Photo by Daiga Ellaby on Unsplash
Opini Adikarto, — Pada dasarnya, mempelajari parenting adalah sebuah usaha dari para calon orangtua agar dapat mengasuh, merawat serta mendidik anaknya dengan baik sesuai dengan kaidah psikologi dan sosial demi tumbuh kembang anak menjadi individu yang baik.
Menurut American Psychological Association (APA), tujuan utama dari parenting adalah memastikan kesehatan dan keamanan anak, mempersiapkan anak menjadi orang dewasa yang produktif, serta mengajarkan nilai-nilai budaya kepada anak.
Pada pasangan yang memilih gaya hidup childfree (tidak memiliki anak), konsep parenting dalam arti konvensional tidak berlaku karena mereka memilih untuk tidak memiliki anak kandung atau adopsi. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki dorongan untuk memelihara, merawat, atau membimbing. Istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan hal ini adalah “mengasuh” (nurturing), yang bisa diterapkan pada berbagai aspek kehidupan, bukan hanya kepada anak.
Gerakan childfree pertama kali dikemukakan oleh Ellen Peck, seorang jurnalis perempuan, editor majalah, dan penulis asal Amerika Serikat. Pada tahun 1971, Peck menulis buku berjudul The Baby Trap, yang menjadi salah satu sumber awal yang menginspirasi gerakan childfree. Dalam bukunya, Peck mengkritik tekanan sosial yang ada untuk memiliki anak dan mempromosikan gagasan bahwa orang dewasa memiliki pilihan hidup di luar menjadi orang tua.
Bersamaan dengan feminisme, kekhawatiran tentang kelebihan populasi dan dampak terhadap lingkungan juga mulai muncul, sehingga berkontribusi pada keputusan beberapa individu untuk tidak memiliki anak. Contoh ekstrem dari gerakan ini adalah Voluntary Human Extinction Movement (VHEMT), yang menyerukan agar semua orang secara sukarela menahan diri untuk tidak bereproduksi.
Secara keseluruhan, meskipun Ellen Peck adalah figur yang sangat berpengaruh dalam menyebarluaskan konsep childfree pada era modern, paham ini merupakan hasil dari pergeseran nilai sosial, perkembangan teknologi (seperti kontrasepsi), dan berbagai gerakan sosial lainnya yang telah berlangsung selama beberapa waktu.
Pada sebagian orang, berkeinginan untuk belajar parenting sekalipun memilih childfree bertujuan untuk mengenali trauma masa kecil yang mungkin disebabkan oleh kesalahan atau parenting yang kurang tepat sehingga pada akhirnya memutuskan untuk memilih childfree.
Di samping itu, ada banyak sekali alasan seseorang memilih untuk childfree. Meskipun secara umum, kebanyakan memutuskan childfree dengan alasan trauma masa kecil, ternyata banyak alasan yang memungkinkan keputusan tersebut.
Personal Reason
Kebebasan dan fleksibilitas : Banyak orang menghargai kebebasan untuk bepergian, mengejar hobi, dan menjalani gaya hidup yang lebih fleksibel tanpa tanggung jawab membesarkan anak.
Perkembangan karier : Tanpa komitmen parenting, seseorang dapat mengalokasikan lebih banyak waktu dan energi untuk mengejar tujuan profesional dan kemajuan karier.
Ketidakmauan atau ketidakpastian : Sebagian individu tidak memiliki keinginan alami atau insting untuk menjadi orang tua, atau merasa tidak akan menjadi orang tua yang baik.
Kecukupan hubungan dengan pasangan : Beberapa pasangan merasa sudah cukup bahagia dan terpenuhi dengan satu sama lain, dan tidak merasa perlu memiliki anak untuk melengkapi hubungan mereka.
Mental dan Psychological Reason
Ketidaksiapan mental : Proses membesarkan anak membutuhkan kesiapan mental dan emosional yang besar. Beberapa orang merasa tidak siap atau takut untuk menghadapi tantangan tersebut.
Trauma masa kecil : Pengalaman masa kecil yang buruk atau memiliki orang tua yang dianggap “toksik” dapat menjadi trauma yang membuat seseorang enggan mengulang pola yang sama pada anak mereka.
Kesehatan mental : Beberapa individu mungkin berjuang dengan masalah kesehatan mental dan tidak merasa mampu menangani tekanan tambahan dari membesarkan anak.
Economic Reason
Beban finansial: Biaya membesarkan anak, mulai dari pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari, sangat besar. Keputusan childfree sering kali didasari oleh keinginan untuk mencapai stabilitas dan kebebasan finansial.
Prioritas finansial: Pasangan childfree bisa memilih untuk menggunakan uang mereka untuk investasi, tabungan pensiun, atau pengeluaran diskresioner lainnya.
Social dan Environment Reason
Masalah global: Kekhawatiran akan isu-isu seperti perubahan iklim, kepadatan penduduk, dan kondisi dunia yang tidak stabil dapat menjadi alasan untuk tidak menambah populasi.
Memutus rantai siklus: Beberapa orang ingin memutus rantai “generasi sandwich”, yaitu generasi yang harus menanggung beban finansial orang tua dan anak secara bersamaan.
Tekanan sosial: Di sisi lain, tekanan sosial yang tinggi dari lingkungan dan keluarga yang menuntut untuk memiliki anak juga bisa membuat seseorang semakin yakin dengan pilihan childfree mereka.
Medical dan Physical Reason
Tokofobia: Ketakutan ekstrim terhadap kehamilan dan melahirkan (tokophobia) dapat menjadi alasan kuat bagi beberapa orang untuk menghindari memiliki anak.
Alasan medis: Masalah kesehatan pribadi yang berpotensi diturunkan atau kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk hamil juga menjadi faktor.
Penting untuk diingat bahwa setiap alasan adalah valid bagi individu yang mengambil keputusan untuk childfree, dan pilihan ini merupakan hasil dari pertimbangan yang matang serta personal
Menurut saya pribadi, memutuskan untuk memiliki anak atau tidak, mempelajari ilmu parenting tetap penting kita pelajari. Meskipun tidak berencana mempraktekkannya secara langsung, pemahaman ini menawarkan banyak manfaat, baik dalam hubungan sosial maupun refleksi pribadi.
Beberapa alasan mengapa belajar parenting tetap relevan bagi mereka yang memilih childfree:
- Meningkatkan empati dan pemahaman terhadap orang lain. Mempelajari tantangan dan dinamika parenting dapat membantu mereka yang childfree untuk lebih memahami kesulitan, tekanan, dan pengorbanan yang dihadapi oleh orang tua. Hal ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kualitas komunikasi.
Berinteraksi dengan anak-anak: Meskipun tidak punya anak, mereka akan berinteraksi dengan anak-anak dari keluarga, teman, atau lingkungan sekitar. Pengetahuan tentang perkembangan anak dan cara berkomunikasi yang baik dapat membuat interaksi ini lebih positif dan efektif. - Memperkaya hubungan sosial
Dengan pemahaman yang lebih mendalam, mereka yang childfree dapat menunjukkan dukungan dan pengertian yang lebih baik kepada teman-teman mereka yang merupakan orang tua. Ini bisa memperkuat persahabatan, terutama saat teman-teman sedang menghadapi tantangan dalam membesarkan anak.
Sebagian masyarakat masih menganggap pilihan childfree sebagai sesuatu yang egois atau tidak lazim. Dengan menunjukkan pemahaman yang matang tentang parenting, mereka dapat membuktikan bahwa pilihan mereka didasari oleh pertimbangan yang bijak, bukan sekadar ketidakpedulian. - Memperkuat keputusan pribadi
Mempelajari apa yang diperlukan untuk menjadi orang tua yang baik dapat memperkuat keyakinan mereka yang childfree bahwa keputusan mereka sudah tepat. Proses ini melibatkan pemikiran mendalam mengenai kesiapan mental, emosional, dan finansial.
Sebagian orang memilih childfree karena alasan yang belum sepenuhnya matang, seperti takut akan tanggung jawab. Memahami parenting dapat membantu mereka menganalisis motivasi ini lebih dalam dan memastikan bahwa pilihan mereka didasari oleh kesadaran penuh, bukan hanya pelarian. - Mempelajari keterampilan mengasuh yang lebih luas
Keterampilan mengasuh (nurturing) yang dipelajari dalam parenting, seperti kesabaran, empati, dan komunikasi efektif, tidak hanya relevan untuk anak-anak. Keterampilan ini dapat diterapkan dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, bahkan rekan kerja, sehingga meningkatkan kualitas hubungan secara keseluruhan.
Individu childfree sering menyalurkan energi mengasuh ke area lain dalam hidup, seperti hewan peliharaan atau proyek kreatif. Prinsip-prinsip parenting, seperti kesabaran dan bimbingan, dapat membantu mereka mengelola dan mengembangkan proyek-proyek ini dengan lebih baik.
Jadi, mempelajari parenting bagi mereka yang memilih childfree bukanlah untuk menjadi orang tua, melainkan untuk menjadi individu yang lebih bijaksana, empatik, dan efektif dalam berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka, yang sebagian besar dihuni oleh orang tua dan anak-anak.
Namun sekali lagi, karena childfree adalah gerakan atau paham komunitas, maka setiap individu berhak menentukan jalan hidup dan untuk tubuh mereka sendiri. Keputusan childfree adalah keputusan prerogatif seseorang atas tubuhnya sendiri, jadi kita harus tetap menghargai keputusan seseorang tanpa penghakiman.
Bagikan ke:

0 thoughts on “Memilih Childfree Tapi Belajar Parenting, Kenapa?”