Opini Adikarto, — Menikah adalah hal yang terdengar indah, di mana dua hati saling disatukan dalam ikatan resmi, serta kesakralannya berlaku selamanya. Abadi.
Dengan kata lain, pernikahan adalah prosesi yang membuat cinta dikukuhkan. Saya sendiri belum pernah ada di dalam sebuah ikatan di bawah ijab qabul dan disaksikan secara langsung oleh wali hakim dalam pengukuhan di bawah penghulu, namun bertahun-tahun saya mencoba mempelajari ini agar benar-benar tahu konsepnya.
Pernikahan pertama dalam Islam, dan juga pernikahan manusia pertama di dunia, adalah antara Nabi Adam dan Hawa. Pernikahan ini dinikahkan langsung oleh Tuhan di surga, dengan disaksikan oleh para malaikat. Dulu, sepertinya karena jumlah manusia tidak banyak, maka kompleksitas pernikahan tidak seperti sekarang. Pernikahan zaman sekarang sudah bukan lagi mengenai agama saja, melainkan membawa pengaruh budaya yang berlapis, sekaligus ada campur tangan society di dalamnya.
Saat ini pernikahan bukan hanya media bersatunya dua jiwa dalam biduk rumah tangga, namun lebih luas lagi. Pernikahan mencampurkan budaya dan latar belakang keluarga yang sangat besar. Dampaknya…
Satu hal yang saya sadari, pernikahan menimbulkan potensi kesepian mendalam dari sisi seorang perempuan.
Mereka adalah pihak yang mungkin lebih menerima dampak pernikahan. Sekalipun tidak menutup kemungkinan bahwa perubahan besar akan terjadi juga dari sisi pria. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya mencoba menyimpulkannya dalam 3 bagian berbeda
Physically
Perempuan secara fisik memiliki hormon yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan memiliki lebih banyak progesterone dan estrogen yang mempengaruhi fisik dan perasaan. Fluktuasi kedua hormon ini sepanjang siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh dan suasana hati. Estrogen sering disebut sebagai “hormon feminin” dan memainkan peran sentral dalam perkembangan dan fungsi tubuh wanita, serta kesejahteraan emosionalnya.
Sedangkan hormon utama pada pria yang paling signifikan mempengaruhi fisik dan perasaan adalah testosteron. Testosteron adalah hormon seks pria utama. Hormon ini memainkan peran krusial dalam banyak aspek kehidupan pria. Kadar testosteron yang seimbang dikaitkan dengan suasana hati yang stabil.
Pada perempuan sendiri terdapat potensi lonjakan hormon yang lebih sering menyebabkan perempuan menjadi sensitif secara perasaan. Bahkan dalam hitungan mingguan. Dalam satu bulan, fase yang terjadi pada fisik perempuan adalah mengenai menstruasi sekaligus masa ovulasi.. Hal ini terjadi dalam satu bulan sehingga lonjakan hormon dapat mempengaruhi stabilitas perasaan juga.
Hal lainnya adalah tubuh perempuan didesain memiliki reproduksi sentral berupa rahim yang akan menjadi tempat bagi janin yang tumbuh di dalam sebuah pernikahan. Perubahan fisik ketika hamil juga cukup kompleks. Mulai dari peningkatan berat badan, menurunnya beberapa keelokan fisik seperti pada payudara, kulit, perut, lengan dan kaki dapat menyebabkan perubahan signifikan pada kepercayaan diri seorang perempuan. Saat sudah memiliki anak, seorang perempuan tidak bisa lepas dari peran sosialnya sebagai seorang ibu. Ibu dan anak memiliki kemelekatan yang bersifat selamanya karena secara fisik, mereka terhubung.
Socially
Seorang wanita akan mengalami perubahan besar secara sosial setelah menikah. Label istri, dan juga seorang ibu akan melekat. Belum lagi, label yang di era sekarang sedang menjadi status krusial. Yap – Menantu.
Akhir-akhir ini banyak sekali ulasan mengenai hubungan menantu dan mertua yang tidak selalu harmonis. Ada kalanya perempuan bergesekan ideologi dengan mertua perempuan. Hal ini cenderung terjadi dikarenakan seorang ibu akan lebih membela anak laki-lakinya. Ibu tidak rela jika anak laki-lakinya dirugikan, tersakiti ataupun merasa dipersalahkan oleh orang lain. Dalam hal ini adalah istri. Bermula dari hal itu, kadang seorang mertua akan lebih menyudutkan seorang perempuan bukan karena kesalahan menantunya, melainkan secara naluri ada dorongan untuk melindungi anak laki-lakinya.
Selain status sosial sebagai menantu, menyandang gelar sebagai seorang istri juga memungkinkan seorang perempuan mendapatkan tuntutan lain. Istri sering dianggap sebagai pendamping seorang laki-laki yang disebut sebagai suami. Dalam status sosial utamanya di Indonesia, istri memiliki peranan sebagai tradisional secara domestik sebagai sumber pendidikan pertama anak maupun mengerjakan pekerjaan umum dalam rumah tangga. Hal tersebut sepertinya masih belum bisa bergeser dari budaya di dalam masyarakat bahwa peranan istri sebagai ‘servant’ dalam rumah tangga.
Di dalam budaya kita, sering muncul spekulasi bahwa istri haruslah rajin dan penurut. Walaupun banyak rumah tangga modern sudah menjadikan peranan istri setara dengan suami, namun dalam masyarakat tradisional hal tersebut masih berlaku. Umumnya, setelah menikah istri akan ikut dengan suami. Seorang istri akan masuk ke dalam keluarga besar suami sebagai anggota keluarga baru. Yang otomatis, akan menggeser peranannya jauh lebih dalam lagi. Istri mengalami tuntutan tidak tertulis untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, yaitu keluarga suami. Oleh karena itu, sebagai seorang istri, biasanya wanita ‘harus’ siap mendalami berbagai peran baru setelah menikah.
Religious Perspective
Secara agama saya tidak dapat memberikan gambaran secara luas. Hanya menurut perspektif agama Islam saja. Dalam Islam, seorang perempuan yang sudah menikah berarti seluruh tanggung jawab atasnya berpindah ke suami. Tidak berarti putus hubungan dengan ayahnya. Sebelum menikah, nafkah seorang perempuan merupakan kewajiban ayahnya namun setelah menikah, kewajiban ini sepenuhnya beralih kepada suaminya.
Suami wajib memberikan nafkah yang layak kepada istrinya, bahkan jika istrinya kaya atau memiliki penghasilan sendiri. Dalam Islam, suami diberikan peran sebagai pemimpin atau penanggung jawab dalam rumah tangga, yang meliputi kewajiban membimbing, melindungi, dan menafkahi istri serta keluarganya. Namun dalam hal ini, dikatakan bahwa suami memiliki hak lebih tinggi dari pada ayah kandung perempuan itu sendiri. Sehingga, tidak jarang di tangan laki-laki yang tidak memiliki kebijaksanaan, hukum ini akan disalahgunakan untuk mengatur seorang wanita lebih daripada orangtuanya sendiri.
Setelah menikah, wanita benar-benar sendiri.
Belum lama saya menyadari fakta ini. Ketika melihat beberapa kasus teman-teman saya bahkan dalam hal ibu saya sendiri. Perempuan benar-benar sendiri. Karena secara tanggung jawab, mereka berpindah kewajiban untuk lebih berbakti pada suami daripasa keluarganya. Secara fisik, kehidupan perempuan akan berubah sejak kehamilan. Ada tanggung jawab yang lain dengan hadirnya manusia baru. Secara sosial, perempuan menyandang status yang kompleks dan yang tentungan secara sosial harus diikuti, karena jika tidak maka seorang perempuan harus berani menanggung stigma lain dari masyarakat.
Hal ini terjadi karena sebenarnya pernikahan adalah hal yang sangat kompleks dengan mempersatukan bukan hanya dua kepala, melainkan banyak kepala dengan latar belakang dan pengalaman berbeda. Menurut saya, itulah mengapa dalam Islam pernikahan disebut sebagai ‘ibadah seumur hidup’ karena menjalaninya harus dibarengi dengan tanggung jawab yang sebegitu besarnya.
Wanita berhak mendapatkan kebebasannya dan hidupnya yang sudah dijalani sebelum menikah. Hal tersebut hendaknya dipahami oleh laki-laki.
Sekalipun, secara keabsahan pernikahan sendiri dipermudah dengan adanya ijab qabul dan mahar. Yang pabila terpenuhi maka sebuah pernikahan dinyatakan sah. Kembali lagi, kehidupan setelah pernikahan adalah ‘tantangan’ yang sebenarnya.
Mengetahui bahwa perempuan benar-benar sendiri setelah menikah, semestinya laki-laki menjadi seseorang yang benar-benar menanggung jawabi perempuan. Tidak hanya perkara finansial, melebihi itu. Memastikan dalam masa ‘lepasnya’, seorang laki-laki akan menjaga keamanan perempuan baik secara fisik maupun mental. Laki-laki semestinya menyadari bahwa setelah menikah, perempuan memberikan ‘hidupnya’ untuk orang lain yang tidak sedarah dengannya.
Saya tekankan lagi, perempuan memberikan hidupnya untuk orang lain yang tidak sedarah dengannya.
Dalam kebijaksanaan seorang laki-laki yang tepat, agaknya kebutuhan perempuan akan terpenuhi sekalipun hidupnya berubah. Dalam keluarga yang berpemikiran terbuka, seorang perempuan yang statusnya telah berubah menjadi istri juga akan lebih merasa diterima.
Bukan sebagai individu ‘baru’ yang harus memaksakan diri beradaptasi, namun sebagai anggota baru yang dibantu menyesuaikan diri.
Bagikan ke:

0 thoughts on “Ternyata, Perempuan Sendirian Setelah Menikah”