Adikarto.com.CO.ID-JAKARTA.
Pergerakan saham bank pelat merah atau Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA) pada perdagangan awal pekan ini menunjukkan fluktuasi yang signifikan, mengingat tekanan besar yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pembukaan perdagangan. IHSG dibuka dengan penurunan sebesar 0,84% ke level 8.259,25 dan akhirnya turun lebih dalam hingga 4,88% ke level 7.922,73 pada penutupan perdagangan. Hal ini langsung berdampak pada sektor perbankan, khususnya saham-saham bank BUMN yang selama ini menjadi tulang punggung likuiditas pasar.
Beberapa saham bank BUMN mengalami penurunan harga, meskipun ada juga yang sedikit menguat. Misalnya, saham PT Bank Tabungan Negara (BBTN) melemah sebesar 0,81% ke level Rp 1.220 per saham. Pada awal perdagangan, saham ini sempat mencapai level Rp 1.250, namun dalam seminggu terakhir, saham tersebut turun sebesar 0,81%.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (BMRI) ditutup turun 0,41% ke level Rp 4.800 per saham. Pada pembukaan perdagangan, saham ini sempat naik ke level Rp 4.900, tetapi dalam sepekan terakhir mengalami penurunan sebesar 2,24%.
Berbeda dengan kinerja saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), yang ditutup menguat sebesar 0,52% ke level Rp 3.830 per saham. Meskipun sempat melemah hingga Rp 3.750, saham ini kembali bangkit pada penutupan perdagangan. Namun, secara keseluruhan, saham BBRI turun 0,52% dalam seminggu terakhir.
Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menguat sebesar 0,22% ke level Rp 4.500 per saham. Meski demikian, jika dilihat dari pergerakan selama seminggu terakhir, saham BBNI mengalami penurunan sebesar 0,66%.
Menurut Achmad Yaki, Head of Online Trading BCA Sekuritas, prospek saham bank pelat merah masih cukup baik meskipun pasar sedang dalam fase koreksi. Ia menjelaskan bahwa tekanan eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, suku bunga acuan yang stabil di level 4,75%, serta inflasi yang masih relatif tinggi memang membayangi pergerakan pasar saham secara keseluruhan.
“Namun secara fundamental, perbankan BUMN masih didukung oleh skala bisnis besar, permodalan yang kuat, serta peran strategis dalam mendukung perekonomian nasional,” ujarnya kepada Adikarto.com.co.id, Senin (2/2).
Terkait isu potensi dukungan likuiditas melalui Danantara, Yaki menyebutkan bahwa hingga saat ini, bank-bank HIMBARA belum menerima kucuran dana langsung di pasar modal. “Untuk sementara, baru sebatas alokasi Dana SAL. Namun apabila ke depan bank-bank HIMBARA benar-benar mendapatkan tambahan dana, tentu ini akan menjadi sentimen positif,” katanya.
Ia menilai bahwa tambahan likuiditas akan membuat ruang ekspansi perbankan semakin longgar, khususnya dalam penyaluran kredit, sehingga berpotensi memperkuat kinerja keuangan sekaligus persepsi investor terhadap saham bank BUMN.
Di tengah koreksi pasar, Yaki melihat kondisi saat ini justru membuka peluang trading bagi investor. Beberapa saham bank pelat merah dinilai sudah berada pada level harga yang menarik setelah mengalami diskon cukup dalam sejak awal tahun.
BCA Sekuritas merekomendasikan beberapa saham bank BUMN dengan strategi trading buy. Untuk BBNI, target harga dipatok di level 4.630. Sementara BBRI direkomendasikan trading buy dengan target harga 3.900. Adapun BBTN direkomendasikan trading buy dengan target harga 1.310, sedangkan BMRI diproyeksikan menuju target harga 5.075.
Bagikan ke:
