
Khasanah, — Melihat anak muntah sering kali membuat orang tua merasa cemas. Apalagi jika muntah terjadi berulang kali, anak terlihat lemas, atau tidak mau makan dan minum. Dalam kondisi seperti ini, kepanikan justru dapat membuat penanganan menjadi kurang tepat.
Karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah tetap tenang agar dapat membantu anak dengan baik. Muntah sebenarnya merupakan salah satu mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan zat yang dianggap berbahaya dari lambung.
Pada anak-anak, kondisi ini cukup sering terjadi dan biasanya dipicu oleh infeksi saluran pencernaan, keracunan makanan, masuk angin, mabuk perjalanan, atau gangguan lambung ringan. Sebagian besar kasus dapat membaik dengan perawatan sederhana di rumah, asalkan anak tetap terhidrasi dan tidak menunjukkan tanda bahaya.
Berikut beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan orang tua saat anak mengalami muntah.
Posisi Tubuh Anak Harus Diperhatikan

Ketika anak muntah, posisi tubuh menjadi hal penting untuk mencegah muntahan masuk ke saluran pernapasan. Jika anak sedang berbaring, miringkan tubuh atau kepalanya ke salah satu sisi. Posisi ini membantu cairan muntah keluar dengan aman dan mengurangi risiko tersedak.
Sementara itu, bila anak dalam posisi duduk atau berdiri, arahkan tubuhnya sedikit condong ke depan. Hindari membiarkan anak telentang saat muntah karena kondisi tersebut berbahaya apabila cairan muntahan masuk ke paru-paru.
Setelah muntah selesai, bersihkan mulut anak secara perlahan menggunakan air bersih agar ia merasa lebih nyaman.
Jangan Langsung Memberi Minum Banyak
Kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah langsung memberikan air minum dalam jumlah banyak setelah anak muntah. Padahal, lambung anak biasanya masih sensitif sehingga minum terlalu banyak sekaligus justru dapat memicu muntah kembali.
Cara terbaik adalah memberikan cairan sedikit demi sedikit namun rutin. Tunggu sekitar 30 hingga 60 menit setelah muntah terakhir agar lambung lebih tenang. Setelah itu, berikan cairan sekitar satu sendok makan setiap 10–15 menit.
Air putih, oralit, atau ASI bagi bayi merupakan pilihan terbaik untuk mencegah dehidrasi. Jika anak mampu menahan cairan tanpa muntah selama beberapa jam, jumlah minum dapat ditambah secara bertahap.
Pemberian cairan secara perlahan atau small sips jauh lebih efektif dibandingkan memaksa anak menghabiskan satu gelas minuman sekaligus.
Istirahatkan Lambung Anak
Setelah muntah, saluran pencernaan membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, anak tidak perlu langsung dipaksa makan. Orang tua dapat menunggu hingga rasa mual berkurang dan anak mulai merasa lapar.
Saat mulai makan, pilih makanan yang lembut, hambar, dan mudah dicerna. Bubur polos, nasi tim, pisang, roti panggang, atau saus apel dapat menjadi pilihan sementara. Hindari makanan yang terlalu berbumbu karena dapat membuat lambung bekerja lebih berat.
Yang terpenting, berikan makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu. Jika anak dapat menerimanya dengan baik tanpa muntah lagi, porsi makan bisa ditambah perlahan.
Hindari Makanan dan Minuman Tertentu
Selama proses pemulihan, ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari sementara waktu. Makanan berminyak, gorengan, makanan cepat saji, serta makanan terlalu manis dapat memperparah rasa mual.
Selain itu, minuman bersoda dan jus buah yang terlalu asam juga kurang baik untuk lambung yang sedang sensitif. Produk olahan susu seperti keju atau yoghurt sebaiknya ditunda beberapa jam terlebih dahulu, kecuali anak masih mengonsumsi ASI.
Memberikan makanan yang tepat sangat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi risiko muntah berulang.
Waspadai Tanda Dehidrasi
Muntah berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi inilah yang perlu diwaspadai karena dehidrasi pada anak dapat berkembang cukup cepat.
Beberapa tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan antara lain mulut tampak kering, anak tidak mengeluarkan air mata saat menangis, terlihat sangat lemas, mengantuk terus, serta jarang buang air kecil. Jika popok bayi tetap kering atau anak tidak buang air kecil selama lebih dari enam jam, orang tua perlu lebih waspada.
Selain dehidrasi, ada beberapa kondisi lain yang mengharuskan anak segera dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan.
Segera Periksa ke Dokter Jika Muncul Tanda Bahaya
Walaupun muntah pada anak umumnya tidak berbahaya, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Orang tua perlu segera mencari bantuan medis apabila muntah berwarna hijau kekuningan, bercampur darah, atau terjadi terus-menerus hingga anak tidak mampu menahan cairan apa pun.
Demam tinggi, nyeri perut hebat, kejang, leher kaku, hingga penurunan kesadaran juga termasuk kondisi darurat yang memerlukan pemeriksaan dokter sesegera mungkin.
Pada bayi dan balita, pemantauan harus dilakukan lebih ketat karena mereka lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan anak yang lebih besar.
Tetap Tenang dan Pantau Kondisi Anak
Sebagian besar kasus muntah pada anak sebenarnya dapat membaik dalam waktu 24 jam dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup. Karena itu, ketenangan orang tua sangat berpengaruh dalam proses penanganan.
Pantau kondisi anak secara berkala, perhatikan frekuensi muntah, jumlah cairan yang masuk, dan perubahan perilakunya. Selama anak masih aktif, mau minum, serta tidak menunjukkan tanda bahaya, perawatan di rumah umumnya sudah cukup membantu pemulihan.
Menangani anak yang sedang sakit memang bukan hal mudah. Namun, dengan langkah yang tepat dan sikap tenang, orang tua dapat membantu anak melewati masa tidak nyaman ini dengan lebih aman dan nyaman.

Seorang guru Bahasa Inggris di sekolah swasta yang juga aktif sebagai Tentor literasi Bahasa Inggris. Suka membaca, diskusi, deep talk, menulis, menonton film kemudian menyelami narasinya, jalan-jalan, dan seorang yang antusias pada olahraga, sebab kombinasi antara intelektual dan latihan fisik konsisten adalah motor penggerak utama dalam berkarya.







