JAKARTA,
Peringatan Keras dari Laporan Global Risks Report 2026
Laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF) memberikan peringatan serius terhadap stabilitas perekonomian global, termasuk di Indonesia. Salah satu risiko utama yang muncul adalah minimnya peluang ekonomi, yang kini menjadi salah satu dari sepuluh risiko terbesar dalam jangka pendek.
Ancaman ini berkaitan langsung dengan meningkatnya tingkat pengangguran, masalah upah yang tidak seimbang, serta semakin terbatasnya mobilitas pekerja muda. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, risiko ini berpotensi memburuk di tengah percepatan transformasi teknologi dan tekanan ekonomi makro.
Global south atau belahan bumi selatan merujuk pada negara-negara berkembang yang mencakup beberapa wilayah di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Dalam laporan WEF, dunia saat ini sedang menghadapi krisis berlapis, mulai dari ancaman krisis iklim, konfrontasi geopolitik, hingga potensi krisis ketenagakerjaan yang serius.
Dampak Teknologi pada Pasar Kerja
Salah satu isu utama yang disoroti dalam laporan tersebut adalah dampak adopsi kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar kerja. AI tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga diprediksi akan mendisrupsi struktur pekerjaan secara besar-besaran.
Menurut data WEF, sekitar 54 persen eksekutif bisnis memperkirakan bahwa AI akan menggantikan pekerjaan yang ada, sementara hanya 24 persen yang yakin akan ada penciptaan pekerjaan baru. Ketimpangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemajuan yang tersendat, karena kecepatan adopsi teknologi melampaui kemampuan sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Kondisi ini menuntut adaptasi cepat dari angkatan kerja yang ada. Bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi, temuan ini menjadi alarm dini. WEF mencatat bahwa sekitar 44 persen keterampilan inti pekerja saat ini diproyeksikan akan terganggu atau tidak lagi relevan pada 2027.
Tantangan Pendidikan dan Pelatihan
Tanpa program pelatihan ulang (reskilling) yang masif, kesenjangan keterampilan (skills gap) ini dapat memicu tingkat pengangguran struktural. Keadaan ini diperparah oleh persepsi negatif terhadap AI di negara berpenghasilan menengah dan rendah.
Hanya sekitar sepertiga responden di kelompok negara ini yang meyakini AI akan membawa dampak positif, di tengah kekhawatiran hilangnya mata pencaharian tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.
Tekanan Ekonomi Makro
Selain teknologi, tekanan ekonomi makro turut mempersempit peluang kerja. WEF menyoroti inflasi yang persisten dan potensi penurunan ekonomi sebagai risiko baru yang mengancam stabilitas ketenagakerjaan.
Tekanan biaya hidup dan perlambatan pertumbuhan berisiko mendorong perusahaan melakukan efisiensi, mulai dari pembekuan rekrutmen hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini pada akhirnya memperburuk risiko kurangnya peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dampak Sosial yang Mungkin Terjadi
Dalam skenario terburuk, WEF memperingatkan bahwa krisis peluang ekonomi tanpa intervensi kebijakan yang memadai dapat memicu dampak sosial lanjutan, termasuk meningkatnya aktivitas ekonomi ilegal sebagai alternatif mata pencaharian.
“Krisis ekonomi ini dapat memicu dampak sosial turunan. Seperti meningkatnya aktivitas ekonomi ilegal sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang terdesak,” ungkap laporan tersebut.
Bagikan ke:
