Sedikit tidak umum. Mungkin itu yang lidah orang-orang Jawa Timur rasakan ketika pindah ke kota-kota di Jawa Tengah dan merasakan masakan-masakannya yang cenderung lebih sweet dibandingkan dengan daerah asalnya. Enak, sih. Tapi karena kadung dijejali dengan budaya asin dan pedas khas Jawa Timur, jadi untuk bisa benar-benar menikmati masakan Jawa Tengah perlu waktu perkenalan yang cukup intensif dan lama. Mungkin adaptasi berbeda beda di setiap lidah orang. Tapi ini hanya sekedar opini, yah.
Hal ini juga yang saya alami sebagai orang Jawa Timur yang seketika pindah ke Jawa Tengah bagian tengah. Boyolali, Salatiga, Semarang, Grobogan, dan sekitarnya menyuguhkan makanan yang sangat enak tapi belum familiar di lidah saya. Awal tahun 2022 saya datang dan menetap di Salatiga, tapi ketika hendak makan di warung dan ‘emak’ warung menawarkan sambel tumpang, saya sedikit asing dengan namanya.
“Sambel Tumpang? Apa itu mak?”, Tanya saya. Dengan logat halus khas Jawa Tengah dan dengan sapaan ‘nok’ ke saya (panggilan untuk anak perempuan muda), emak mulai menjelaskan bahwa tumpang itu bumbu dasarnya adalah tempe bosok. Diberi sedikit kuah santan dan biasanya isiannya adalah tahu dan tempe dengan citarasa pedas dan manis. Kalia beruntung, ada kulit sapinya juga. Di warung emak, saya biasanya memesan nasi sambel tumpang dengan ayam goreng. Ini sajian tanpa kuah tapi tidak begitu kering. Menarik buat saya, karena di Jawa Timur saya belum pernah coba makan, bahkan belum mendengar istilah Sambel Tumpang. Rasanya enak, cukup masuk di lidah saya. Apalagi jika dimakan dengan nasi liwet hangat dengan segelas teh di pagi hari, dijamin makan dengan lauk sambel tumpang ini bakal jadi pilihan menu mengesankan.
Tumpang
Setelah berkeliling ke sekitar kota Salatiga, saya melihat banyak yang menyuguhkan varian Tumpang lainnya. Yaitu Bubur Tumpang. Citarasa Bubur Tumpang hampir sama dengan Sambel Tumpang Original, hanya saja dimakan dengan bubur putih. Tekstur Tumpang di atas bubur ini juga dibuat sedikit nyemek supaya terlihat penuh isian apabila penyuka bubur versi diaduk menginginkan buburnya diaduk.
Selain Bubur Tumpang, ada juga Tumpang Koyor. Wah, yang ini lebih sedap lagi karena ini adalah versi Tumpang yang cukup banyak kuahnya dan disiramkan ke nasi hangat. Biasanya ditambahkan dengan kulit sapi yang tipis itu loh, apa namanya ya? Untuk teman-teman yang suka makan versi basah, Tumpang Koyor bisa jadi salah satu menu pilihan kalau berkunjung ke Jawa Tengah apalagi Salatiga.
Ketiga versi Tumpang ini memiliki basic bumbu yang sama, perbedaannya hanya terletak di konsistensi kuah yang dimiliki. Rasanya, kenikmatannya dan juga tempe bosok-nya tetap nikmat. Saya tidak asing dengan citarasa tumpang ini, karena mungkin ini adalah versi bumbu lodeh-nya Jawa Timur, semakin banyak tempe bosok, semakin nikmat rasa lodehnya.
Sayur ‘Kayu Putih’
Adas ya. Bagi sebagian orang yang berasal dari luar Jawa Tengah pasti masih asing dengan Adas. Adas adalah sejenis sayuran yang bisa dimakan dan biasa dijadikan salah satu kondimen di menu pecel dan nasi jagung. Adas hanya bisa tumbuh di sekitar rawa dan di tempat-tempat berudara dingin. Buat yang suka, sayuran ini segar dan menyejukkan, Kenapa saya bilang begitu? Karena rasa dari daun adas sendiri seperti minyak kayuputih. Bisa membayangkan makan pecel dengan daun kayuputih?
Mungkin sedikit asing, tapi nyatanya warga Salatiga suka sekali dengan adas. Selain diolah rebusan dan dicampur dengan pecel atau nasi jagung, adas juga bisa diolah menjadi sayur bertipe lodeh. Ya, lodeh adas. Beberapa kali teman kantor saya membawakan lodeh adas dan mereka biasa menyruput kuah bercitarasa kayuputih itu dengan nikmatnya.
Saya yakin, kalau untuk yang lidahnya sudah familiar, adas akan jadi menu favorit dan sayur tersegar yang pernah teman-teman makan. Lidah saya sendiri masih belum bisa ‘berkencan’ secara romantis dengan adas karena aroma kayuputihnya. Tapi untuk penyuka sajian kuliner unik, adas bisa banget dijadikan pilihan.
Nasi Jagung Beda Tipe
Membandingkan sajian nasi jagungnya Jawa Tengah utamanya di Salatiga dan sekitarnya, jangan harap teman-teman akan menemukan campuran jagung kuning dengan nasi pendek-pendek seperti di Jawa Timur. Nasi Jagung/ampok di Jawa Timur cenderung bertekstur tebal-tebal dan menggumpal. Kalau di Jawa Tengah, nasi jagungnya lebih berwarna putih dan dan ringan. Jadi kalau makan nasi jagung khas Jawa Tengah, saya sarankan teman-teman harus memakannya dengan sayur yang cukup banyak agar tidak seret. Tapi justru di situlah kenikmatan menyantap nasi jagung khas Jawa Tengah.
Lauknya relatif sama dengan nasi jagung Jawa Timur. Ada urapan, sayur mayur dan juga sambal terasi. Sayur adas dan pepaya muda yang diserut mendominasi untuk penyempurna di hidangan ini. Paling sempurna lagi, kalau teman-teman menyantapnya dengan rempeyek teri. Dijamin langsung merasa hidup dan bersemangat kembali.
Urap vs Gudangan & Gendar vs Puli
Beberapa waku berada di Jawa Tengah, saya menemukan bentuk berbeda dari dua jenis makanan ini. Saya melihat Urap, tapi mereka menyebut Gudangan. Saya melihat Puli, tapi mereka menyebut Gendar. Rasa urap dan kondimennya sama persis dengan yang biasa kita temui di Jawa Timur. Ada sayur kenikir, mentimun, kacang panjang, kubis, dan berbagai macam sayuran urap lain. Hanya saja namanya sangat berbeda. Gudangan.
Kalau puli, mungkin tidak semua masyarakat Jawa Timur familiar dengan puli. Puli sendiri merupakan nasi ketan yang dipadatkan dengan bahan pengenyal. Jaman dulu, masyarakat menggunakan puli sebagai pengganti nasi. Sama seperti puli, gendar yang ada di Jawa Tengah juga dipadatkan sedemikian rupa. Hanya saja, gendar atau puli-nya Jawa Tengah sedikit lebih renggang dan tidak sepadat puli di Jawa Timur.
Gendar biasa dikonsumsi dengan kondimen-kondimen khas pecel seperti sayuran, peyek, dan tentunya sambel pecel. Kuliner ini sangat enak dan nikmat apabila disantap pagi hari dengan segelas teh hangat. Kuliner Gendar Pecel ini menurut saya sangat unik karena selama hampir tiga puluh tahun hidup di Jawa Timur, saya belum pernah membayangkan dapat mengkombinasikan puli dengan pecel. Atau saya yang kurang tau tentang modifikasi dan inovasi dari makanan ini, entahlah.
Kuliner Indonesia memang tidak pernah ada matinya. Kenikmatan yang begitu unik dengan rempah yang ‘nyah nyoh’ dan tidak main-main dalam proses memasaknya, adalah salah satu ciri khas masakan Indonesia. Jawa Timur dan Jawa Tengah, bagaimanapun perbedaan rasa makanannya, tetap memiliki tempat di hati penikmat kuliner khas daerah salah satunya adalah saya. Memang perlu sedikit seni untuk meromantisasi perbedaan citarasa makanan khas Jawa Tengah ke lidah Jawa Timur kita, tapi uniknya kuliner Jawa Tengah tetap mengesankan jiwa —
Bagikan ke:
