Sumber: Foto Istimewa by Anindyka Shah.
Kata-kata softspoken akhir-akhir ini jadi pembahasan yang banyak terdengar. Generasi sekarang sering mengaitkan softspoken dengan sesuatu yang berbau greenflag. Pria atau Wanita yang berbicara pelan sering dikatakan sebagai pasangan ideal. Tapi sebenarnya apa sih yang disebut softspoken ?
Soft : Halus. Spoken : Bicara. Lantas, bicara halus seperti itukah yang dimaksud? Dan benarkah Softspoken jadi salah stau indikator pasangan idaman?
Aku rasa jelas tidak se-simple itu walaupun secara bahasa, softspoken merujuk kepada kelembutan. Collins Dictionary menjelaskan ~ Someone who is soft-spoken has a quiet, gentle voice.
Softspoken, semestinya dikenal secara dinamis merujuk pada sebuah tindak tanduk, bukan gaya bicara. Jika seseorang sering memuji kamu, berkata sangat sopan dan juga memiliki tutur bicara yang lembut belum tentu bisa dikategorikan ke dalam softspoken. Hal ini terjadi karena bahasa tidak berbanding lurus dengan sikap. Bagaimana cara seseorang memperlakukan orang lain tidak selalu diiringi dengan tuur bahasa yang bagus.
Mungkin kamu pernah dengar atau menonton film dengan karakter tokoh ~manipulatif~ . Sang tokoh akan selalu menggunakan tutur kata yang baik dengan maksud menguasai korbannya. Dengan diksi yang seringkali lembut, manipulasi itu akan terjadi dengan makna yang sebenarnya ambigu. Caranya tidak kasar, tapi menusuk dan terasa menyakitkan.
Seperti contoh “kamu terlalu mendramatisir keadaan, kayanya ga perlu deh sesedih itu..” (coba bayangkan kata tersebut diucapkan dengan nada yang sangat halus dan sopan).
Tapi, mendengarnya tetap menyakitkan. Seakan-akan, kamu adalah orang yang ‘drama‘ atau melebih-lebihkan sesuatu. Sama sekali tidak menenangkan.
Kamu perlu mewaspadai sikap seseorang yang bicaranya halus namun ‘konten’ yang diucapkan tidak bisa diterina. Diakui atau tidak, segala hal yang menyebabkan kesakitan bisa disebut kasar walaupun caranya tidak kasar. Bisa jadi, itu adalah bentuk dari softspoken manipulation.
Mengutip dari Manipulasi – Psikologi Gelap Untuk Memanipulasi dan Mengendalikan Orang, Khadijah (2022:13), manipulasi merupakan bentuk pengaruh yang disengaja oleh seseorang atau pihak (manipulator) untuk mengubah perilaku orang atau pihak lain. Manipulasi ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan bagi manipulator.
Dan dari beberapa tipe manipulator, salah satunya adalah soft spoken manipulator. Softspoken manipulator adalah orang yang mampu berbicara dengan baik, halus, dan lembut untuk memanipulasi orang lain.
Biasanya, pembawaan softspoken manipulator adalah : tenang, suara pelan, ritme bicara sederhana.
Bukan bermaksud membedakan gender, tapi sejauh ini yang aku ketahui lebih banyak mentoleransi sikap kasar yang ‘undercover’ ini dengan dalih bicaranya softspoken adalah ~
Yap, Wanita….
Mereka yang memiliki kecenderungan hati yang kita ketahui sangat sensitif, ternyata lebih bisa memberikan toleransi terhadap sikap demikian. Baik untuk orang lain maupun ke pasangan. Alasannya, menurutku :
- Karena wanita cenderung menyukai kelembutan. Sekalipun isi atau konten kata-katanya tidak selembut cara bicaranya, wanita akan mengapresiasi itu. Kata-kata sifatnya seperti cover, sehingga wanita akan memilih cover itu untuk menjadi bahan pertimbangan.
- Laki-laki yang lembut semakin sulit ditemui. Karena hal ini, ketika seorang wanita merasa memiliki pasangan yang cara bicaranya halus dengan nada yang sering rendah mereka akan merasa beruntung.
- Terkadang wanita cenderung lebih menyukai kepintaran. Gaya bahasa orang yang baik, bisa jadi membuat seorang wanita terkesan.
Menurut Journal of Personality and Social Psychology, orang yang berbicara dengan lembut cenderung dianggap lebih berempati, hangat, dan dapat dipercaya dibandingkan dengan mereka yang memiliki suara keras.
Suara lembut seringkali memberikan kesan bahwa seseorang lebih perhatian dan peka terhadap perasaan orang lain. Dalam berbagai situasi sosial, cara bicara yang lembut seringkali menarik perhatian.
Orang yang softspoken juga sering dianggap lebih baik hati. Mereka bisa menciptakan suasana yang nyaman dan tenang, sehingga orang-orang di sekitar mereka merasa dihargai dan dihormati.
Perasaan ini yang dibutuhkan orang lain, mungkin tidak hanya wanita. Tidak heran, jika wanita lebih tertarik berbicara dengan orang softspoken baik dalam hubungan pertemanan maupun asmara.
Tapi kembali lagi, tidak semua wanita bisa toleran dengan sikap softspoken yang ‘undercover’ tadi. Dan tentunya tidak semua laki-laki juga memiliki kecenderungan untuk berkata halus namun isi pembicaraannya kasar.
Sebagai penyeimbang, tentunya tidak semua kata-kata yang cara penyampaiannya kasar juga mengandung makna yang kasar. Mungkin kamu pernah dengar istilah ‘nyablak’. Istilah ini sering merujuk pada sebagian orang yang cara bicaranya cas-cis-cus, langsung pada poin, tanpa basa-basi.
Pernahkah kamu mendengar temanmu berbicara “ udah nyampe belum lu gue khawatir, Ban*ke!” atau “sini gue bantuin, Nyet!” ~ yaaa kasar. Tapi konteks atau isi dari obrolan ini (situasional) menurutku tidak.
Pada akhirnya, kita semua memiliki kepekaan atas apa yang disampaikan orang lain. Kepekaan ini mendorong kita menentukan konteks apa yang diungkapkan lawan bicara. Simple-nya ada di rasa, menyakitkan atau tidak.
Yang ingin aku tekankan adalah, jangan sampai kita, aku dan kamu terlalu mengagumi segala hal yang bersifat halus namun menyakitkan. ‘Nylekit’, atau mungkin kamu tau istilah lain dari jenis perasaan itu yang diucapkan seseorang dengan tutur halus seringkali membuat kita terlena. Denying, ‘dia tidak kasar’ sedangkan perasaan dibuat terluka berkali-kali.
Perlu diingat bahwa kasar tidak hanya terjadi pada sikap. Indikator kasar berlaku juga pada konten atau isi dari pembicaraan, bukan dari caranya menyampaikan.
Bagikan ke:

0 thoughts on “Softspoken itu Kata atau Caranya sih, yang Harus Halus?”