Anggota Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer pejuang Hamas di Gaza. Sumber: Foto by Omar al-Qattaa/AFP.
Internasional, Adikarto, – Media kenamaan Amerika Serikat, New York Times, mengungkap dokumen rahasia berisi draf rencana Amerika Serikat untuk melucuti senjata kelompok perlawanan Palestina di Jalur Gaza. Rencana ambisius ini merupakan bagian dari peta jalan menuju stabilisasi kawasan pasca-konflik besar yang melibatkan negosiator utama bentukan Donald Trump.
Mekanisme Pelucutan Senjata Bertahap
Berdasarkan draf tersebut, tim yang dipimpin oleh Utusan Khusus AS Steve Wittkopf, bersama Jared Kushner dan mantan pejabat PBB Nikolay Mladenov, akan menyerahkan rancangan ini kepada pihak Hamas dalam waktu dekat.
Poin-poin utama dalam draf tersebut meliputi:
- Pelucutan Senjata Bertahap: Kelompok perlawanan harus menyerahkan senjata berat dan roket, namun Hamas disebut masih dimungkinkan mempertahankan sebagian senjata ringan untuk kepentingan internal tertentu.
- Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF): Pengerahan pasukan asing untuk menjaga keamanan di wilayah kantong tersebut.
- Pemerintahan Teknokrat: Penyerahan administrasi sipil Gaza kepada komite teknokrat Palestina yang non-faksi.
- Rekonstruksi Masif: Janji pembangunan kembali infrastruktur Gaza secara besar-besaran sebagai imbalan stabilitas keamanan.
Respons Hamas dan Tawaran Gencatan Senjata
Pemimpin Hamas di luar negeri, Khaled Meshaal, sebelumnya sempat memberikan sinyal diplomasi dengan menawarkan gencatan senjata jangka panjang (5–10 tahun). Dalam tawaran tersebut, Hamas menjamin senjata mereka tidak akan digunakan atau dipamerkan di ruang publik selama masa tenang berlaku.
Namun, draf pelucutan senjata total yang diajukan AS ini dianggap jauh lebih ekstrem dibandingkan tawaran gencatan senjata yang diajukan Meshaal, sehingga diprediksi akan menemui jalan buntu dalam proses negosiasi.
Kontroversi Jaminan Eksistensi vs Penjajahan
Rencana Washington ini memicu gelombang protes dan kontroversi luas di media sosial serta kalangan analis politik. Para aktivis kemanusiaan menilai pelucutan senjata di tengah agresi Israel yang masih berlangsung hanya akan menciptakan “gencatan senjata rapuh”.
Senjata di Gaza dianggap oleh warga setempat sebagai satu-satunya “jaminan eksistensi” menghadapi ketimpangan kekuatan militer Israel. “Melucuti senjata tanpa menghentikan pendudukan sama saja dengan membiarkan rakyat Palestina tanpa perlindungan,” tulis salah satu pengamat geopolitik di platform X.
Bagikan ke:
