Profil Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjadi sorotan setelah lukisan yang ia ciptakan terjual seharga Rp311 juta dalam lelang. Hasil penjualan tersebut akan didonasikan untuk korban banjir di Sumatera. Sebagai presiden RI ke-6, SBY memiliki latar belakang yang cukup menarik dan kaya akan pengalaman.
SBY lahir pada 9 September 1949 di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ia adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Ayahnya merupakan purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Letnan Satu, sedangkan ibunya berasal dari keturunan pendiri Pondok Pesantren Tremas di Pacitan.
Selama masa kecilnya, SBY tidak dipanggil dengan nama lengkapnya, melainkan “Sus”. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Pacitan, SBY memasuki dunia militer dengan masuk sebagai taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Ia berhasil meraih predikat lulusan terbaik pada tahun 1973.
Setelah lulus, SBY melanjutkan studi di Amerika Serikat dari tahun 1976 hingga 1983. Setelah kembali ke Indonesia pada 1985, ia mengikuti berbagai pendidikan lanjutan, termasuk Kursus Komandan Batalyon pada 1985 serta Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada periode 1988–1989.
Di samping karier militernya, SBY juga mengembangkan pendidikan akademik dengan meraih gelar Master of Arts (MA) di bidang manajemen dari Webster University, Missouri, Amerika Serikat. Selain itu, ia juga menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Keio, Tokyo, Jepang, pada tahun 2006.
SBY menikah dengan Kristiani Herawati, putri dari Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan Siti Sunarti Sri Hadiyah, pada 30 Juli 1976. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).
Karier SBY di lingkungan militer dikenal gemilang. Ia pernah menduduki berbagai jabatan strategis, seperti Komandan Ton Pan, Komandan Kipan, Komandan Batalyon Infanteri, Komandan Brigade Infanteri, Komandan Korem, Kepala Staf Kodam Jaya, Panglima Kodam II/Sriwijaya, hingga Kepala Staf Teritorial TNI.
Selain itu, SBY juga pernah menjadi Chief Military Observer United Nations Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina sejak awal November 1995. Ia kemudian memilih mengakhiri pengabdiannya di dunia militer pada 27 Januari 2000 dan memasuki masa pensiun dengan pangkat Jenderal bintang empat.
Selama perjalanan karier militernya, SBY meraih berbagai tanda jasa dan penghargaan, seperti Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force pada 1996, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya pada 1998, serta Bintang Mahaputera Utama pada 1999.
Setelah menanggalkan seragam militer, SBY beralih ke panggung politik. Langkah awalnya di dunia pemerintahan dimulai saat ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia kemudian kembali mendapat amanah dari Gus Dur untuk mengisi posisi Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan.
Pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2001, SBY kembali dipercaya menduduki jabatan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, namun ia memilih mengundurkan diri pada 11 Maret 2004. Keputusan tersebut membuka jalan baginya untuk lebih fokus menggunakan hak politiknya dengan maju sebagai calon presiden.
Pada Pemilihan Presiden 2004, SBY sukses meraih kemenangan dan resmi dilantik sebagai Presiden keenam Republik Indonesia pada 20 Oktober 2004 bersama Jusuf Kalla, dengan perolehan suara lebih dari 60 persen. Ia kembali memenangkan Pilpres 2009 dan melanjutkan kepemimpinannya pada periode 2009–2014 dengan Boediono sebagai wakil presiden.
Selama satu dekade memimpin Indonesia, pemerintahan SBY dinilai mampu menjaga sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga berada di kisaran 5,5 persen, bahkan ketika sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tengah dilanda krisis ekonomi. Pada periode tersebut, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia disebut meningkat hampir 3,5 kali lipat, dari sekitar Rp10,5 juta pada 2004 menjadi kurang lebih Rp36,6 juta pada 2013.
Selain itu, di era kepemimpinannya, Indonesia juga semakin aktif berperan dalam misi perdamaian internasional dengan mengirimkan Pasukan Garuda ke berbagai wilayah konflik, sehingga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia.
Usai membahas profil SBY, presiden RI ke-6 itu kini menjadi sorotan usai melelang lukisannya dan laku Rp311 juta. Lelang tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Art For Humanity, yakni sebuah pameran seni rupa yang sekaligus menjadi ajang penggalangan dana bagi para korban bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatera.
Acara Art For Humanity digelar di Teater Kecil, kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa, 24 Desember. Dalam agenda lelang tersebut, lukisan berjudul God’s Day ditawarkan dengan harga pembuka sebesar Rp100 juta. Persaingan penawaran berlangsung cukup ketat dan hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit hingga akhirnya karya tersebut terjual dengan nilai Rp311 juta.
Lukisan God’s Day sendiri menampilkan gambaran kedahsyatan banjir bandang yang menerjang perkampungan, dengan air berwarna kecokelatan yang menenggelamkan rumah-rumah warga. Karya ini menjadi simbol dari tragedi kemanusiaan yang kerap muncul akibat bencana alam di Indonesia.
Pada kesempatan itu, Susilo Bambang Yudhoyono turut membagikan kisah pribadinya saat menghadapi berbagai bencana besar ketika masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Salah satu pengalaman yang ia ceritakan adalah peristiwa tsunami yang melanda Aceh dan Nias pada tahun 2004. Saat bencana tersebut terjadi, SBY mengaku tengah berada di Jayapura untuk meninjau kondisi korban bencana di Papua.
Meski menghadapi berbagai pertimbangan keamanan karena Aceh masih berada dalam situasi konflik, ia tetap memutuskan untuk mendatangi lokasi terdampak. SBY bersama rombongan akhirnya berangkat menuju Aceh menggunakan pesawat berukuran kecil dan tiba pada hari kedua pascatsunami. Setibanya di sana, ia menyaksikan secara langsung kondisi Aceh yang luluh lantak akibat terjangan gelombang besar.
“Semua porak poranda, jenazah di mana-mana,” ujar SBY mengenang peristiwa tersebut. Ia juga menceritakan momen emosional saat berada di Banda Aceh bersama mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, dikutip dari TribunStyle.com.
SBY juga menceritakan pertemuannya dengan dua anak laki-laki yang kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat tsunami. Saat itu, Ani Yudhoyono memangku kedua anak tersebut sambil meneteskan air mata, sementara SBY berusaha menahan kesedihannya.
“Itu adalah puncak sebuah penderitaan. Banyak orang yang menderita, mereka hopeless, tidak punya masa depan,” kata SBY dengan suara bergetar.
Pengalaman menyaksikan langsung penderitaan masyarakat Aceh dan sejumlah daerah di Sumatera itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi SBY dalam melahirkan lukisan God’s Day. Menurutnya, karya tersebut merupakan cerminan dari tragedi kemanusiaan yang sangat mendalam.
“Saya lihat satu per satu deras airnya dari atas sana, tersanggah bukit, kampung yang tidak besar hanyut. Ini tragedi, ini humanity,” tuturnya.
SBY pun menegaskan bahwa ia dengan tulus merelakan lukisan tersebut dilepas dengan harga berapa pun demi tujuan kemanusiaan. Seluruh dana hasil penjualan karya tersebut disalurkan sepenuhnya untuk membantu para korban banjir.
Bagikan ke:
