Penyebaran Program Keluarga SIGAP: Meningkatkan Kesehatan Anak Melalui Perubahan Perilaku
Program Keluarga SIGAP terus berkembang dan memperluas cakupannya di berbagai wilayah Indonesia, dengan fokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gizi sesuai usia untuk anak di bawah dua tahun (Baduta). Dalam fase scale-up, program ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam berbagai aspek kesehatan keluarga.
Peningkatan Cakupan Imunisasi
Cakupan dosis akhir imunisasi meningkat secara signifikan di wilayah scale-up, termasuk perlindungan pneumonia yang naik dari sekitar 32 persen menjadi hampir 58 persen. Rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15 %, dengan Banjar mencatat lonjakan paling signifikan dari 37 % menjadi 59 %. Ini berarti hampir 6 dari 10 anak di Banjar kini terlindungi, dibandingkan kurang dari 4 dari 10 sebelumnya.
Peningkatan kepercayaan terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak orang tua menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap, tercermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80 %. Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya meningkatkan cakupan, tetapi juga memperkuat kepercayaan orang tua. Pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang efek samping ringan vaksin, melaporkan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang lebih sedikit untuk reaksi ringan, serta lebih konsisten menyelesaikan jadwal imunisasi anak.
Permintaan terhadap dukungan praktis juga tinggi, dengan lebih dari 80 % orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
Perbaikan Praktik Cuci Tangan Pakai Sabun
Pembelajaran di bidang CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku semakin cepat ketika keluarga memiliki motivasi sekaligus sarana yang memadai. Hampir 7 % lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, menciptakan kondisi praktis yang memudahkan penerapan kebiasaan cuci tangan dalam rutinitas harian.
Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak, dengan tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4 %. Motivasi juga bergeser, semakin banyak orangtua atau pendamping anak yang menyebut kesehatan dan kebersihan sebagai alasan utama mencuci tangan, bukan sekadar penampilan atau norma sosial. Keterlibatan ayah meningkat sebesar 13 %, menandai semakin kuatnya keterlibatan bersama orang tua dalam menjaga kebersihan di rumah.
Peningkatan Praktik Gizi Anak
Pembelajaran terkait nutrisi menunjukkan peningkatan nyata dalam praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Praktik inisiasi menyusu dini meningkat sebesar 4,4 %, sementara proporsi anak yang mencapai Keanekaragaman Pangan Minimum naik 6,8 %. Hal ini mencerminkan kualitas pola makan yang lebih baik serta keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia di tingkat rumah tangga.
Peningkatan ini didukung oleh alat bantu praktis yang selaras dengan dinamika keluarga. Rata-rata, 96 % pengguna menyatakan bahwa alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan harian anak, termasuk konsumsi camilan tidak sehat, serta mendorong peran bersama ibu dan ayah dalam pemenuhan gizi anak.
Memperluas Jangkauan melalui Media dan Digital
Fase scale-up Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas pembelajaran di luar titik interaksi langsung. Pada periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP menjangkau lebih dari 4,7 juta orang secara nasional melalui tayangan televisi dan penempatan built-in, sehingga memperkuat kesadaran terhadap program.
Di media sosial, lebih dari 1,14 miliar impresi konten SIGAP disalurkan melalui Meta, YouTube, dan TikTok di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mendorong perubahan perilaku. Di YouTube, sebanyak 8,1 juta tayangan selesai menunjukkan retensi yang kuat terhadap ketiga perilaku SIGAP secara berurutan, sementara iklan bumper enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan selesai.
Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dan menjangkau lebih dari 40 juta orang, mengantarkan audiens dari tahap kesadaran hingga pembelajaran aktif. Konten influencer yang menggabungkan tren, cerita keseharian, humor, dan suara ahli yang terpercaya menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta orang di TikTok.
Dengan keterlibatan komunitas yang kuat, pelatihan interaktif, serta dukungan media dan digital, Keluarga SIGAP dirancang agar dapat berkelanjutan dan diperluas. Pembelajaran dari fase scale-up ini akan menjadi dasar bagi pengembangan program ke depan, membantu lebih banyak keluarga menerapkan perilaku pencegahan dan berkontribusi pada masa depan anak Indonesia yang lebih sehat.
Bagikan ke:
