TIMUR TENGAH – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah sebuah gugus tempur Angkatan Laut AS dilaporkan tiba di perairan Timur Tengah pada Selasa (27/1/2026). Pengerahan kekuatan militer ini dilakukan di tengah isyarat Washington untuk melakukan intervensi militer terhadap Teheran.
Berdasarkan laporan CNA, armada tempur tersebut dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln. Meski Komando Pusat AS tidak merinci lokasi spesifik operasional kapal tersebut, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa armada tersebut telah menempati posisi strategis di dekat wilayah Iran.
”Kita memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari [pasukan operasi] Venezuela,” tegas Trump dalam wawancaranya dengan Axios.
Mobilisasi militer ini merupakan respons Washington terhadap situasi domestik Iran yang bergejolak. Gelombang unjuk rasa yang meluas sejak awal tahun dan meningkatnya jumlah korban jiwa telah memicu peringatan keras dari Gedung Putih. Trump menyatakan tidak akan segan melakukan intervensi militer jika otoritas Iran menggunakan kekerasan eksesif dalam menangani para pengunjuk rasa.
Eskalasi ini juga mengindikasikan potensi perubahan target strategis AS. Senator AS Lindsey Graham, kepada The New York Times, menyebutkan bahwa Trump kini memiliki tujuan untuk “mengakhiri rezim” Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Graham mengklaim bahwa Washington memegang laporan intelijen yang menyimpulkan pemerintahan Iran saat ini berada pada titik terlemahnya sejak Revolusi 1979.
Para analis pertahanan menilai Trump memiliki beberapa opsi intervensi, mulai dari serangan presisi ke fasilitas militer hingga target langsung terhadap pimpinan negara. Namun, The Guardian mencatat kompleksitas situasi di lapangan; meskipun publik Iran menentang kepemimpinan ulama yang berkuasa, mayoritas rakyat juga menolak skenario perubahan rezim yang dipaksakan oleh kekuatan asing.
Di tengah ancaman perang, terdapat klaim mengenai upaya diplomatik. Trump menyebut bahwa pihak Teheran telah berulang kali mencoba menghubungi Washington untuk bernegosiasi. “Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka menelpon berkali-kali,” ujar Trump.
Kendati demikian, Iran merespons kehadiran armada AS dengan ancaman keras. Teheran bersumpah akan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan jika Washington memutuskan untuk mengambil langkah intervensi militer.
Bagikan ke:
