Disclaimer : saya suka dengan karya-karya Yandy Laurens, hanya saja tidak begitu relate dengan karakter Sore. Ini soal perspektif —
Opini Adikarto, — Mengutip dari Wikipedia, Sore: Istri dari Masa Depan adalah sebuah film fantasi romantis Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Yandy Laurens. Menampilkan Dion Wiyoko (Jonathan) dengan Sheila Dara Aisha (Sore) sebagai pemeran utama. Film ini merupakan remake dari web series YouTube tahun 2017 dengan judul yang sama, Sore : Istri dari Masa Depan. Tahun 2017, pemeran Sore dalam serialnya adalah Tika Bravani namun tokoh Jonathan tetap dimainkan oleh Dion Wiyoko.
Sore, digambarkan sebagai wanita yang cukup kuat secara karakter, berani dan tidak takut mengambil resiko. Sedangkan Jo adalah pria yang memiliki masa lalu kurang baik, hidup dalam perjuangan meniti karir sebagai fotografer sampai ke Kroasia dengan masih membawa dendam atas masa lalunya. Dengan karakter seperti itu, Jo menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk ‘menghela napas’ panjang dengan rokok dan alkohol. Tidak dijelaskan latar belakang keluarga Sore seperti apa, namun dari karakter yang dimainkan mungkin terlihat Sore adalah wanita yang punya cukup banyak perasaan cinta untuk dibagikan kepada Jo, suaminya.
Di awal film, Sore terlihat begitu anggun dan dengan perasaan penuh cinta dengan sabar dia menjelaskan kepada Jo, siapa dirinya yang sebenarnya. Dalam film ini, timeline Jo kembali beberapa tahun sebelum mengenal kepribadian Sore. Sedangkan Sore berada pada waktu delapan tahun setelah peristiwa yang terjadi pada Jo saat itu. Paradoks waktu —
Jo yang masih bingung menentukan harus berbuat apa, secara takjub perlahan kagum pada kemampuan Sore memprediksi dan menyebutkan apapun dengan tepat. Pada akhirnya, Jo percaya bahwa Sore adalah istrinya. Dari Masa Depan.
Misi Sore sederhana, membuat hidup Jo lebih baik dengan harapan bahwa delapan tahun lagi Jo tidak meninggal dan masih sehat.
Di film ini, Sore dibuat sekarat lalu meninggal saat dia merasa bahwa dia gagal menyelamatkan Jo dari kebiasaan buruknya. Lalu Sore dihidupkan kembali dan mengulang adegan yang sama.
Pertanyaan “Kamu siapa?” dari Jo, dan jawaban “Aku Sore, istri kamu dari masa depan.”

Sore selalu berusaha hidup kembali dan dengan sedih namun tetap berusaha sabar menjelaskan perlahan kepada Jo tentang siapa dirinya dan apa misinya. Lalu Sore akan kembali meninggal saat merasa bahwa Jo dekat dengan ajalnya.
Sore terbangun lagi dengan misi yang sama — Membuat hidup Jo lebih baik. Sayangnya, Jonathan adalah orang yang hidup bertahun dengan pola hidup yang kurang baik sehingga sulit bagi Sore ‘melancarkan’ misinya.
Semua kagum dengan sikap Sore yang tidak menyerah dengan tekadnya, mengubah Jonathan dengan alibi; Perasaan Sayang. Mungkin kecuali saya.
Saya masih berharap, bahwa Sore punya pilihan lain saat itu daripada berkutat dengan aktivitas menyia-nyiakan dirinya sendiri sedangkan Jo belum mampu berubah. Sore bersedia mengorbankan diri untuk menjadikan Jo sebagai sosok yang Sore inginkan. Yang Sore abaikan di sini adalah dirinya sendiri. Dengan dalih “mau diulang 1.000 kali-pun aku akan tetap memilihmu”. Jika memang ada pilihan lain yang lebih baik, kenapa Sore memilih menempatkan diri pada sesuatu yang merugikan dirinya?
Mati berkali-kali dan hadir dalam tujuan membuat hidup Jo lebih baik . Adalah hal yang terdengar sia-sia. Lalu apakah sebenarnya Sore benar-benar menyayangi Jonathan?
Menurut saya, cinta yang demikian adalah obsesi. Dia hanya tidak ingin ditinggalkan oleh suaminya. Memang benar, Sore mencintai Jonathan. Namun ada sisi egoisme dari Sore yang membuatnya memaksakan diri untuk mengubah Jo. Sedangkan, bukankah sulit sekali mengubah seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup dengan kebiasaan yang demikian?
Kita tidak bisa membeli kehidupan seseorang dalam 25 tahunnya (atau lebih) ke belakang

Lebih luas lagi, kehidupan orang lain terbentuk dari bagaimana pola asuh keluarganya, siapa saja yang sudah mereka temui dalam hidupnya, kesulitan apa saja yang sudah mereka batasi.
Dan kamu? Ingin mengubah semua itu dengan dalih menjadikan hidup mereka lebih baik?
Maka bersiaplah kecewa, atau membuang waktu yang sia-sia.
Sore, digambarkan sebagai wanita tangguh. Dalam Universe lain, jika memang benar ada sosok Sore yang nyata saya berharap bahwa Sore yang di sana tidak memaksakan dirinya terlalu keras untuk memenuhi obsesinya. Sore bisa memilih, Sore punya banyak hal yang dia bisa lakukan untuk kehidupannya sendiri yang membuat dia jauh lebih baik.
Dan Jonathan, saya harap Jo juga bisa memilih untuk menyayangi dirinya sendiri, sehingga tidak membuat siapapun terpaksa harus ‘turun tangan’ memperbaiki hidupnya. Atau, jika memang dia memiliki seorang istri seperti Sore, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kehadiran Sore.
Jonathan dan Sore, saya harap mereka bisa mencintai dirinya sendiri agar mampu memberikan kebahagiaan bagi pasangannya masing-masing. —
Bagi Sore dan Jonathan yang lainnya di dunia ini, jangan pernah bersedia mengorbankan hidupmu untuk pasangan yang tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Karena semestinya, memiliki pasangan harus membuat hidupmu jauh lebih ringan secara beban, bukan menambah keriuhan dalam menjalani kehidupan.
Bagikan ke:

0 thoughts on “Sore, Contoh Lain Dari Sikap Toxic”