Kolaborasi Baru dalam Staf Pelatih Timnas Indonesia
Pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman, telah resmi diperkenalkan pada 13 Januari lalu dalam acara “Selamat Datang John Herdman” di Jakarta. Dalam acara tersebut, ia juga mengumumkan beberapa rencana strategis untuk Timnas Indonesia. Salah satu langkah menarik yang belum pernah dilakukan sebelumnya adalah meminta asisten pelatih lokal untuk masuk ke dalam staf kepelatihan.
John Herdman ingin melakukan kolaborasi pemikiran dengan pelatih dalam negeri untuk menemukan racikan yang tepat bagi Timnas. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kombinasi visi internasional dan lokal yang bisa menjadi sarana transfer ilmu bagi pelatih dalam negeri.
Beberapa kandidat telah disarankan oleh PSSI, namun untuk pemilihannya diserahkan penuh kepada John Herdman. Berikut beberapa kandidat yang berkemungkinan dapat selaras dengan gaya kepelatihan John:
Kurniawan Dwi Yulianto
Kurniawan Dwi Yulianto (lahir 13 Juli 1976) merupakan legenda sepak bola Indonesia yang diakui sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki tanah air. Ia termasuk dalam segelintir pemain Indonesia yang berhasil menembus sepak bola Eropa. Di awal kariernya, Kurniawan sempat menimba ilmu di tim remaja Sampdoria (Italia) sebelum akhirnya hijrah ke FC Luzern di Swiss.
Setelah gantung sepatu, pria yang akrab disapa “Si Kurus” ini memulai babak baru di dunia kepelatihan pada tahun 2017 sebagai asisten pelatih di Borneo FC. Karierinya terus menanjak saat ia dipercaya menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia pada periode 2018–2019, mendampingi Bima Sakti di tim senior dan Indra Sjafri di Timnas U-23.
Pada Desember 2019, Kurniawan melebarkan sayap ke Malaysia dengan menjabat sebagai Pelatih Kepala Sabah FA hingga September 2021. Pengalaman internasionalnya semakin diperkaya saat ia ditarik masuk ke dalam jajaran staf kepelatihan tim muda Eropa di Italia, Como U-19.
Selama tiga tahun masa baktinya di Como, Kurniawan berkesempatan bekerja sama dengan pelatih-pelatih kelas dunia, mulai dari Dave Bell, Cristian Boscolo, Daniele Buzzegoli, hingga sang maestro Cesc Fabregas.
Meski berkarier di Italia, pada rentang 2023–2025 Kurniawan tetap dipercaya oleh Indra Sjafri untuk kembali membantu staf kepelatihan Timnas Indonesia di level U-22, Senior, hingga persiapan Olimpiade.
Setelah masa jabatannya di Como berakhir pada Juni 2024, ia kini resmi mengabdikan ilmunya di kancah domestik sebagai Direktur Teknis di PSPS Pekanbaru, salah satu klub ambisius di Liga 2 Indonesia.
Zulkifli Syukur

Zulkifli Syukur, yang lahir pada 3 Mei 1984, merupakan sosok bek ikonik dalam kancah sepak bola Indonesia yang dikenal dengan nomor punggung 3, sehingga ia kerap disapa dengan julukan ZS3. Perjalanan kariernya di level klub sangat berwarna, dimulai dari Persim Maros, PKT Bontang, hingga Persmin Minahasa, sebelum akhirnya menjadi pilar di klub-klub besar seperti Arema Indonesia, Persib Bandung, Mitra Kukar, Pusamania Borneo, dan PSM Makassar.
Saat ini, ia masih aktif merumput dengan memperkuat Adhyaksa Farmel FC. Di level internasional, nama Zulkifli mulai mencuat saat ia terpilih sebagai anggota Timnas Indonesia U-23 yang menjalani pemusatan latihan di Belanda di bawah asuhan Foppe de Haan dan Bambang Nurdiansyah.
Puncak pengabdiannya di tim nasional senior terjadi pada ajang AFF Suzuki Cup 2010, di mana ia menjadi pemain kunci di lini pertahanan di bawah arahan pelatih Alfred Riedl.
Transisi karier Zulkifli dari lapangan hijau ke kursi kepelatihan dimulai dengan menjabat sebagai asisten pelatih di klub Liga 2 selama kurang lebih satu tahun. Kepercayaan terhadap kemampuannya semakin meningkat ketika pada 1 Agustus 2024, ia ditunjuk sebagai Pelatih Kepala tim PON Sulawesi Tengah untuk berlaga hingga 15 September 2024.
Setelah tugasnya bersama tim PON selesai, Zulkifli melanjutkan dedikasinya di Persela dengan naik jabatan menjadi Pelatih Kepala hingga masa tugasnya berakhir pada April 2025.
Ricardo Salampessy

Ricardo Salampessy, yang lahir pada 18 Februari 1984, merupakan sosok legendaris dalam kancah sepak bola Indonesia yang kini telah bertransisi menjadi pelatih profesional. Sebelum dikenal luas sebagai pilar pertahanan, ia mengawali karier sepak bolanya di tanah Papua bersama Persiwa Wamena.
Bakatnya yang menjanjikan kemudian membawa Ricardo bergabung dengan Persipura Jayapura pada tahun 2006, klub yang menjadi saksi bisu kesuksesan karier profesionalnya selama bertahun-tahun. Di level internasional, ia mencatatkan debut bersama Tim Nasional Indonesia pada ajang SEA Games 2005 di Manila, yang menjadi awal dari pengabdian panjangnya bagi skuat Garuda.
Memasuki tahun 2023, Ricardo memulai babak baru dalam kariernya sebagai pelatih. Langkah perdananya dimulai dengan menangani tim PON Papua selama kurang lebih empat bulan sebagai bentuk kontribusi awalnya bagi pengembangan talenta muda di daerah asal.
Tak lama kemudian, ia dipercaya memegang tanggung jawab besar sebagai Kepala Pelatih Persipura Jayapura di kompetisi Liga 2. Kepemimpinannya di kursi kepelatihan Mutiara Hitam berlangsung dari tahun 2023 hingga 2025, di mana ia berupaya menjaga martabat klub yang pernah ia bela sebagai pemain.
Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya di Persipura, Ricardo Salampessy melanjutkan petualangan profesionalnya ke Malut United. Hingga saat ini, ia mengemban tugas sebagai salah satu Asisten Pelatih di klub tersebut, membawa pengalaman luasnya di lapangan hijau untuk membantu memperkuat strategi tim.
Alex Aldha Yudi

Alex Aldha Yudi merupakan pelatih fisik profesional yang memiliki rekam jejak mumpuni di level sepak bola nasional. Namanya mulai dikenal luas saat ia dipercaya menjadi asisten pelatih bidang fisik bagi Timnas Indonesia pada tahun 2020 hingga 2021, di mana ia bekerja langsung di bawah arahan pelatih kepala Shin Tae-yong.
Sebelum mendampingi skuat Garuda putra, pria asal Padang ini juga pernah mengabdi sebagai asisten pelatih untuk Timnas Putri Indonesia pada tahun 2018. Karier profesionalnya berlanjut ke level klub ketika ia resmi direkrut oleh PSIS Semarang pada Februari 2023 untuk memperkuat staf kepelatihan Mahesa Jenar.
Dengan mengantongi lisensi A AFC, Alex diberi tanggung jawab besar untuk meningkatkan ketahanan dan performa fisik para pemain di tengah ketatnya persaingan kompetisi Liga 1. Pengalamannya menangani pemain di level internasional menjadi alasan utama manajemen PSIS mendatangkannya guna mendongkrak standar kebugaran tim.
Di luar aktivitasnya di pinggir lapangan, Alex Aldha Yudi juga merupakan seorang akademisi yang memiliki dedikasi tinggi terhadap ilmu keolahragaan. Ia berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) dan telah berhasil menyelesaikan pendidikan tertinggi dengan menyandang gelar Doktor.
Kombinasi antara latar belakang pendidikan formal yang kuat dan pengalaman praktis di lapangan menjadikannya salah satu pelatih fisik yang sangat diperhitungkan di dunia sepak bola tanah air.
Bagikan ke:
