LAMONGAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mencatat bahwa dampak banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero semakin meluas. Dari data yang diperoleh, sejumlah besar rumah terendam air dan puluhan ribu warga terdampak di beberapa wilayah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, M Na’im, menjelaskan bahwa banjir ini telah menjangkau 44 desa yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah, dan Deket.
“Pada tanggal 16 Januari, kami mencatat sebanyak 4.986 rumah terendam dengan 4.861 kepala keluarga atau sekitar 20.850 jiwa yang terdampak. Namun, hasil pemantauan di beberapa titik menunjukkan penurunan muka air sekitar dua hingga tiga sentimeter karena dua hari terakhir tidak terjadi hujan deras,” ujarnya di Lamongan, Jawa Timur, pada Sabtu (18/1/2026).
Na’im menambahkan bahwa banjir tidak hanya mengganggu permukiman warga, tetapi juga berdampak pada sekitar 7.125 hektare lahan pertanian dan tambak. Selain itu, aktivitas di 92 lembaga pendidikan di wilayah terdampak juga terganggu.
Dalam rangka menangani situasi ini, BPBD Lamongan terus melakukan upaya penanganan terpadu bersama organisasi perangkat daerah terkait. Hal ini mencakup pendistribusian logistik serta dukungan teknis dalam pengendalian banjir.
Sampai saat ini, BPBD telah menyalurkan bantuan logistik berupa beras sebanyak 14 ton kepada warga terdampak. Namun, distribusi bantuan logistik lainnya masih dilakukan secara bertahap setiap hari.
“Droping logistik dilakukan setiap hari sehingga rekapitulasi bantuan secara keseluruhan masih dalam proses,” jelasnya.
Selain penanganan logistik, upaya pengendalian banjir juga didukung oleh Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan BPBD Provinsi Jawa Timur. Dalam operasi ini, garam ditaburkan menggunakan pesawat Cessna untuk menekan potensi hujan di wilayah hulu.
Di sisi lain, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Kabupaten Lamongan memastikan operasi siaga banjir di Stasiun Pompa Kuro tetap berlangsung.
Kepala SDABK Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, menyatakan bahwa pompa masih dioperasikan karena tinggi muka air Bengawan Solo masih sekitar 120 sentimeter di atas tinggi muka air Kali Blawi. Meskipun demikian, mulai terlihat tren penurunan di wilayah hulu.
“Sudah ada tren penurunan di hulu. Kami berharap tidak ada hujan lanjutan agar pintu air Kuro dapat segera dibuka,” katanya.
Bagikan ke:
