Jakarta — Pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai sekitar 5,15% pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih memiliki daya tahan di tengah tantangan global. Namun, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo DP Irhamna menilai bahwa laju pertumbuhan ini belum cukup kuat untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi tanpa adanya perbaikan struktural.
Menurut Ariyo, meskipun sektor manufaktur tetap menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pangsa sekitar 19%, kualitas pertumbuhannya masih menghadapi beberapa keterbatasan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sektor ini tetap berkembang, ruang untuk melompat lebih tinggi sangat terbatas jika masalah struktural tidak segera diperbaiki.
- Kinerja sektor manufaktur terus bergerak positif karena konsumsi rumah tangga yang tumbuh di kisaran 5% dan investasi yang stabil.
- Tanpa perbaikan menyeluruh, pertumbuhan tersebut cenderung stabil dan moderat, bukan melaju cepat seperti yang dibutuhkan untuk mendorong transformasi ekonomi.
Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah tingginya biaya logistik dan energi yang masih membebani pelaku industri. Struktur biaya produksi di Indonesia dinilai belum kompetitif dibandingkan negara-negara pesaing di kawasan, sehingga membatasi ruang ekspansi industri, khususnya untuk pasar ekspor.
Selain itu, produktivitas tenaga kerja juga menjadi tantangan besar. Ariyo menilai peningkatan keterampilan dan adopsi teknologi di tingkat industri belum merata, sehingga efisiensi produksi belum optimal.
- Tanpa lonjakan produktivitas, sulit bagi industri kita untuk bersaing hanya mengandalkan pasar domestik.
Dari sisi inovasi, masalah tidak hanya berhenti pada penelitian dan pengembangan, tetapi juga pada tahap komersialisasi. Banyak hasil riset dalam negeri belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri, sehingga belum memberi dampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah manufaktur.
Di tengah fragmentasi rantai pasok global, Indonesia juga menghadapi tekanan dari melambatnya permintaan dunia. Kondisi ini membuat peluang ekspor tidak sekuat beberapa tahun lalu, sehingga manufaktur domestik perlu mengandalkan penguatan pasar dalam negeri sekaligus peningkatan efisiensi untuk menjaga daya saing.
Untuk itu, Ariyo menilai reformasi kebijakan menjadi kunci agar sektor ini tidak hanya tumbuh secara nominal, tetapi juga semakin berkualitas. Kepastian regulasi, penyederhanaan perizinan, serta kebijakan yang konsisten dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan mendorong ekspansi industri jangka panjang.
- Dukungan pembiayaan untuk adopsi teknologi juga perlu diperluas, terutama bagi pelaku industri skala menengah.
- Modernisasi mesin dan proses produksi diyakini dapat memangkas biaya sekaligus meningkatkan kualitas produk agar lebih kompetitif di pasar global.
Ariyo menegaskan bahwa jika pembenahan struktural ini tidak dilakukan, sektor manufaktur akan tetap tumbuh, tetapi sulit benar-benar tancap gas. Menurutnya, reformasi biaya produksi dan peningkatan produktivitas menjadi prasyarat utama agar sektor manufaktur dapat berperan lebih besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Bagikan ke:
