Perang Saudara Ethiopia yang Kembali Meletus
Situasi di Ethiopia kini sedang memburuk akibat munculnya kembali perang saudara. Konflik ini terjadi antara pasukan Pemerintah Federal Ethiopia dan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di wilayah Tsemlet, Provinsi Tigray bagian barat. Selain itu, konflik juga dilaporkan terjadi di bagian utara Provinsi Tigray.
Menurut laporan dari AFP pada Kamis (29/1/2026), perang tersebut sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Situasi di sana semakin memanas hingga menyebabkan beberapa aktivitas penerbangan di bandara yang ada di Ibukota Addis Ababa harus dihentikan sementara. “Situasi di sana sudah semakin memburuk,” ujar seorang sumber anonim kepada AFP.
Sejarah Perang Saudara Ethiopia
Perang saudara yang terjadi antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF bukanlah hal baru. Sebelumnya, kedua pihak pernah berperang pada November 2020. Itu merupakan kali pertama perang saudara pecah di Ethiopia. Perang tersebut dikenal dengan nama Perang Tigray.
Pemicu perang saat itu adalah serangan pasukan TPLF ke markas pasukan Pemerintah Federal Ethiopia yang ada di Provinsi Tigray. Merespons serangan tersebut, Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengirim pasukan ke wilayah Tigray untuk menyerang TPLF. Bentrokan senjata pun terjadi antara kedua pihak.
Pasukan Pemerintah Federal Ethiopia tidak bergerak sendirian. Mereka dibantu oleh pasukan dari Pemerintah Eritrea yang dikenal sangat pro terhadap PM Ahmed dan sangat anti terhadap TPLF.
Korban Jiwa yang Menyedihkan
Perang yang terjadi antara pasukan Ethiopia dan pasukan TPLF saat itu berjalan alot. Keduanya saling gontok-gontokan demi mempertahankan posisi. Setelah berlangsung cukup lama, perang akhirnya berakhir pada November 2022. Saat itu, pasukan Pemerintah Ethiopia dan pasukan TPLF sepakat menandatangani perjanjian gencatan senjata.
Namun, perang tersebut dilaporkan telah menelan 600 ribu korban jiwa. Sementara itu, lebih dari 3 juta warga terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga guna mencari tempat aman.

Krisis di Provinsi Tigray
Setelah perang saudara usai, Provinsi Tigray justru mengalami krisis. Banyak warga di sana yang hidup miskin dan kelaparan setiap hari. Hal ini terjadi karena wilayah Tigray menutup diri dari Pemerintah Ethiopia.
Oleh karena itu, Provinsi Tigray hingga saat ini hidup dari bantuan-bantuan internasional. Menurut data dari World Food Program (WFP), 80 persen penduduk di sana membutuhkan bantuan. Salah satu lembaga internasional yang menjadi andalan warga Tigray untuk mendapatkan bantuan adalah USAID.

Namun, sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari 2025, USAID tidak lagi mengirim bantuan ke Tigray. Sebab, Trump memutuskan untuk membubarkan USAID dengan dalih efisiensi. Bantuan ke Tigray saat ini dikelola langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat dalam jumlah terbatas.
Oleh karena itu, kondisi warga Tigray kini kian memprihatinkan. Apalagi dalam hal kesehatan. “Pemotongan pendanaan dari donor telah menambah tekanan pada sistem kesehatan masyarakat yang sudah rapuh,” kata seorang dokter relawan yang bertugas di Tigray, Joshua Eckley, dilansir Al Jazeera.
Berita Terkini
Ethiopia melaporkan 3 kematian akibat kasus wabah Marburg. Ethiopia berhasil mengurangi 80 persen utang luar negeri dalam 6 tahun. Orang terkaya di Afrika bakal bangun pabrik pupuk terbesar di Ethiopia.
Bagikan ke:
