Momen di Gerbong Kereta dan Refleksi tentang Obesitas
Beberapa minggu yang lalu, saat aku duduk di dalam KRL menuju Jakarta Kota, aku melihat seseorang yang badannya gemuk sekali duduk di seberangku. Ukurannya mungkin setara dengan tiga orang dewasa normal. Melihatnya, reaksiku bukanlah menghakimi, melainkan refleks menunduk ke bawah. Ah, autoingat perutku sendiri yang juga kulihat semakin maju.
Momen kecil di gerbong kereta itu memantik sebuah renungan panjang. Baiklah, kali ini aku ingin menceritakan soal kelebihan lemak dalam tubuh kita ini dari perspektif Bioevolusi.
Masalah Kesehatan dan Sanksi Sosial
Kita tidak bisa memungkiri bahwa dalam kacamata modern, kondisi fisik seperti yang kulihat di KRL itu membawa dua beban berat sekaligus: masalah kesehatan dan sanksi sosial.
Secara medis, tumpukan lemak terutama di area perut, adalah bom waktu. Ia bukan sekadar “bagasi tambahan”, melainkan jaringan aktif yang memicu peradangan kronis, mengundang diabetes, memaksa jantung bekerja ekstra keras, hingga merusak sendi yang harus menopang beban berlebih.
Di sisi lain, ada beban estetika. Kita hidup di zaman yang memuja kelangsingan. Ketika tubuh melebar, ada stigma sosial yang menempel, seolah-olah itu adalah tanda kemalasan atau kegagalan mengendalikan diri.
Mengapa Tubuh Kita Mudah Gemuk?
Namun, pertanyaannya: Jika obesitas begitu berbahaya dan merugikan, mengapa tubuh kita begitu mudah melakukannya? Mengapa “menjadi gemuk” itu sangat mudah, sementara “menjadi kurus” butuh perjuangan setengah mati?
Jawabannya cukup mengejutkan: Kita menjadi gemuk bukan karena tubuh kita rusak, melainkan karena tubuh kita bekerja terlalu baik dalam menjalankan fungsi purbanya.
Untuk memahaminya, kita perlu memutar waktu mundur ke masa Pleistosen. Di masa itu, nenek moyang kita hidup di lingkungan yang brutal. Makanan adalah hal yang langka dan tidak pasti. Di era kelangkaan itu, kalori adalah mata uang paling berharga.
Bayangkan seorang pemburu-pengumpul yang menemukan pohon buah yang sedang ranum. Pilihan paling cerdas saat itu bukanlah “makan secukupnya”, melainkan “makan sebanyak-banyaknya sekarang juga”.
Kenapa? Karena besok atau lusa, dia mungkin tidak menemukan makanan sama sekali.
Di sinilah seleksi alam bekerja. Individu yang metabolismenya “boros”, yang cepat membakar kalori dan tetap langsing, justru adalah mereka yang pertama kali mati saat musim paceklik tiba.
Sebaliknya, individu yang punya “bakat” biologis untuk makan banyak dan mengubah setiap kelebihan kalori menjadi lemak tubuh dengan cepat, adalah para penyintas.
Lemak tubuh, dalam sejarah evolusi kita, adalah polis asuransi. Itu adalah baterai cadangan untuk memastikan kita tidak mati kelaparan. Gen-gen yang mengatur penimbunan lemak ini, yang sering disebut sebagai Thrifty Gene atau Gen Hemat, adalah piala kemenangan evolusi.
Kita semua adalah keturunan dari orang-orang yang sukses menjadi gemuk di masa lalu.
Ketidakcocokan Evolusioner
Masalah utamanya hari ini adalah mismatch atau ketidakcocokan evolusioner. Perangkat lunak biologis tubuh kita masih terjebak di mode “bertahan hidup di zaman batu”, sementara fisik kita hidup di abad ke-21 yang serba instan.
Revolusi Pertanian dan Industri mengubah segalanya terlalu cepat. Tiba-tiba, kita menciptakan lingkungan yang banjir kalori. Makanan tinggi gula dan lemak tersedia 24 jam. Namun, otak purba kita tidak tahu bahwa dunia sudah berubah.
Bagian otak yang mengatur nafsu makan belum mendapatkan update firmware. Setiap kali melihat makanan enak, otak masih berteriak: “Makan! Simpan sebagai lemak! Siapa tahu besok kiamat!” Padahal, kulkas kita selalu penuh.
Lebih parah lagi, gaya hidup kita berubah drastis. Dulu, untuk mendapatkan makan, kita harus berlari dan berburu. Sekarang, ribuan kalori bisa didapat hanya dengan duduk manis memesan lewat aplikasi. Kita memasukkan input energi zaman modern ke dalam mesin tubuh yang dirancang untuk output energi zaman purba.
Perspektif Drifty Gene Hypothesis
Selain itu, ada perspektif menarik lain yang disebut Drifty Gene Hypothesis atau Hipotesis Gen Hanyut. Teori ini berargumen bahwa mungkin kita menjadi gemuk bukan hanya karena tubuh “ingin” menimbun lemak, tapi karena alam berhenti “menghukum” kita karena gemuk.
Jutaan tahun lalu, jika manusia terlalu gemuk, mereka akan lambat berlari dan dimangsa predator. Jadi, ada batas atas seberapa gemuk manusia bisa bertahan.
Namun, sejak manusia menguasai api dan senjata, kita menjadi top pedator. Risiko dimangsa binatang buas turun drastis. Akibatnya, mutasi genetik yang membuat tubuh cenderung gemuk tidak lagi dibersihkan oleh seleksi alam. Gen-gen itu “hanyut” dan bertahan hingga kini.
Kesimpulan
Melihat obesitas dari sudut pandang ini memberikan pemahaman yang lebih adil. Epidemi obesitas bukanlah sekadar bukti keruntuhan moral individu. Ini adalah konsekuensi logis dari pertemuan antara biologi purba yang efisien dengan lingkungan modern yang obesogenik.
Tubuh kita tidak rusak; ia hanya sedang menjalankan tugas utamanya: menjaga kita agar tidak mati kelaparan, di dunia yang ironisnya justru membunuh kita dengan kelimpahan makanan.
Tantangan terbesar kita hari ini adalah melawan jutaan tahun pemrograman biologis dengan kesadaran penuh, dengan kebulatan tekad.
Bagikan ke:
