Gentleman adalah istilah yang banyak digunakan sebagai bentuk penggambaran sifat berani namun tetap dalam kaidah-kaidah kelembutan.
Sikap gentle merujuk pada perilaku lemah lembut seorang pria dalam menghadapi wanita atau lingkungannya tanpa meninggalkan sosok kelelakiannya.

Bagaimana paradox ini bisa berjalan? Okay, mari kita bahas satu per satu.
Hodgson-Wright mengemukakan bahwa gerakan feminisme muncul pertama kali di Inggris antara tahun 1550-1700. Gerakan tersebut digencarkan secara aktif sebagai usaha menghadapi patriarkisme.
Feminisme sendiri berjuang untuk kesetaraan gender, yaitu persamaan hak, kesempatan dan perlakuan antara wanita dan pria dengan tujuan mengubah sistem patriarki di mana pria mendominasi masyarakat.
Gerakan ini meliputi kampanye dan advokasi yang berfokus pada isu-isu seperti hak reproduksi, kekerasan, upah yang sama dan partisipasi politik wanita, serta bertujuan menciptakan tatanan sosial yang adil dan setara tidak berdasarkan gender.
Hasil dari gerakan feminisme berhasil mempengaruhi pemikiran sebagain tokoh-tokoh besar seperti Virginia Woolf yang pada akhirnya menulis buku monumental mengenai feminis berjudul ‘A Room of One’s Own’ pada 1929.
Menurut Woolf, wanita membutuhkan kemandirian finansial dan ruang pribadi untuk bisa menulis dan mencapai kebebasan kreatif. Selain itu, buku ini membahas ketidakadilan sosial dan kesetaraan gender, menegaskan bahwa ruang pribadi dan ekonomi adalah prasyarat penting bagi wanita untuk mengembangkan potensi sastra dan pemikiran independen mereka.
Pada intinya Woolf ingin wanita diberikan hak yang sama dengan pria dalam menyampaikan ide dan gagasan khususnya melalui tulisan.

Selain Woolf, tokoh-tokoh feminis lainnya seperti Simone de Beauvoir, Gloria Steneim, dan Nawal El Saadawi juga mulai memberikan influence cukup besar untuk wanita. Wanita diharapkan makin sadar bahwa sebagai manusia, mereka punya hak yang sama dengan pria.
Lalu, bagaimana paradoks mengenai seorang pria yang gentle adalah seorang yang feminis?
Kata-kata ini banyak dilontarkan dalam beberapa aktivitas kampanye kesetaraan gender. (Note : Kita tidak sedang membahas gender lain di luar pria dan wanita. Di sini, saya membatasi bahasan mengenai pria dan wanita saja.) Kebanyakan, atribut tulisan ini disuarakan oleh para pria.
Salah satu pria yang merupakan tokoh penting pendukung hak wanita adalah John Stuart Mill. Mill adalah pendukung feminisme yang dianggap sebagai salah satu feminis liberal terkemuka pada abad ke-19. Mill mengadvokasikan persamaan hak wanita dalam pendidikan, pekerjaan dan partisipasi politik, didasarkan pada prinsip bahwa penindasan wanita menghambat kemajuan dan kebebasan individu secara keseluruhan.
Mill, bersama dengan istrinya Harriet Taylor adalah tokoh feminis liberal yang keyakinannya berakar pada gagasan bahwa kesetaraan seksual hanya bisa dicapai jika wanita memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan pria.
REAL MEN ARE FEMINISTS
Pada dasarnya, paradoks ini merujuk kepada keinginan pria agar wanita juga dipandang setara dengan mereka. Mengejutkan, banyak pria menyetujui paradoks ini.
Pria ingin agar wanita mendapatkan kedudukannya dan berperan dalam kancah sosial. Mereka ingin tetap memperlakukan wanita sebagaimana mereka pantas diperlakukan secara lembut dan baik, namun juga tidak membatasi pemikiran atau aktivitas apapun yang dilakukan oleh mereka.
Sejak dulu, sistem patriarki memungkinkan perempuan tidak mendapatkan haknya sebagai manusia yang patut dihargai dan dihormati. Sedangkan, pria modern merasa bahwa wanita tetap harus mendapat tempat.

Wanita adalah manusia yang pada dasarnya memiliki kelembutan dalam cara berpikir dan bertindak. Beberapa pria yang masih eksis dengan filosofi maskulinitasnya berusaha menumbangkan pemikiran perempuan dengan gagasan patriarkisme.
Mereka kerap mengagungkan bahwa wanita yang diberikan hak, akan melemahkan pria dan tidak akan menghargai pria dalam tempatnya. Pria mendapatkan tempat lebih tinggi dalam masyarakat sejak dulu, sehingga hal tersebut menjadi budaya yang mengakar dan menyebabkan kebangkitan perempuan seolah-olah sebagai ancaman bagi esksitensi pria.
Pria yang mendukung feminisme menggaungkan The Real Gentleman is A Feminists atas keinginan mereka agar perempuan setara dengan pria dalam berbagai hal. Kecuali pembangunan diri secara fisik karena memang secara phisycal dan biologis, tubuh wanita dan pria didesain secara berbeda oleh Tuhan.
Dan hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa diganggu gugat. Mereka menganggap bahwa pria yang menentang feminisme sebenarnya adalah mereka yang takut tersaingi dan tidak memiliki kendali kuat atas dirinya sendiri.
Atau mungkin, pria yang menentang feminisme sebenarnya tidak ingin kehilangan arogansinya sebagai seseorang yang telah mengemban maskulinitas sebagai produk patriarkisme selama ini? — Entahlah
Saya pribadi, adalah salah satu yang sepaham dengan paradoks di atas. Karena melihat fenomena di mana banyak wanita dilemahkan oleh kaum pria dengan alasan bahwa mereka wanita, itu terkesan sebagai provokasi kekuatan atas gendernya sendiri.

Bayangkan jika seorang pria dengan kelembutannya mendengarkan keluh kesah seorang wanita mengenai pekerjaan si wanita tersebut. Dan dengan sikap gentle, pria tersebut meyakinkan wanitanya akan mendukung apapun yang dilakukan selagi itu baik bagi kebahagiaannya.
Bayangkan seorang pria dengan kebesaran hatinya tidak ragu membersihkan sepatu wanitanya yang sedang dipakai di kaki tanpa merasa dijatuhkan atau direndahkan.
Lebih sederhana lagi, bayangkan seorang pria yang tidak ragu membantu mencucikan piring di rumah, menyapu dan merawat anaknya selagi istrinya sedang menghadapi kesibukan lain. Bagi pemikir patriarkis tindakan tersebut mungkin akan menjatuhkan diri pria, namun itu juga menghempas wanita lebih jauh lagi sebagai penerima tekanan atas hak-haknya untuk bebas.
Menjadi gentleman, tidak harus duduk di kursi raja atau menjadi panglima. Sebagai manusia, kita semua memiliki hak yang sama.
dihargai dan disayangi.
Percayalah, seorang pria tidak akan mendadak menjadi hina saat mendahulukan kepentingann wanitanya. Pria juga tidak akan seketika menjadi terlecehkan jika membantu seorang wanita dalam mencapai mimpinya. Justru, pria akan semakin dihargai oleh wanitanya jika mereka mampu menunjukkan sikap lembut dan penyayang, namun tetap berani dan berkharisma.
Wanita, secara alamiah juga akan menurut kepada pria yang mempu menghargai dirinya. Wanita akan luluh dengan pria yang bisa membiarkannya menjadi dirinya sendiri, tidak menekan, tidak menuntut, namun tetap dapat bertanggung jawab atas dirinya.
Sebagai pria, kalian tidak perlu merasa dijatuhkan saat membantu wanita dalam hal apapun.
Seorang raja akan tetap menjadi raja sekalipun dia memasangkan mahkota pada sang ratu —

Bagikan ke:
