Pengalaman Stroke yang Mengubah Hidup Seorang Perempuan Muda
Pada tahun 2023, Lynn Chia, seorang eksekutif akuntansi berusia 37 tahun, mengalami peristiwa yang mengubah hidupnya selamanya. Awalnya, ia hanya merasa sakit kepala dan mengira itu adalah migrain biasa. Namun, delapan jam kemudian, ia mengalami stroke hemoragik yang nyaris merenggut nyawanya.
Seruan Kesadaran Kesehatan untuk Kaum Wanita
Kondisi Chia memburuk menjelang malam. Sakit kepala yang semakin parah disertai mual yang kuat membuatnya mengirim pesan kepada tunangannya, Steve Peh, bahwa dirinya sedang tidak enak badan. Tak lama setelah itu, ia kehilangan kesadaran dan terbangun lima hari kemudian dari koma setelah menjalani operasi otak darurat.
Saat sadar, hidupnya berubah total. Ia kehilangan kemampuan berjalan, berbicara dengan normal, serta kemandirian yang selama ini ia anggap sebagai hal biasa. “Saya harus belajar semuanya dari awal: berjalan, berbicara. Bahkan penglihatan saya ikut terganggu,” kenangnya.
Dua tahun setelah kejadian tersebut, Chia yang kini berusia 39 tahun mulai membangun kembali hidupnya dengan dukungan penuh dari keluarga dan Steve Peh, yang kini telah menjadi suaminya.
Melalui pengalamannya, Chia ingin menyampaikan satu pesan penting kepada para perempuan: stroke tidak hanya menyerang pria lanjut usia. Stroke bisa terjadi pada siapa saja, termasuk perempuan muda.
“Ketika masih muda, kita sering berpikir, ‘hal seperti ini tidak mungkin terjadi pada saya’. Saya juga berpikir seperti itu,” katanya.

Harus Memulai dari Nol
Saat terbangun dari koma, Chia merasa asing dengan tubuhnya sendiri. Gerakan, ucapan, bahkan bayangannya di cermin terasa berbeda. Ia mengalami kesulitan berbicara, melakukan gerakan sederhana, dan penglihatannya tidak lagi sebaik sebelumnya hingga ia kesulitan membaca.
Salah satu hal yang paling membuatnya terpukul adalah menyadari rambut panjang kesayangannya telah dicukur untuk keperluan operasi. Steve Peh sudah menduga hal ini akan sangat berat baginya. Karena itu, ia memutuskan untuk mencukur kepalanya juga.
Ketika Chia terbangun dan menyadari rambutnya hilang, ia menjadi panik dan emosional. Dalam kondisi bingung, ia mencoba mencabut selang medis yang terpasang. Untuk menenangkannya, Peh menunjukkan kepalanya yang juga botak dan berkata, “Kamu botak, jangan khawatir, aku juga botak denganmu.” Momen itu, kata Chia, sangat membantunya.
Minggu-minggu berikutnya adalah masa yang sangat sulit. Chia tidak bisa ke toilet sendiri, menyikat gigi, atau berdiri tanpa bantuan. Ia menjalani terapi wicara, terapi fisik, dan latihan berjalan untuk mempelajari kembali kemampuan dasar yang dulu terasa sepele.
Tanda yang Diabaikan
Chia kemudian menyadari bahwa sebelum stroke, ia telah mengabaikan banyak tanda peringatan. Di awal usia 30-an, ia pernah memeriksakan diri ke dokter karena sulit tidur, dan saat itu tekanan darah tingginya terdeteksi. Ia bahkan sempat disarankan untuk segera ke rumah sakit jika tekanan darahnya terus tinggi, tetapi ia merasa hal itu tidak serius karena masih muda.
“Saya seperti menyangkal kenyataan. Rasanya tidak masuk akal kalau saya sudah punya masalah kesehatan serius di usia 30-an,” katanya.
Baru setelah stroke, Chia mengetahui bahwa hipertensi yang ia alami memiliki faktor genetik. Ayahnya juga didiagnosis tekanan darah tinggi di usia muda dan rutin mengonsumsi obat.
Stroke dan Perempuan
Data di Singapura menunjukkan bahwa perempuan menyumbang sekitar 42 persen dari seluruh kasus stroke. Meski stroke lebih sering terjadi pada usia lanjut, perempuan muda tetap berisiko, terutama jika memiliki faktor seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, kelebihan berat badan, kurang olahraga, atau pola makan tidak sehat.
Beberapa kondisi khusus pada perempuan, seperti kehamilan, terapi hormon, dan penyakit autoimun, juga dapat meningkatkan risiko stroke.
Bangkit dengan Dukungan Keluarga
Tiga bulan pertama pemulihan adalah masa terberat bagi Chia. Ia sering bangun dengan tubuh mati rasa dan penglihatan kabur. Bahkan tugas sederhana seperti mengatur barang terasa mustahil, seolah otaknya tidak bisa memproses warna dan kategori.
Ketidakpastian tentang masa depannya juga sangat membebaninya. Ia tidak tahu apakah bisa kembali bekerja seperti dulu.
Yang membuatnya bertahan adalah dukungan luar biasa dari keluarga dan pasangan. Setelah keluar dari rumah sakit, Chia tinggal bersama orang tua Peh selama enam bulan. Mereka memberikan kamar utama agar Chia lebih mudah bergerak. Peh menyesuaikan pekerjaannya agar bisa selalu mendampingi, dan anggota keluarga lain ikut membantu.
Motivasi tak terduga datang dari seekor anak anjing. Merawat hewan itu memaksa Chia melatih kembali kemampuan motoriknya memberi makan, membersihkan, dan bergerak secara perlahan.
Butuh sekitar satu tahun hingga Chia merasa pulih secara fisik. Ia dan Peh menikah pada Maret 2024 dan kini tinggal di rumah mereka sendiri. Chia sekarang bekerja sebagai asisten pribadi.
Pesan Penting: Jangan Abaikan Kesehatan
Chia berharap kisahnya bisa menjadi pengingat bagi perempuan lain agar tidak menyepelekan masalah kesehatan, sekecil apa pun. Menurut para ahli, sebagian besar kasus stroke dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup dan pengelolaan faktor risiko, terutama tekanan darah tinggi.
Mengontrol tekanan darah dengan obat dan pemeriksaan rutin terbukti sangat efektif menurunkan risiko stroke. Mereka yang memiliki riwayat keluarga juga disarankan lebih waspada dan berkonsultasi dengan tenaga medis sejak dini.
Cara Pandang Hidup yang Baru
Meski masih mengalami dampak jangka panjang seperti gangguan keseimbangan dan harus minum obat setiap hari, Chia merasa sangat bersyukur bisa selamat.
“Dulu saya sangat kompetitif dan sering membandingkan diri dengan orang lain. Sekarang tidak lagi,” katanya. “Setelah hampir meninggal, saya sadar yang penting adalah hidup dengan bahagia dan cukup.”
Jika bisa berbicara pada dirinya di masa lalu, Chia akan memberi satu pesan sederhana: “Minumlah obat tekanan darah itu. Jangan abaikan hanya karena kamu merasa masih muda.”
Bagikan ke:
