Sumber pendanaan perusahaan berubah seiring dengan tren penerbitan surat utang yang meningkat pesat pada tahun 2025. Perubahan ini terjadi karena biaya dana melalui obligasi dinilai lebih kompetitif dibandingkan kredit perbankan, meskipun suku bunga kredit masih relatif tinggi.
Peningkatan Penerbitan Surat Utang Korporasi
Data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan bahwa penerbitan surat utang korporasi melonjak sebesar 89,9% secara tahunan pada 2025. Total nilai penerbitan mencapai Rp 284,3 triliun. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya minat perusahaan terhadap instrumen pasar modal sebagai sumber pendanaan.
Imbal Hasil Obligasi Menurun, Kredit Masih Tinggi
Pefindo menyatakan bahwa penurunan imbal hasil obligasi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pergeseran ini. Sepanjang 2025, imbal hasil obligasi turun hampir 100 basis poin (bps) menjadi 6,07%, dari level 7% pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa suku bunga kredit modal kerja perbankan hanya turun 50 bps menjadi 8,2%, dari sebelumnya 8,7%. Hal ini membuat biaya dana melalui obligasi lebih murah dibandingkan kredit perbankan.
Selain faktor bunga, skema pembayaran obligasi juga dinilai lebih fleksibel. Perusahaan hanya perlu membayar kupon secara berkala, tanpa kewajiban mencicil pokok pinjaman setiap bulan seperti dalam skema kredit perbankan.
Perlambatan Kredit Modal Kerja
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit modal kerja mengalami perlambatan sepanjang 2025. Pertumbuhan kredit hanya mencapai 4,4% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang masih mencatat pertumbuhan sebesar 6,8%.
Namun, beberapa bank tetap optimistis bahwa kredit akan kembali ekspansif pada 2026. Bank Central Asia (BCA), misalnya, berhasil membukukan pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,9% secara tahunan hingga akhir 2025, mencapai Rp 439,8 triliun. Angka ini melampaui rata-rata industri.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyampaikan bahwa tren penyaluran kredit sejalan dengan kondisi perekonomian. Ia berharap pertumbuhan kredit modal kerja tahun ini tetap positif.
“Kami optimistis dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor,” ujarnya. “Tentunya dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko.”
Optimisme dari Bank Syariah Indonesia
Optimisme serupa disampaikan oleh Bank Syariah Indonesia (BSI). Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyatakan bahwa pihaknya yakin kinerja pembiayaan, khususnya di segmen produktif, akan tumbuh solid pada tahun ini.
Meski pembiayaan wholesale BSI pada 2025 tercatat turun menjadi Rp 9,9 triliun dari Rp 10,9 triliun pada tahun sebelumnya, Wisnu melihat adanya sinyal positif peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini didorong oleh stimulus insentif dan kebijakan pemerintah yang bertujuan mengakselerasi pertumbuhan industri.
BSI pun berkomitmen menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif, fleksibel, dan sesuai prinsip syariah. Solusi ini dirancang untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas, memperluas pasar, serta memperkuat struktur permodalan.
“Pembiayaan produktif menjadi salah satu fokus utama BSI dalam meningkatkan kontribusi terhadap sektor riil,” kata Wisnu.
Bagikan ke:
