
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang mengemukakan gagasan untuk membeli wilayah Greenland dari Denmark. Wilayah ini secara hukum berada di bawah penguasaan Denmark, namun Trump menunjukkan ketertarikan untuk menjadikannya bagian dari AS. Pernyataannya saat dilantik sebagai presiden pada Januari 2025 menunjukkan niatnya untuk membawa negara kembali menjadi “negara yang berkembang, negara yang meningkatkan kekayaannya, dan negara yang akan memperluas wilayahnya.” Ia juga menyatakan bahwa pemerintahannya akan “mengibarkan bendera AS ke cakrawala baru.”
Kata-kata Trump, termasuk mimpinya untuk memasukkan Greenland, pulau terbesar di dunia, menjadi bagian dari AS, mengingatkan kita pada sejarah panjang ekspansi AS. Walter McDougall, sejarawan dari Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa kebijakan Trump mengingatkan kita pada tradisi tanah yang dijanjikan dari Doktrin Monroe. Doktrin ini telah menjadi alasan pembenar atas intervensi dan ekspansi AS sejak tahun 1823.
Jay Sexton, sejarawan dari Universitas Missouri, menambahkan bahwa AS berargumen bahwa mereka perlu merebut wilayah-wilayah tersebut sebelum jatuh ke kekuatan lain. Ekspansi teritorial yang mengubah AS menjadi negara yang luas seperti sekarang telah dimulai beberapa tahun setelah pembentukannya pada 1776. Perang untuk menaklukan penduduk asli, mengusir para pemukim, atau menandatangani perjanjian dengan kekuatan Eropa adalah cara umum yang digunakan oleh negara-negara yang ingin mengembangkan wilayah mereka.
Namun, AS memiliki siasat lain selain perang, yaitu membeli wilayah dari negara-negara berdaulat, seperti yang diusulkan Trump dengan Greenland. Berikut adalah beberapa episode sejarah ketika Amerika Serikat membeli wilayah:
Pembelian Louisiana (1803)
Keputusan Presiden Thomas Jefferson untuk membeli wilayah Louisiana dari Prancis era Napoleon menandai ekspansi besar pertama negara baru tersebut. Napoleon, yang mengubur mimpinya membangun kekaisaran di luar Prancis, akhirnya sepakat menjual Louisiana kepada Republik Amerika. Pada November 1803, Louisiana resmi menjadi bagian dari AS. AS kala itu membayar US$15 juta kepada Prancis (setara Rp251 miliar dengan kurs saat ini). Penambahan ini membuat wilayah AS bertambah lebih dari dua juta kilometer persegi.
Penyerahan Meksiko (1848)
Pada 1840-an, sebagian besar masyarakat AS percaya bahwa tugas mereka adalah berekspansi ke wilayah barat hingga pantai Pasifik. Salah satu pendukung ekspansi yang paling yakin adalah Presiden James Knox Polk. Rezim pemerintahannya pada 1845 mewariskan perselisihan dengan Meksiko terkait wilayah Texas. Perang antara dua kubu itu berakhir dengan kemenangan AS. Ujung konflik itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada Februari 1848, di mana AS mendapat kekuasaan atas Texas, California, New Mexico, Arizona, Nevada, Utah, dan sebagian Colorado, Wyoming, Kansas, dan Oklahoma.
Penjualan La Mesilla (1853)
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1853, Meksiko dan AS menyetujui penjualan sebidang kecil wilayah Meksiko di selatan kawasan yang sekarang menjadi negara bagian Arizona dan New Mexico. Kesepakatan ini di Meksiko dikenal dengan Venta de la Mesilla, sementara di AS sebagai Pembelian Gadsden. Meksiko akhirnya menerima US$10 juta (sekitar Rp120 miliar dalam kurs saat ini).
Pembelian Alaska dari Rusia (1867)
Banyak yang tidak memahami tekad Menteri Luar Negeri AS William Seward untuk membeli Alaska dari pemerintah Tsar Alexander II pada 1867. Seward percaya bahwa wilayah itu memiliki nilai strategis yang besar karena dapat mencegah bahaya intervensi Inggris di Amerika Utara. Pembelian tersebut menimbulkan kontroversi yang cukup besar dan surat kabar pada waktu itu bahkan menyebutnya “kebodohan Seward.”
Pembelian Kepulauan Virgin AS dari Denmark (1917)
Ini adalah terakhir kalinya AS membeli sebuah wilayah. Kala itu mereka bersepakat dengan Denmark, negara yang sekarang tidak ingin menjual Greenland kepada AS. Kepulauan yang diperjualbelikan pada saat itu adalah Hindia Barat Denmark, sekelompok pulau di Karibia yang telah diincar oleh para ahli strategi AS sejak pertengahan abad ke-19. Akhirnya, pada awal abad ke-20, Denmark dan AS menyetujui penjualan kepulauan tersebut seharga US$25 juta (Rp 418 miliar dalam kurs saat ini).







Bagikan ke:
