan perhatian dari global index provider, termasuk MSCI, dan secara aktif menjalin komunikasi dengan sejumlah penyedia indeks internasional.
“Kami sudah menampung banyak concern dari global index provider dan kami sudah berkomunikasi dengan beberapa index provider. Minggu lalu kami juga berkomunikasi dengan Kudsi, dan besok kami akan berkomunikasi lagi dengan MSCI,” ungkapnya.
Peningkatan Transparansi Data Kepemilikan Saham
Dalam rangka meningkatkan minat investor asing serta memperbesar bobot Indonesia dalam indeks global, BEI akan memperkuat aspek keterbukaan informasi (disclosure). Salah satunya melalui peningkatan transparansi data kepemilikan saham secara lebih rinci.
BEI akan melengkapi disclosure data kepemilikan saham hingga ke level pemegang saham di bawah 5 persen, sehingga setara dengan standar bursa global lainnya.
“Kami akan meningkatkan lagi disclosure data kepemilikan saham secara lebih granual, termasuk data shareholders name di bawah 5 persen. Ini akan kami laksanakan di awal Februari 2026,” jelasnya.
Pembaruan Klasifikasi Investor
Selain itu, BEI bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga akan memperbarui klasifikasi tipe investor agar lebih detail dan selaras dengan praktik terbaik global. Klasifikasi investor yang saat ini berjumlah sembilan kategori SID akan diperluas sesuai dengan ekspektasi MSCI.
Kategori tambahan tersebut mencakup antara lain sovereign wealth fund (SWF), private equity (PE), investment advisor, discretionary fund, dan kategori lainnya. BEI akan mulai melakukan sosialisasi kepada pelaku pasar pada minggu ini dan meminta seluruh pemangku kepentingan, termasuk custodian bank, untuk melakukan pemetaan ulang (remapping) data investor.
“Kami harapkan proses ini dapat diselesaikan paling lambat bulan April 2026 sebelum timeline yang ditetapkan oleh MSCI,” ujar Jeffrey.
Komitmen BEI dalam Menyediakan Kejelasan dan Kepercayaan
Bursa Efek Indonesia akan terus melakukan sosialisasi terkait perkembangan terkini dan langkah strategis yang diambil oleh Bursa Efek Indonesia kepada seluruh pelaku pasar. Tujuannya adalah memberikan kejelasan dan kepastian terhadap iklim investasi di pasar modal Indonesia, baik untuk investor domestik maupun asing.
Bagikan ke:
