Gerakan “Jogja Tanpa Rumput” untuk Menjaga Kebersihan Kota
Sebagai kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan wisata, Yogyakarta terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan dan kebersihan. Salah satu inisiatif yang dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, adalah gerakan “Jogja Tanpa Rumput”. Gerakan ini dimulai dari rasa malu melihat rumput liar yang sering muncul di sela-sela jalur pedestrian.
Gerakan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa, melainkan upaya untuk memastikan bahwa kota ini siap menyambut wisatawan. Selain itu, gerakan ini juga menjadi bagian dari ambisi untuk menjadikan Yogyakarta sebagai The Little Singapore, sebuah kota yang terkenal dengan kebersihannya dan tata kota yang rapi.
Aksi perdana gerakan ini dilaksanakan di sepanjang jalur pedestrian Pojok Beteng (Jokteng) Kulon menuju utara hingga area parkir Ngabean, atau Jalan Wahid Hasyim, pada hari Minggu (18/1/26) pagi. Hasto Wardoyo langsung memimpin kerja bakti dengan mencabuti rumput liar bersama jajaran DPRD Kota Yogyakarta, personel TNI, serta ratusan warga masyarakat yang antusias.
Hasto mengungkapkan bahwa tidak mungkin mengklaim diri sebagai kota wisata kelas dunia jika urusan kebersihan belum bisa diselesaikan. Ia menegaskan bahwa kebersihan merupakan aspek paling dasar dalam menarik wisatawan.
“Saya malu ketika wisatawan datang berjuta-juta, tapi di jalan-jalan banyak rumputnya. Kita ini hanya ingin memantaskan diri sebagai tempat yang dikunjungi banyak orang. Kita mengkhidmat kehadiran tamu-tamu itu dengan cara bersih-bersih,” ujarnya.
Mantan Bupati Kulon Progo tersebut berharap dapat memboyong standar kebersihan kelas wahid dari Singapura ke sudut-sudut Kota Pelajar. Meski ia menyadari bahwa untuk menandingi Singapura dari segi infrastruktur daerah masih belum mampu, upaya disiplin menjaga kebersihan akan terus dikejar.
“Kita mimpinya Yogyakarta jadi The Little Singapore. Kalau kita belum punya uang banyak untuk pembangunan fisik, minimal bersih-bersih. Semua harus bersih dan tertib, dimulai dari hal yang paling kecil, yaitu rumput liar,” tegasnya.
Agenda Rutin dan Wilayah Prioritas
Tidak berhenti di seputaran Jokteng Kulon, gerakan tersebut dipastikan menjadi agenda rutin setiap dua minggu sekali sepanjang tahun 2026. Pemerintah Kota Yogyakarta telah memetakan 10 wilayah prioritas yang tersebar di seluruh kemantren, mulai dari Umbulharjo, Kotagede, hingga Tegalrejo.
Selain mencabuti rumput, kerja bakti massal juga menyasar perapian pohon-pohon yang sudah rimbun, serta pembersihan selokan untuk mengantisipasi genangan air. Dengan melakukan hal-hal ini, diharapkan rumput tidak sempat tumbuh tinggi lagi.
“Dua minggu sekali kita akan turun ke semua jalan secara bergilir di 10 wilayah. Harapannya, rumput tidak sempat tinggi lagi. Kita ingin membuktikan, dengan gotong royong, Yogya bisa tertib dan bersih sepenuhnya,” pungkasnya.
Bagikan ke:
