
Kreativitas Anak-anak di Palangka Raya Melalui Komunitas Huma Sarita
Pendidikan, — Di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat, sejumlah anak di Palangka Raya menunjukkan kreativitasnya dengan menghasilkan buku cerita. Mereka tergabung dalam komunitas Huma Sarita Kalimantan Tengah, yang menjadi wadah untuk menulis hingga mengilustrasikan cerita yang dibuat sendiri.
Marzhia Tesalonika (15) dan Bilal Athaya Alfarizi (10) adalah dua dari banyak anak yang aktif dalam komunitas tersebut. Mereka bergabung dalam dua klub utama, yaitu klub dongeng sebagai wadah penulisan cerita dan klub ilustrator untuk pembuatan gambar. Dengan bimbingan dan arahan dari komunitas, mereka mampu mengembangkan kemampuan sesuai minat masing-masing.
Marzhia Tesalonika, siswa kelas tiga SMP, menjadi ilustrator dalam buku berjudul Ikan Tapah Penunggu Sungai Bulan karya Rietma Yustiningtyas. Ia menggambar seluruh isi buku tersebut dengan nuansa gelap dan dramatis. Sampul buku menampilkan sosok anak yang duduk merenung di depan ikan tapah besar di tengah aliran sungai, menggambarkan konflik cerita yang berkaitan dengan pelanggaran adat.
“Semua ilustrasi saya kerjakan sendiri. Prosesnya sekitar satu bulan karena ada riset dan revisi,” ujarnya. Cerita dalam buku tersebut mengisahkan dua bersaudara, Anjat dan Nanjan, yang akhirnya melanggar adat dan berubah menjadi ikan tapah besar.
Selain menjadi ilustrator, Marzhia juga menulis buku berjudul Mahkota Bulu Tingang melalui klub dongeng. Ilustrasi dalam karya ini mengangkat unsur budaya lokal dengan tokoh dan latar alam yang memperkuat nuansa kearifan lokal dalam cerita.
Sementara itu, Bilal Athaya Alfarizi (10) menulis buku berjudul 3 Heroes yang lahir dari imajinasinya sendiri. Sampul buku menampilkan tiga tokoh utama dengan warna-warna cerah dan karakter yang berbeda, mencerminkan sifat masing-masing dalam cerita petualangan. Cerita tersebut mengisahkan tiga tokoh yang awalnya hidup biasa, hingga salah satunya mencari sebuah keajaiban dan menemukan tiga bola misterius yang memunculkan cahaya di sebuah kota.
“Karya saya dari imajinasi sendiri,” kata Bilal. Selain karya mereka, terdapat berbagai judul lain yang dihasilkan anak-anak dalam komunitas tersebut seperti Tikus Tanah yang Suka Mencuri, Nata si Peramal Hujan, Petualangan Rupi si Koin, hingga Suara Nyanyian Owa Kecil. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari cerita rakyat, petualangan, hingga kisah sehari-hari.
Melalui pembagian klub dongeng dan ilustrator, anak-anak diarahkan untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat masing-masing. Buku-buku yang dihasilkan tidak hanya sebagai wadah belajar, tetapi juga dipasarkan dalam berbagai kegiatan atau event. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp75 ribu, tergantung bahan dan jumlah halaman.
Hasil penjualan buku kemudian dibagi untuk mendukung kas komunitas, serta diberikan kepada penulis dan ilustrator yang terlibat dalam proses pembuatan. Beberapa buku bahkan sudah dilengkapi elemen bahasa isyarat dalam ilustrasinya, sebagai upaya agar cerita dapat diakses lebih luas, termasuk oleh anak-anak disabilitas.
Dalam proses pengerjaan, anak-anak memanfaatkan aplikasi menggambar digital seperti Clip Studio Paint dan Ibis Paint. Meski masih dalam tahap pengembangan, mereka berharap karya yang dibuat dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak pembaca.
“Semoga bisa lebih baik ke depannya dan bukunya bisa dinikmati banyak orang,” ujar Bilal. Kehadiran karya ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi konsumen teknologi digital, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk berkarya dan menghasilkan produk kreatif sejak usia dini.
Berbagai Karya yang Dihasilkan Anak-anak dalam Komunitas
- Tikus Tanah yang Suka Mencuri
- Nata si Peramal Hujan
- Petualangan Rupi si Koin
- Suara Nyanyian Owa Kecil
- Ikan Tapah Penunggu Sungai Bulan
- Mahkota Bulu Tingang
- 3 Heroes
Setiap karya memiliki tema yang berbeda, mulai dari cerita rakyat hingga petualangan dan kisah sehari-hari. Dengan adanya klub dongeng dan ilustrator, anak-anak dapat mengembangkan bakat mereka secara optimal.
Teknologi Digital dalam Proses Pengerjaan
Anak-anak menggunakan berbagai aplikasi digital untuk membantu proses pengerjaan karya mereka. Contohnya:
- Clip Studio Paint – Aplikasi yang digunakan untuk membuat ilustrasi dengan detail yang tinggi.
- Ibis Paint – Aplikasi yang cocok untuk menggambar digital dengan warna-warna yang menarik.
Upaya Membuat Buku Lebih Inklusif
Beberapa buku telah dilengkapi elemen bahasa isyarat dalam ilustrasinya. Hal ini bertujuan agar cerita dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak disabilitas.
Di era ini, kreativitas yang dimiliki oleh anak-anak sangatlah luas dan tidak memiliki batas. Kabar ini tentu saja memantik minat anak-anak untuk membebaskan imajinasi mereka dan menuangkannya dalam bentuk karya baik gambar maupun tulisan

Melalui tulisan dan ilustrasi, saya menjelajahi labirin psikologi, kedalaman filsafat, dan estetika seni. Memeluk identitas sebagai philomath adalah cara saya berdaulat atas diri—sebuah manifesto bahwa ruang belajar terbesar adalah dunia, dan waktunya adalah selamanya







