Penetapan Harga Makanan untuk Jamaah Haji Indonesia
Kementerian Haji dan Umrah telah menetapkan harga makanan yang akan dikonsumsi oleh jamaah haji Indonesia selama berada di tanah suci, baik di Madinah, Makkah, maupun Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Hal ini dilakukan agar kebutuhan dasar jamaah dapat terpenuhi dengan baik.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa nilai konsumsi atau katering jamaah haji tahun ini mencapai SAR 40 atau sekitar Rp 180 ribu per hari (dengan kurs Rp 4.500).
“Katering itu kita satu hari (nilainya) sekitar 40 real,” ujar Dahnil dalam sela pelaksanaan Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Senin (19/1).
Anggaran SAR 40 tersebut dibagi dalam tiga kali sesi makan, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam, dengan nilai yang berbeda untuk masing-masing sesi.
“Paginya itu harganya 10 real (Rp 45.000), siang dan malam itu 15 real (Rp 67.500),” lanjut Dahnil.
Perhatian Khusus pada Katering
Dahnil menekankan bahwa katering akan benar-benar diperhatikan untuk memastikan urusan perut jamaah tidak terkendala. Dengan demikian, jamaah bisa fokus untuk beribadah tanpa harus memikirkan urusan lain, termasuk perut.
Karena itu, para petugas haji diminta memperhatikan konsumsi sedetail mungkin. “Isu terkait dengan makanan yang tidak layak, yang tidak sesuai dengan gramasinya, sesuai dengan speknya, itu harus jadi perhatian,” ujar mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.
Fase Armuzna yang Menjadi Fokus Utama
Urusan konsumsi paling krusial ada pada saat fase Armuzna. Karena saat masa puncak Haji itu, tantangan utama ada pada distribusi makanan.
Tahun lalu, selama fase Armuzna, jamaah haji mendapat konsumsi 15 kali dan 1 kali snack berat. Tahun ini, strategi terus dimatangkan agar seluruh jamaah haji mendapatkan makanan yang baik dan tepat waktu.
“Yang paling krusial itu nanti di Armusna, Aropa, Musdalifah, dan Mina. Nah, harus dipastikan semuanya bekerja di bawah satu komando,” tegas Dahnil.
Kerja Sama Petugas Haji dalam Distribusi Makanan
Nantinya, semua petugas haji meski tidak bertugas di bagian konsumsi, akan dikerahkan untuk membantu distribusi bila diperlukan. Khususnya di fase Armuzna. Sehingga tidak ada jamaah yang tertinggal dalam hal makanan.
“Itulah pentingnya kenapa petugas haji itu dilatih semi militer. Selain memang ada permasalahan kerja fisik yang sangat berat, tapi kemudian ada kewajiban untuk memahami rentang komando dan bekerja di satu tim yang solid,” imbuh Dahnil.
Bagikan ke:
