Pejuang Pembebasan Hamas. (Hassan Alzaanin/TASS)
TEL AVIV – Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan akan mengeluarkan ultimatum keras kepada Hamas. Kelompok perlawanan Palestina tersebut diberi waktu selama dua bulan untuk melucuti seluruh senjatanya sebagai syarat keberlanjutan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Pernyataan ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, dalam pertemuan di parlemen (Knesset). Smotrich menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian krusial dari fase kedua kesepakatan damai yang telah berjalan.
Fokus pada Demiliterisasi Gaza
“Dewan Perdamaian akan mengeluarkan ultimatum dua bulan kepada Hamas untuk melucuti senjatanya,” ujar Smotrich sebagaimana dikutip dari surat kabar Makor Rishon, Senin (2/2/2026).
Smotrich, yang dikenal dengan haluan kanan ekstremnya, menekankan bahwa Israel tidak akan mengakhiri operasi militer secara permanen sebelum Hamas hancur sepenuhnya. Ia menargetkan Gaza bersih dari pengaruh Hamas, baik secara militer, sipil, maupun pemerintahan.
“Tidak akan ada Hamas di Gaza. Fase kedua gencatan senjata ini memang dikhususkan untuk pelucutan senjata. Sangat disayangkan kami tidak memulainya tiga bulan lalu,” tambahnya.
Peran Board of Peace dan Dominasi Donald Trump
Board of Peace dibentuk oleh Donald Trump pada 15 Januari sebagai otoritas internasional untuk mengawasi stabilitas dan rekonstruksi wilayah pascakonflik. Badan ini mendapatkan legitimasi melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 pada November 2025, menyusul kesepakatan gencatan senjata awal 10 Oktober 2025.
Berdasarkan piagamnya, badan ini memiliki struktur yang unik:
- Ketua dan Veto: Donald Trump menjabat sebagai ketua dengan kekuasaan seumur hidup, termasuk hak veto dan wewenang menunjuk anggota dewan.
- Tujuan Utama: Meningkatkan stabilitas, memulihkan tata kelola yang sah, dan menjaga perdamaian berkelanjutan.
- Fungsi Transisi: Bertindak sebagai otoritas transisi yang mengawasi rekonstruksi Gaza yang diperkirakan menelan biaya hingga 70 miliar dolar AS.
Meskipun piagamnya tidak menyebut Jalur Gaza secara eksplisit, fokus utama badan ini saat ini adalah memastikan demiliterisasi faksi-faksi Palestina dan penarikan pasukan Israel secara bertahap.
Respons Hamas dan Kondisi di Lapangan
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Hamas mengenai ultimatum dua bulan tersebut. Namun, dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Hamas tegas menolak upaya pelucutan senjata (disarmament). Mereka menganggap tuntutan tersebut merusak hak kedaulatan rakyat Palestina dan hak untuk melakukan perlawanan.
Di sisi lain, situasi di lapangan masih dipenuhi ketegangan. Meski gencatan senjata fase pertama telah dilakukan—yang mencakup pertukaran tawanan—Israel dilaporkan masih terus melakukan pelanggaran.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa sejak serangan dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 71.000 warga Palestina tewas dan 171.000 lainnya luka-luka. Bahkan setelah gencatan senjata disepakati, serangan susulan dilaporkan masih merenggut nyawa lebih dari 524 warga Gaza.
Donald Trump sendiri telah menegaskan bahwa perdamaian hanya akan bertahan jika Hamas memenuhi komitmen pelucutan senjata. Langkah ini kini menjadi penentu apakah Jalur Gaza akan memasuki masa rekonstruksi atau kembali terjerumus dalam eskalasi militer yang lebih luas.
Bagikan ke:
