Penurunan Produksi Jagung di NTB Tahun 2025
Sektor pertanian jagung di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami sedikit penurunan pada tahun 2025. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, terjadi penurunan baik dalam luas panen maupun total produksi jagung pipilan kering dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Muhammad Ahyar, Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB, menjelaskan bahwa luas panen jagung pipilan pada tahun 2025 mencapai 173,09 ribu hektare. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,39 persen atau sekitar 0,67 ribu hektare dibandingkan dengan luas panen pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 173,76 ribu hektare.
Selain itu, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen juga mengalami penurunan. Total produksi pada tahun 2025 mencapai 1,18 juta ton, turun sebanyak 34,63 ribu ton atau sekitar 2,86 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 1,21 juta ton.
“Penurunan luas panen berdampak langsung pada produksi jagung tahun 2025,” ujar Muhammad Ahyar dalam Evaluasi Capaian Statistik Pertanian NTB.
Meski demikian, BPS melihat adanya peluang peningkatan produksi jagung pada awal tahun 2026. Untuk periode Januari hingga Maret 2026, potensi luas panen jagung pipilan kering diperkirakan mencapai 80,93 ribu hektare. Dari luasan tersebut, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diproyeksikan sekitar 0,56 juta ton.
BPS menilai bahwa peningkatan panen pada triwulan pertama 2026 memiliki peluang untuk menutupi penurunan produksi tahun sebelumnya sekaligus menjaga pasokan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dan industri pengolahan di NTB.
Faktor Penting dalam Meningkatkan Produksi
Stabilitas siklus tanam dan dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi faktor penting agar proyeksi panen awal 2026 dapat terealisasi sesuai target. Dengan adanya kebijakan yang mendukung sektor pertanian, serta perencanaan yang matang, diharapkan produksi jagung di NTB dapat meningkat secara signifikan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Peningkatan akses kepada benih unggul dan teknologi pertanian yang lebih modern.
- Pelatihan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas lahan.
- Penguatan sistem irigasi dan manajemen air untuk memastikan ketersediaan air yang cukup selama musim tanam.
- Peningkatan infrastruktur transportasi dan penyimpanan hasil panen untuk mengurangi kerugian akibat kerusakan hasil panen.
Dengan kombinasi dari upaya pemerintah dan partisipasi aktif para petani, sektor pertanian jagung di NTB diharapkan dapat bangkit dan kembali stabil di masa mendatang.
Proyeksi Produksi pada Tahun 2026
Proyeksi produksi jagung pada awal tahun 2026 menunjukkan adanya harapan positif. Dengan luas panen yang diperkirakan mencapai 80,93 ribu hektare, diharapkan produksi jagung pipilan kering akan meningkat signifikan. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di NTB, terutama bagi para petani dan pelaku industri pengolahan.
Tidak hanya itu, peningkatan produksi jagung juga akan membantu menjaga ketersediaan bahan baku pakan ternak, yang sangat penting dalam mendukung sektor peternakan di wilayah tersebut. Dengan adanya pasokan yang cukup, diharapkan harga pakan ternak dapat tetap stabil, sehingga tidak memberatkan para peternak.
Dalam rangka mencapai target tersebut, diperlukan koordinasi yang baik antara pemerintah, lembaga statistik, dan masyarakat petani. Dengan kolaborasi yang efektif, diharapkan sektor pertanian jagung di NTB dapat kembali pulih dan berkembang secara berkelanjutan.
Bagikan ke:
