Kesaksian Warga tentang Detik-Detik Pesawat ATR 42-500 Melepaskan Landasan
Seorang warga bernama Erlinda (31) mengaku melihat pesawat ATR 42-500 lepas landas sekitar pukul 08.10 WIB saat sedang berolahraga di sekitar bandara. Ia menjelaskan bahwa pesawat tersebut terlihat mengudara dengan lancar, bergerak ke arah timur, dan kondisi cuaca pagi itu terpantau cerah berawan.
Erlinda menyatakan bahwa tidak ada kejanggalan saat pesawat mengudara. Proses lepas landas berlangsung normal, dan ia menegaskan bahwa semua hal terlihat seperti biasanya.
Selain Erlinda, warga lain bernama Hasna juga mengaku mendengar satu kali dentuman keras dari kejauhan di sekitar kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, sebelum lokasi tersebut ramai didatangi petugas Basarnas dan tim gabungan. Hasna menggambarkan suara dentuman tersebut seperti suara pohon yang tumbang, meskipun ia tidak mengetahui asal muasal suara tersebut.
Tantangan dalam Operasi Pencarian dan Evakuasi
Tim SAR Gabungan menghadapi tantangan berat dalam proses pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). Kabut tebal dan medan curam menjadi kendala utama operasi SAR pada hari kedua pencarian.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa pencarian dimulai sejak pagi dengan mengerahkan tim aju yang membawa drone serta perlengkapan evakuasi. Selain itu, helikopter H225M Caracal TNI AU turut diterjunkan untuk melakukan pemantauan udara di sekitar lokasi kejadian.
Dari hasil pemantauan udara, kru helikopter melaporkan temuan serpihan kecil yang diduga bagian jendela pesawat pada pukul 07.46 WITA. Selang beberapa menit kemudian, pada pukul 07.49 WITA, terpantau serpihan berukuran besar yang dicurigai sebagai badan dan ekor pesawat di lereng bagian bawah Gunung Bulusaraung.
Namun, akses menuju lokasi temuan tersebut cukup ekstrem. Medan terjal disertai kabut tebal membuat tim harus mengutamakan faktor keselamatan sebelum mendekati bangkai pesawat.
“Untuk menuju ke badan pesawat, aksesnya sangat terjal dan berkabut. Kami harus menghitung betul aspek keamanan personel sebelum melakukan evakuasi,” ujar Andi.
Ia menjelaskan, proses evakuasi puing pesawat maupun korban direncanakan melalui jalur pendakian Gunung Bulusaraung yang dinilai lebih aman meskipun jaraknya lebih jauh dibandingkan jalur alternatif lainnya.
“Kami memilih jalur pendakian karena aksesnya lebih memungkinkan dan aman. Ada jalur yang lebih dekat, tetapi sangat berisiko karena terlalu curam,” jelasnya.
Informasi Lengkap Mengenai Pesawat dan Korban
Pesawat ATR 42-500 tersebut membawa tujuh kru dan tiga penumpang yang merupakan personel Tim Air Surveillance Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hingga kini, Tim SAR Gabungan yang melibatkan ratusan personel masih terus melakukan pencarian dan bersiaga untuk proses evakuasi lanjutan.
Bagikan ke:
