Peran Kantin Sekolah dalam Mendukung Gizi Seimbang
Kantin sekolah kini tidak lagi hanya menjadi tempat untuk menikmati jajanan. Dengan munculnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), standarisasi kantin sehat menjadi sangat penting agar siswa mendapatkan asupan gizi yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memenuhi prinsip gizi seimbang.
Di Jakarta sendiri, terdapat tiga sekolah yang menjadi percontohan dalam penerapan kantin sehat. Ketiganya adalah SMA Negeri MH Thamrin, SMK 63, dan SMK 57. Program ini diharapkan bisa menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia.
Prinsip Dasar Kantin Sehat
Menurut Profesor Ali Khomsan, Guru Besar Pangan dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), kantin sehat harus menjadi benteng pertahanan gizi anak di sekolah. Ia menekankan bahwa konsep kantin sehat tidak boleh lepas dari prinsip keberagaman pangan dan higienitas yang ketat.
Menurut Ali, menu di kantin sehat harus mencerminkan panduan gizi seimbang. Hal ini berarti tidak cukup hanya menyediakan makanan instan atau junk food. “Intinya, kantin sehat adalah kantin yang menyajikan makanan dan minuman yang sehat, yang mencerminkan penyediaan makanan yang memenuhi persyaratan gizi seimbang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makanan yang disajikan di kantin sehat harus mencakup karbohidrat, lauk-pauk, sayuran, dan buah-buahan. Gizi seimbang ini diharapkan dapat memutus rantai ketergantungan anak pada camilan yang minim nutrisi.
“Sehingga makanan-makanan itu tidak hanya berupa gorengan-gorengan saja ya, tetapi juga mencerminkan keberagaman dari karbohidrat, kemudian protein, kemudian mineral, vitamin yang dicerminkan oleh misalnya nasi, lauk-lauk, sayuran, buah,” tambahnya.
Aspek Sanitasi yang Penting
Selain soal menu, aspek sanitasi juga menjadi faktor penentu apakah sebuah kantin layak disebut sebagai kantin sehat. Ali menyoroti pentingnya akses air bersih untuk proses pengolahan hingga pencucian peralatan makan.
Menurutnya, higienitas dalam penyiapan makanan sangat memengaruhi kualitas kesehatan jangka panjang bagi siswa SD hingga SMA, maupun karyawan di perkantoran.
Peran Kantin di Tengah Program MBG
Muncul pertanyaan mengenai relevansi kantin sekolah saat pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ali memprediksi akan ada pergeseran peran kantin di masa depan. Kantin nantinya bukan lagi sebagai sumber utama pemenuhan gizi siswa, melainkan pelengkap dari sajian menu MBG.
“Kemudian mungkin kebanyakan hanya akan menyediakan makanan-makanan snack atau jajanan sehat,” ungkapnya.
Tanggung Jawab Negara dan Keluarga
Program MBG ditargetkan menyasar 80 juta penerima manfaat pada tahun 2026. Ali mengingatkan, MBG diperkirakan hanya mampu mengcover sekitar 25 hingga 30 persen kebutuhan gizi harian anak.
“Ya, karena mereka diberikan dalam bentuk makan siang atau makan pagi, yang itu memberikan kontribusi sekitar 25-30 persen kesukupan gizi,” jelas Prof. Ali.
Sisanya, lanjut Ali, tetap berada di tangan orang tua. Meski pendanaan MBG saat ini sangat besar, bahkan melampaui sektor kesehatan dan pendidikan lainnya, keluarga tetap menjadi pilar utama pemenuhan gizi 100 persen.
“Kemudian kalau negara menanggung sepertiga itu sudah luar biasa. Keluarga itu kan bertanggung jawab terhadap 100 persen kebutuhan dari anak-anak mereka,” imbuhnya.
Bagikan ke:
