Kinerja Perdagangan Luar Negeri Indonesia Tahun 2025 Menunjukkan Peningkatan yang Signifikan
Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada tahun 2025 tercatat dalam kondisi positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia tetap berada di zona surplus, bahkan bertahan selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Hal ini menunjukkan kestabilan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa pada Desember 2025, neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar USD 2,51 miliar. Surplus tersebut terutama didorong oleh kinerja neraca perdagangan non-migas yang mencatat surplus sebesar USD 4,60 miliar.
Ateng menjelaskan bahwa beberapa komoditas utama menjadi penopang surplus tersebut. Di antaranya adalah lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72). Komoditas-komoditas ini memiliki peran penting dalam meningkatkan posisi perdagangan Indonesia.
Namun, pada periode yang sama, neraca perdagangan migas masih mengalami tekanan. Defisit migas pada Desember 2025 tercatat sebesar USD 2,09 miliar, dengan penyumbang defisit terbesar berasal dari minyak mentah dan hasil minyak. Meskipun demikian, secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 menunjukkan hasil yang lebih kuat.
Neraca perdagangan barang Indonesia tercatat surplus sebesar USD 41,05 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus ini terutama dipengaruhi oleh surplus komoditas non-migas yang mencapai USD 60,75 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 19,70 miliar.
Mitra Dagang Utama yang Berkontribusi pada Surplus
Berdasarkan mitra dagang, Ateng merinci tiga negara yang menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia sepanjang 2025. Amerika Serikat menempati posisi pertama dengan surplus sebesar USD 18,11 miliar. Diikuti oleh India dengan surplus sebesar USD 13,49 miliar, dan Filipina dengan surplus sebesar USD 8,42 miliar.
Sementara itu, negara-negara yang menjadi penyumbang defisit terbesar adalah Tiongkok, dengan defisit sebesar USD 20,50 miliar. Diikuti oleh Australia dengan defisit sebesar USD 5,65 miliar, serta Singapura dengan defisit sebesar USD 5,47 miliar.
Penutup
Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan tren positif yang signifikan. Dengan surplus yang terus berlanjut, Indonesia berhasil mempertahankan posisi ekonominya di tengah tantangan global. Pertumbuhan ini tidak hanya didorong oleh komoditas non-migas, tetapi juga oleh hubungan dagang yang stabil dengan mitra dagang utama. Meski ada tekanan dari sektor migas, kinerja keseluruhan perdagangan Indonesia tetap menunjukkan optimisme untuk masa depan.
Bagikan ke:
