Apel upacara TNI Angkatan Darat Brigade Zeni. Sumber: Istimewa.
JAKARTA – Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) resmi mengumumkan kesiapan satu brigade personel yang didominasi oleh satuan Zeni TNI AD untuk diberangkatkan ke Jalur Gaza, Palestina. Pasukan ini dipastikan akan menjadi komponen militer asing pertama yang mendarat di Gaza di bawah bendera International Stabilization Force (ISF).
Fokus Utama: Rehabilitasi dan Demiliterisasi
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, menegaskan bahwa pemilihan satuan Zeni sebagai tulang punggung brigade ini didasarkan pada kebutuhan mendesak di lapangan. Brigade ini nantinya tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memulihkan infrastruktur vital yang hancur total.
“Sesuai perintah Panglima TNI dan Presiden, kami menyiapkan satu brigade, sekitar 5.000 hingga 8.000 personel. Fokusnya adalah Zeni konstruksi, Zeni jandak (penjinak bahan peledak), serta tim medis. Mereka adalah kunci untuk membuka akses bantuan kemanusiaan,” ujar Jenderal Maruli di Jakarta, Rabu (11/02).
Rincian Kekuatan Pasukan RI di Gaza
Berdasarkan data riset yang dihimpun dari lingkungan Mabes TNI, struktur brigade ISF asal Indonesia ini akan terdiri dari:
- Batalyon Zeni Konstruksi: Bertugas membangun hunian sementara, memperbaiki instalasi air, dan memulihkan jaringan listrik di wilayah selatan Gaza (Rafah-Khan Younis).
- Batalyon Kesehatan: Menyiapkan rumah sakit lapangan dengan kapasitas bedah dan perawatan intensif bagi warga sipil.
- Satuan JOM (Penjinak Bahan Peledak): Melakukan sterilisasi wilayah dari sisa-sisa bom atau ranjau pasca-konflik guna memastikan area aman bagi pengungsi.
- Pasukan Pengaman (Infanteri): Bertugas mengawasi garis gencatan senjata dan menjaga depot penyimpanan senjata yang diserahkan dalam proses demiliterisasi.
Pembangunan Markas di Selatan Gaza
Laporan terbaru dari KAN News menyebutkan bahwa tim aju (pendahulu) Indonesia akan segera terbang ke pusat koordinasi di Kiryat Gat untuk finalisasi teknis. Lokasi penempatan pasukan RI telah ditentukan di area strategis antara Kota Rafah dan Khan Younis. Persiapan bangunan dan perumahan untuk prajurit TNI di lokasi tersebut diperkirakan memakan waktu beberapa minggu sebelum kedatangan pasukan utama.
Kepatuhan pada Rules of Engagement (RoE)
TNI menekankan bahwa operasi ini berada di bawah mandat internasional Board of Peace. Prajurit TNI tidak akan melakukan operasi ofensif atau pelucutan senjata secara proaktif terhadap faksi lokal, melainkan bertindak sebagai pengawas perdamaian dan penjaga perbatasan.
“Prinsipnya kita menjaga stabilitas. Prajurit kita dilatih untuk berinteraksi dengan warga sipil secara humanis, yang selama ini menjadi keunggulan TNI di misi-misi PBB,” tambah keterangan dari Puspen TNI.
Bagikan ke:
