Sebuah proyek besar yang dikenal dengan Waste to Energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan segera dimulai. Proses peletakan batu pertama atau groundbreaking dari proyek ini ditargetkan terlaksana pada Maret 2026. CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan untuk menentukan pemenang lelang proyek pengolahan sampah menjadi energi dilakukan dalam waktu yang cukup singkat.
Dalam sebuah diskusi bertema “Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas”, Rosan menyampaikan bahwa dulu proses negosiasi untuk satu proyek PLTSa membutuhkan waktu tiga hingga empat tahun. Namun kini, setelah lelang dibuka Desember lalu, targetnya adalah bisa melakukan groundbreaking pada Maret 2026.
Menurut Rosan, program WtE sudah ada sejak tahun 2014, tetapi tidak berjalan secara optimal. Di Indonesia saat ini hanya ada dua PLTSa yang telah beroperasi, yaitu di Surabaya dan Surakarta. Ia menilai faktor ketidakpastian menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan proyek tersebut.
Namun, minat terhadap proyek ini sangat besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Rosan mengungkapkan bahwa banyak negara seperti Eropa, Belanda, Jerman, Spanyol, Korea, Jepang, dan China menunjukkan antusiasme terhadap proyek ini. Harga yang ditetapkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah adalah 20 sen per kWh, yang menjadi harga standar bagi semua peserta lelang.
Pada batch pertama lelang yang menyasar empat kota/kabupaten, terdapat lebih dari 100 perusahaan dari berbagai negara yang tertarik mengikuti lelang proyek PLTSa ini. Menurut Rosan, jumlah peserta mencerminkan tingginya minat dan kompetisi di pasar energi terbarukan.
Sebelumnya, BPI Danantara telah memulai proses bidding atau lelang proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pada pertengahan November 2025. Berdasarkan laporan Danantara pada awal Oktober 2025, sekitar 120 hingga 200 perusahaan menyatakan minat pada tahap awal.
Rosan juga menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat tujuh daerah yang telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian Lingkungan Hidup. Ia menyebutkan bahwa minggu depan akan dilakukan pembukaan proses bidding untuk memasukkan penawaran.
Tujuh lokasi proyek PSEL tersebut berada di Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Bogor Raya, Tangerang Raya, Bekasi Raya, dan Medan Raya. Namun, Danantara memangkas kembali daftar tersebut menjadi empat daerah paling potensial pada tahap pertama, yaitu Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta.
Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan empat daerah tersebut meliputi tingkat kepadatan penduduk, volume sampah, serta infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengoperasian proyek. Dengan adanya proyek ini, diharapkan dapat memberikan solusi efektif terhadap masalah sampah sekaligus meningkatkan pasokan energi bersih di wilayah-wilayah tersebut.
Bagikan ke:
