Penyebab ELT Tidak Berfungsi pada Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, menyisakan banyak pertanyaan. Meskipun serpihan pesawat telah ditemukan oleh Tim SAR Gabungan, perangkat darurat yang seharusnya menjadi alat bantu utama dalam pencarian, yaitu Emergency Locator Transmitter (ELT), tidak berfungsi.
ELT ‘Bungkam’ Saat Benturan Hebat
Menurut informasi yang diperoleh, ELT tidak mengirimkan sinyal darurat setelah pesawat hilang kontak. Padahal, ELT dirancang untuk bekerja secara otomatis dan mengirimkan koordinat ke satelit ketika mendeteksi g-force atau benturan besar.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa kemungkinan besar ELT tidak berfungsi karena ikut hancur atau tertimbun akibat benturan ekstrem. “Jika benar pesawat menabrak lereng gunung, biasanya ELT tidak bekerja karena ikut hancur atau tertimbun,” ujarnya.
Rahasia di Balik Medan Karst Maros
Lokasi jatuh pesawat di medan karst yang tajam dan keras diduga menjadi faktor utama penyebab ELT tidak berfungsi. Beberapa analisis awal menunjukkan beberapa kemungkinan penyebab:
-
Kehancuran Fisik Seketika:
Medan karst yang tajam dan keras mungkin menyebabkan benturan yang sangat ekstrem. Jika unit pemancar ELT hancur sebelum sempat memancarkan sinyal, maka satelit tidak akan pernah menerima koordinat jatuh. -
Efek “Shielding” Alam:
Lokasi jatuh yang berada di lereng curam atau celah gunung yang dalam dapat menghalangi transmisi sinyal radio menuju satelit Cospas-Sarsat. -
Malfungsi Teknis:
Usia pesawat yang mencapai 26 tahun, sejak dibangun pada tahun 2000, membuat kondisi perawatan perangkat keselamatan menjadi fokus utama dalam investigasi lanjutan oleh KNKT.
Tim SAR Andalkan Pencarian Manual
Kegagalan ELT memaksa tim Basarnas Makassar dan personel gabungan dari TNI/Polri melakukan pencarian secara manual. Tanpa titik koordinat pasti dari ELT, tim harus menyisir hutan lebat dan tebing terjal berdasarkan laporan visual dari udara dan informasi warga yang mendengar suara ledakan.
Saat ini, fokus utama tim adalah melakukan evakuasi korban dan mengamankan Black Box (kotak hitam) untuk mengungkap data percakapan kokpit dan parameter teknis sebelum kecelakaan terjadi.
Upaya Evakuasi dan Investigasi Lanjutan
Tim SAR terus berupaya menemukan korban dan memastikan proses evakuasi berjalan lancar. Selain itu, pihak KNKT juga sedang melakukan investigasi mendalam untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan tersebut. Dalam proses ini, data dari Black Box akan menjadi salah satu sumber informasi utama.
Bagikan ke:
