Pentingnya Pengelolaan Narasi Sejarah Bung Karno di Jombang
Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto, menyoroti pentingnya pengelolaan narasi sejarah mengenai kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang. Ia menilai bahwa narasi tersebut merupakan aset besar daerah yang memiliki potensi untuk memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat serta meningkatkan pendapatan daerah.
“Dengan narasi sejarah yang ada, seharusnya ini menjadi komitmen kuat Pemkab Jombang. Tidak cukup hanya menjadi perspektif, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata,” ujarnya.
Berdasarkan kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang serta penelusuran para sejarawan, Bung Karno diyakini lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902. Hal ini didukung oleh sejumlah data tertulis maupun cerita tutur yang berkembang di masyarakat.
“Seharusnya ini menjadi kebanggaan besar bagi Jombang. Bung Karno adalah proklamator sekaligus presiden pertama RI, dan diyakini lahir di wilayah kita,” tegas Cak Arif.
Langkah Konkret yang Dapat Dilakukan
Cak Arif menyarankan beberapa langkah konkret yang dapat segera dilakukan oleh Pemkab Jombang. Salah satunya adalah menetapkan situs kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya peringkat kabupaten. Selain itu, upaya pelestarian dan pemanfaatan yang terencana juga perlu dilakukan.
Ia juga menyebutkan bahwa bekas rumah kelahiran Bung Karno di Ploso hingga kini masih berstatus milik pribadi. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kalau memang masih milik pribadi, ini harus mulai dipikirkan. Bila perlu, dibeli Pemkab Jombang. Ini jejak orang penting bangsa, sudah semestinya diperlakukan secara istimewa,” ujarnya.
Pengembangan Wisata Sejarah
Lebih jauh, Cak Arif menekankan pentingnya rekonstruksi rumah kelahiran Bung Karno, penataan lingkungan sekitar, hingga pengembangan UMKM lokal sebagai bagian dari destinasi wisata sejarah.
Sebelumnya, budayawan Jombang, Nasrul Ilah, juga menyatakan bahwa narasi Bung Karno lahir di Jombang merupakan kebanggaan tersendiri bagi daerah.
“Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, Bung Karno lahir di Jombang,” kata pria yang akrab disapa Cak Nas itu, yang juga merupakan adik kandung budayawan Emha Ainun Najib.
Ia berharap, jika nantinya Situs Kelahiran Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso resmi ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten, pemerintah dapat segera melakukan pemugaran.
“Ketika dikembangkan menjadi destinasi wisata warisan sejarah, nilai-nilai kebangsaan yang dicetuskan Bung Karno harus diajarkan dan dihidupkan di lokasi itu,” tuturnya.
Peran Masyarakat dan Pemerintah
Peran masyarakat dan pemerintah sangat penting dalam menjaga dan melestarikan situs sejarah Bung Karno. Dengan adanya inisiatif dari pihak-pihak terkait, potensi wisata sejarah ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Pemetaan dan identifikasi lokasi-lokasi penting terkait Bung Karno
- Pengembangan infrastruktur wisata yang mendukung keberadaan situs sejarah
- Pelibatan masyarakat setempat dalam pengelolaan dan promosi wisata
- Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya
Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan kalangan akademisi, narasi sejarah Bung Karno di Jombang dapat menjadi salah satu ikon yang membanggakan dan memberikan manfaat nyata bagi daerah.
Bagikan ke:
