Aktris Aurelie Moeremans berbagi perjalanan panjangnya dalam menghadapi isu child grooming dan bagaimana ia akhirnya berani membuka suara tentang pengalamannya. Menurutnya, butuh waktu yang sangat lama hingga kisahnya dapat diterima oleh masyarakat luas. Ia menyebut, setidaknya dibutuhkan 12 tahun sebelum ia merasa yakin bahwa suaranya bisa didengar.
Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Aurelie mengungkapkan bagaimana ia sering kali gagal menyampaikan pengalamannya pada beberapa tahun sebelumnya. Ia menegaskan bahwa topik ini masih menjadi hal yang tabu di Indonesia.
“Saya tahu karena saya pernah mencoba untuk menyuarakan hal tersebut. Pada tahun 2014 saya diserang. Tahun 2020 saya coba lagi, tapi hanya sedikit dan tidak ada hasil,” tulis Aurelie.
Namun, ia melihat adanya perubahan yang signifikan dalam masyarakat Indonesia saat ini. Ketika ia merilis buku digital berjudul Broken Strings pada awal 2026, ia tidak lagi menghadapi penyalahannya terhadap korban (victim blaming) seperti yang dialaminya sepuluh tahun sebelumnya.
“Pada tahun 2026, meskipun niat awalnya hanya untuk jurnal, akhirnya buku ini didengar tanpa adanya victim blaming yang masif,” ujarnya.
Istri Tyler Bigenho itu menekankan bahwa keberaniannya mempublikasikan memoar tersebut bukan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang paling kuat. Keputusan ini, katanya, didorong oleh rasa empati terhadap para penyintas lain yang mungkin masih merasa terisolasi oleh trauma mereka.
“Buku ini saya terbitkan bukan karena saya paling kuat, tetapi karena saya tidak ingin ada satu pun orang yang merasa sendirian atau merasa semua ini salah mereka,” tegas Aurelie.
Aurelie juga mengaku terkejut dengan banyaknya pesan langsung (DM) yang masuk setelah ia membagikan kisahnya. Pesan-pesan tersebut mengonfirmasi bahwa kasus child grooming dialami oleh banyak orang, namun selama ini tersimpan rapat.
“Setiap kali saya membuka DM, saya selalu kaget. Ternyata benar, ada begitu banyak orang yang pernah mengalami child grooming, dan selama ini mereka menyimpannya sendiri,” ungkapnya.
Ia berharap keterbukaan ini dapat menjadi ruang aman bagi sesama penyintas untuk saling menguatkan. Dengan demikian, mereka bisa saling mendukung dan berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi.
“Terima kasih sudah ada, sudah berani bercerita, dan saling menjaga. Kadang saya ingin sekali bisa memeluk kalian satu-satu,” pungkas Aurelie.
Bagikan ke:
