Operasi SAR Hari Kedua di Gunung Bulusaraung
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) pesawat ATR PK-THT milik Kementerian Kelautan dan Perikanan memasuki hari kedua, Minggu (18/1/2026). Tim SAR Gabungan kini fokus pada pencarian 10 korban serta black box pesawat di kawasan Pegunungan Bulusaraung. Lokasi ini berada di perbatasan Kabupaten Pangkep, Maros, dan Bone, Sulawesi Selatan.
Plt Kepala BPBD SAR Pangkep, M Akbar Yunus, menjelaskan bahwa dugaan titik jatuh pesawat berada di punggung utara dan timur Gunung Bulusaraung, dengan ketinggian antara 1.353 hingga 1.531 meter di atas permukaan laut (mdpl). Medan pencarian tergolong ekstrem karena melibatkan kawasan karst terjal, hutan vegetasi basah, serta kemiringan lereng mencapai 45 hingga 75 derajat.
“Embun dan kabut pagi membuat jalur licin, apalagi jika hujan turun,” ujar Akbar Yunus. Hal ini menambah kesulitan bagi tim dalam melakukan pencarian dan evakuasi.
Hingga Minggu dini hari pukul 01.00 Wita, posko SAR utama telah dipindahkan dari Desa Leang-Leang, Bantimurung, Maros, ke Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep. Relokasi sejauh sekitar 32 kilometer ini dilakukan sejak Sabtu malam pukul 21.00 Wita untuk mendekatkan tim ke lokasi pencarian.
BPBD Pangkep telah berkoordinasi dengan BMKG terkait prakiraan cuaca. Berdasarkan data cuaca, hujan ringan diprediksi terjadi Minggu siang hingga Senin (19/1/2026), sementara potensi hujan lebat diperkirakan muncul Selasa (20/1/2026). “Pencarian akan diprioritaskan hari ini karena besok hingga lusa potensi hujan meningkat,” kata Akbar Yunus.
Kerja Sama Tim SAR yang Luas
Sebanyak sekitar 1.000 relawan dan aparat gabungan dari TNI AD, TNI AL, Polri, Basarnas, serta BPBD Pangkep, Maros, dan Makassar dikerahkan menyisir Gunung Bulusaraung. Sekitar 400 relawan ditampung di lebih dari 100 rumah warga di Desa Tompobulu dan Balleanging, Balocci.
Kepala Desa Tompobulu Abdul Kadir mengungkapkan, Kasdam XIV/Hasanuddin Brigjen TNI Rusmili turut bermalam di masjid desa bersama personel SAR. Dapur umum dijadwalkan mulai beroperasi Minggu pagi di lapangan Desa Tompobulu.
Kendala Utama dalam Operasi SAR
Salah satu kendala utama operasi SAR adalah Emergency Location Transmitter (ELT) pesawat yang tidak menyala, sehingga menyulitkan tim dalam menentukan titik jatuh secara akurat. Meski demikian, pencarian terus dimaksimalkan dengan penyisiran darat.
Posko evakuasi keluarga korban dipusatkan di Bandara Sultan Hasanuddin, Mandai, sementara evakuasi medis direncanakan menuju RS TNI AU Dody Sardjoto atau RS Bhayangkara DVI Polri, bergantung pada kondisi cuaca dan medan.
Penyelenggaraan Logistik dan Koordinasi
Selain itu, koordinasi antara berbagai instansi dan komunitas lokal sangat penting dalam mendukung operasi SAR. Ketersediaan logistik seperti makanan, perlengkapan medis, dan tempat tinggal bagi para relawan menjadi faktor kunci dalam menjaga semangat dan efisiensi tim.
Dengan segala tantangan yang ada, tim SAR tetap berkomitmen untuk menemukan korban dan memastikan proses evakuasi berjalan lancar. Semangat dan kerja sama yang kuat antara pemerintah, aparat, dan masyarakat setempat menjadi fondasi utama dalam operasi ini.

Seorang pengamat independen yang mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif.







