
Adikarto, — Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang bergerak dinamis di pasar keuangan terus menjadi sorotan utama. Berdasarkan data terupdate Morningstar pada Selasa, 19 Mei 2026 pukul 06.23 UTC, kurs menunjukkan bahwa 1 Dolar AS setara dengan Rp17.731,20. Meskipun mata uang Garuda mengalami tekanan, pemerintah dan otoritas moneter menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kokoh dan stabil.
Presiden RI Prabowo Subianto meminta masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, tidak perlu panik menghadapi pergerakan valuta asing ini. Narasi tersebut diperkuat oleh jajaran menteri kabinet dan Bank Indonesia (BI) yang memastikan langkah-langkah mitigasi risiko fiskal dan moneter telah dihitung secara matang.
Presiden Prabowo: Rakyat di Desa Tidak Pakai Dolar
Polemik mengenai pelemahan nilai tukar rupiah bermula dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri acara peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di hadapan para pengurus koperasi dan warga setempat, Kepala Negara menyampaikan pandangannya mengenai ketahanan ekonomi masyarakat akar rumput terhadap gejolak eksternal.
“Saya yakin sekarang ada, sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, chaos. Rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo.
Presiden menambahkan bahwa gejolak mata uang asing ini tidak serta-merta mengganggu sendi-sendi kehidupan di desa selama pasokan kebutuhan pokok domestik tetap terjaga. Menurutnya, dampak penguatan dolar AS jauh lebih dirasakan oleh segmen masyarakat yang sering melakukan transaksi internasional atau bepergian ke luar negeri.
“Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” ucap Prabowo.
Menkeu Purbaya Luruskan Persepsi Publik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung merespons ramainya perbincangan publik terkait pernyataan Presiden. Berbicara di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta, Menkeu meminta masyarakat tidak menyalahartikan maksud dari ucapan Kepala Negara secara berlebihan. Purbaya menegaskan bahwa pernyataan itu harus dilihat dari ruang lingkup tempat acara tersebut berlangsung.
“Itu kan konteksnya di sana, di pedesaan, mungkin pas kalau di sana. Bukan konteks di internasional. Ini ngomongnya di koperasi desa,” kata Purbaya sebagaimana dikutip dari Liputan6.
Purbaya memastikan bahwa Presiden Prabowo sangat memahami indikator makroekonomi dan pergerakan kurs rupiah. Frasa tersebut sengaja dilontarkan sebagai bentuk dorongan moral psikologis bagi masyarakat pedesaan agar tetap optimistis.
“Itu orang-orang desa pada waktu kemarin. Jadi jangan anggap Pak Presiden nggak ngerti. Pak Presiden mengerti betul tentang rupiah. Cuman konteksnya di sana waktu kemarin,” ujarnya menambahkan.
Menkeu juga menambahkan penjelasan serupa di Istana Kepresidenan yang menegaskan kompetensi literasi keuangan Presiden. Laporan komprehensif dari CNN Indonesia menguraikan pernyataan Purbaya bahwa ucapan tersebut ditujukan untuk menjaga ketenangan di masyarakat.
“Untuk menghibur rakyat saja, waktu itu di sana. Saya sih lihat konteksnya pedesaan waktu kemarin itu. Gak apa-apa ngomong begitu,” urai Purbaya yang juga dimuat dalam pemberitaan CNBC Indonesia.
Mengenai ekspresi wajahnya yang sempat disorot oleh Presiden, Purbaya menuturkan bahwa sikap rileks tersebut mencerminkan optimisme pemerintah atas daya tahan ekonomi nasional. “Kalau saya senyum ekonominya bagus, rupiahnya juga bagus. Makanya saya senyum terus,” selorohnya.
Momen Santai Pertanyaan Kurs Dolar di Halim Perdanakusuma
Sebelum pelaksanaan rapat kerja lanjutan, interaksi menarik mengenai perkembangan valuta asing sempat terjadi antara Presiden Prabowo dan Menkeu Purbaya di Pangkalan TNI AU Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Peristiwa itu berlangsung seusai acara resmi penyerahan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) dan persenjataan mutakhir kepada jajaran TNI.
Ketika hendak berpamitan dan menyalami satu per satu pejabat yang hadir, termasuk Menteri Luar Negeri Sugiono, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menko Polkam Djamari Chaniago, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Prabowo sempat melempar pertanyaan singkat kepada Menkeu sembari mencairkan suasana.
“Dolar gimana?” tanya Prabowo.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang mendampingi Presiden langsung menyahut dengan menginfokan rencana ibadah Menkeu dalam waktu dekat. “Mau naik haji ini, Pak,” kata Sjafrie. Respons tersebut langsung disambut hangat oleh Presiden: “Mau naik haji?”. Detail dialog informal di area landasan udara ini terekam dalam pemberitaan detikNews.
Menanggapi pertanyaan para jurnalis pasca-momen di Halim tersebut, Purbaya menekankan bahwa otoritas penuh atas pengendalian nilai tukar mata uang berada di bawah kendali bank sentral, sementara Kementerian Keuangan berfokus penuh menjaga ketahanan fundamental sektor riil dan fiskal.
“Oh itu dolar kan bagian bank sentral kan, kita ngomong fondasi ekonomi saja bagus, itu saja,” tegas Purbaya sebagaimana dilansir dari Kompas.com. Keterangan mengenai pembagian wilayah kerja antara stabilitas moneter dan fiskal ini juga dikonfirmasi melalui kanal pemberitaan detikFinance.
Hasil Rapat Terbatas Istana, Fiskal Aman dan Fokus Target Kredit Mikro
Usai kegiatan di Halim, Presiden Prabowo memimpin rapat terbatas (ratas) yang berlangsung selama kurang lebih dua jam di Istana Negara. Pertemuan strategis tersebut dihadiri oleh jajaran menteri ekonomi, antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Dalam ratas tersebut, fokus utama pembahasan dialokasikan pada kondisi makro ekonomi, penyerapan anggaran negara, serta perluasan akses pembiayaan rakyat. Purbaya mengungkapkan bahwa isu fluktuasi rupiah secara spesifik justru tidak dibahas dalam forum tersebut karena fokus diarahkan pada kesehatan APBN dan stimulus ekonomi.
“Ditanya bagaimana kondisi ekonomi, bagus, anggaran juga bagus, enggak ada masalah. Pondasi ekonomi betul-betul bagus,” jelas Purbaya yang dihimpun oleh CNBC Indonesia.
Sebagai langkah konkret dari hasil ratas, Presiden memberi instruksi tegas untuk memperkuat ketahanan ekonomi usaha kecil dengan menurunkan suku bunga kredit mikro hingga di bawah level 9 persen. Di sisi lain, Kemenkeu telah melakukan kalkulasi ulang terhadap seluruh asumsi APBN guna memastikan dampak pergerakan nilai tukar terhadap komoditas impor, seperti energi, tetap berada dalam batas aman yang dapat ditoleransi.
Ketahanan Pangan Nasional dan Swasembada di Tengah Krisis Geopolitik
Presiden Prabowo Subianto menyatakan rasa syukurnya karena di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ancaman krisis energi di berbagai belahan dunia, ketahanan domestik Indonesia masih berada dalam posisi yang solid. Keberhasilan program swasembada pangan membuat Indonesia terhindar dari ketergantungan impor yang rentan terhadap fluktuasi kurs.
“Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” tegas Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden memaparkan bahwa Indonesia saat ini justru berada pada posisi strategis yang mampu menyalurkan bantuan komoditas ke negara-negara lain yang sedang mengalami kelangkaan pangan maupun bahan baku industri pertanian. Berdasarkan laporan berkala dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, sejumlah negara secara resmi telah mengajukan permintaan pasokan dari Indonesia.
“Kita tidak euforia, tidak sombong, tapi kita sekarang berada di pihak yang bisa memberi bantuan. Australia minta tolong kita, kita jual ke Australia 500 ribu ton urea,” urai Presiden.
Selain komoditas pupuk urea ke Australia, negara-negara lain seperti Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil juga mengantre untuk mendapatkan pasokan serupa. Terhadap seluruh permohonan tersebut, Presiden memberikan mandat penuh: “Perintah saya, bantu semua”.
Tidak hanya pada sektor pupuk, penguatan sektor pertanian juga memicu surplus pada komoditas beras, di mana banyak negara mulai mengajukan permintaan pembelian ke Indonesia. “Juga banyak negara sekarang mau beli beras dari kita. Bayangkan kalau kita tidak swasembada, kalau kita tidak buru-buru beresin masalah pertanian,” imbuh Prabowo.
Bank Indonesia Jamin Volatilitas Rupiah Tetap Terkendali
Dari sisi otoritas moneter, Bank Indonesia terus melakukan pengawasan ketat terhadap pergerakan nilai tukar. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memastikan bahwa fluktuasi yang terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih mencerminkan kondisi yang stabil dan terukur, meskipun sempat menyentuh level psikologis Rp17.660 per dolar AS sebelum bergerak ke posisi saat ini.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Perry memberikan penjelasan bahwa indikator utama yang digunakan oleh bank sentral dalam menilai kesehatan mata uang bukanlah angka nominal mutlak di pasar, melainkan tingkat volatilitas atau deviasi pergerakannya dalam kurun waktu tertentu.
“Kami cek secara year to date sampai sekarang volatilitasnya sekitar 5,4%, yang sebenarnya masih stabil,” urai Perry.
Bank Indonesia menegaskan tidak menetapkan target patokan angka tertentu untuk nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Prioritas utama instrumen moneter bank sentral diarahkan untuk meredam gejolak berlebih akibat sentimen eksternal serta menjaga kepercayaan para pelaku pasar dan investor global terhadap ekosistem keuangan domestik.
“Stabilitas nilai tukar rupiah bukan tingkat nilai tukar rupiah kita bicara stabilitas, bukan level,” terang Perry.
Strategi intervensi dan stabilisasi moneter yang dijalankan oleh BI didasarkan pada perhitungan rata-rata pergerakan berkala untuk meminimalkan dampak kejutan pasar. “Nah yang kami dekati sekarang adalah yang kita sebut stabilitas, itulah volatilitas nilai tukar yang averagenya 20 hari,” tutupnya.

Seorang pengamat independen yang mendedikasikan diri untuk mengelola gagasan, menjaga kedaulatan narasi, dan mengawal arah diskursus literasi yang utuh, dialektis, dan objektif.







