JAKARTA — Dalam bukunya yang berjudul Broken Strings, Aurelie Moeremans menceritakan pengalaman pribadinya menghadapi manipulasi emosional sejak usia 15 tahun. Ia menggambarkan bagaimana dirinya menjadi korban child grooming oleh seseorang yang usianya hampir dua kali lebih tua darinya. Dalam bukunya, ia menjelaskan tentang proses manipulasi, kontrol, dan langkah-langkah untuk belajar menyelamatkan diri sendiri.
“Aku menulis buku ini karena ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming saat berusia 15 tahun oleh seseorang yang jauh lebih tua. Ini tentang bagaimana aku belajar melawan manipulasi dan mencari jalan keluar dari situasi itu,” tulis Aurelie dalam postingan Instagramnya pada 3 Januari 2026.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan child grooming? Berikut penjelasan psikolog dan grafolog, Joice Manurung, dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Sabtu (17/1/2026).
Apa Itu Child Grooming?
“Kata child grooming terdiri dari dua kata, yaitu child dan grooming. Child merujuk pada anak, sedangkan grooming adalah proses bertahap. Jadi, secara keseluruhan, child grooming adalah proses manipulasi psikologis terhadap anak, di mana pelaku membangun hubungan yang dekat, nyaman, dan terasa aman bagi anak dan keluarganya. Akibatnya, anak dan keluarga memberikan rasa percaya dan kendali kepada pelaku.”
Setelah itu, pelaku bisa bebas berinteraksi, bahkan sampai menyentuh fisik anak. Menurut Joice, tidak jarang orang tua menganggap tindakan pelaku sebagai bentuk kasih sayang atau perhatian. Anak juga merasa bahwa mereka diperhatikan, dilindungi, dan diutamakan.
Namun, dalam proses child grooming, pelaku biasanya melakukan isolasi terhadap anak. “Anak seperti didoktrin bahwa ‘kamu hanya saya yang peduli’, sehingga anak merasa spesial. Ketika seseorang merasa spesial, maka ia akan tergantung pada pelaku dan mau mengikuti keinginan pelaku.”
Joice menjelaskan, anak-anak yang rentan menjadi korban child grooming biasanya berasal dari kondisi keluarga yang rapuh. Misalnya, keluarga yang tidak harmonis, penuh kekerasan, atau diabaikan. Anak-anak ini sering merasa kesepian, tidak diperhatikan, rendah diri, cemas, atau takut.
Proses Manipulasi
Pelaku child grooming sering kali memenuhi kebutuhan afeksi anak melalui berbagai cara, seperti membantu memberikan masukan atau mendampingi ketika anak mengalami ketakutan atau kecemasan. Di awal proses, hal ini membuat anak senang dan merasa diperhatikan.
Namun, dengan waktu, pelaku mulai memperkenalkan hal-hal yang tidak semestinya, seperti sentuhan atau pelukan. Anak lalu merasa bahwa hal itu wajar dilakukan oleh orang yang memberi afeksi padanya.
Joice menjelaskan, ketika anak sudah merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku, mereka tidak ingin kehilangan sosok tersebut. “Jika anak menolak, pelaku bisa mengancam, misalnya dengan berkata, ‘Kamu nanti enggak saya sayangin lagi’. Hal ini menciptakan lingkaran setan, di mana anak tahu itu tidak benar, tapi masih mempertahankannya karena butuh.”
Tanda-Tanda Child Grooming
Beberapa tanda-tanda bahwa anak sedang mengalami child grooming antara lain:
- Anak terlihat sangat dekat dengan seseorang yang tidak dikenal oleh keluarga.
- Anak sering menyembunyikan komunikasi dengan orang tertentu.
- Anak menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih tertutup atau cemas.
- Anak menghindari kontak dengan anggota keluarga atau teman-teman.
Joice menekankan pentingnya kesadaran orang tua dan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda ini. “Jika kita sadar, kita bisa melindungi anak-anak dari tindakan manipulatif yang bisa merusak masa depan mereka.”
Bagikan ke:
